Home / Artikel

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:55 WIB

MERENUNGI MAKNA POLITIK ALA PLATO 

Dedi Asikin - Penulis

Koransakti.co.id- Ketika di pikir pikir, setidaknya ada tiga philosofis terkemuka masa Yunani kuno. Mereka adalah Sokrates yang lahir tahun 371, Plato (329) dan Aristoteles (sekitar 449) Sebelum Masehi, Jadi ini cerita sekitar 23 abad lalu

Antara Sokrates yang lebih tua 42 tahun dan Plato, semacam ada pembagian tugas. Sokrates mengkhususkan pengkajian bidang kemanusiaan dan spiritual sedang Plato banyak melahirkan filosofi tentang politik dan kenegaraan.

Tapi yang pasti produk pikir mereka mampu menjadi acuan para cendekiawan Barat. Bahkan kemudian merambah pula kebelahan dunia bagian Timur termasuk, Indonesia.

Dalam buku Politea, Plato mengajarkan kita pengertian tentang Politik. Kata si dada lebar itu, politik adalah keinginan atau tujuan sekelompok orang yang ingin menjadi penguasa dalam sebuah negara.

Mereka mendapatkan kekuasaan itu lewat cara demokratis dengan mengikuti pemilu, atau bisa juga dengan cara dramatis lewat perebutan paksa.

Sekarang orang mengenal itu dengan sebutan, cup de’etat. Biasanya di lakukan sebuah junta militer yang berniat membangun pemerintahan otoriter.

Tapi Plato sendiri lebih merekomendasikan yang terbaik suksesi pemerintahan itu lewat demokrasi. Yang di bangun adalah pemerintahan republik hasil pemilu yang di ikuti oleh seluruh rakyat.

Soal ada sedikit kecurangan dalam pemilu itu, masih dapat di terima Artipikasi dari tujuan bersama di Indonesia mungkin identik dengan mukadimah atau pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tanah tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan bangsa dan Ikut menjaga dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial .

Tujuan itu dapat di capai melalui pembangunan secara bertahap terencana terarah dan terukur. Bahwa ketika hampir seratus tahun kita merdeka dan sudah tiga rezim ( Orla, Orba, Reformasi), kesejahteraan bersama itu belum juga terwujud, adalah sesuatu yang layak di simak dan di naungi kembali.

Ada yang salah dengan pemegang kekuasaan. Tak salah rupanya jika ada yang berpikir harus ada reformasi jilid ke dua.

Baca juga :   LAPOR WAPRES MEMBLUDAK, KETUA REMBUG EKSPONEN 66 SEMPAT PINGSAN

Harus lahir pemimpin atau penguasa yang mampu menembus situasi dan karakteristik Indonesia. Membangun sesuai jatidiri Negeri. Agro maritim. Dari desa ke kota. Petani Mukti nelayan jaya di lautan  ( jalesveva Jayamahe ) Jangan dulu membangun industri pesawat terbang apalagi afirmatif Intelegensi dengan membangun robot yang bisa mengalahkan intelektualitas manusia.

Baca juga :   ISENG ISENG LAPOR, LAPOR ISENG ISENG

Sebuah pesan moral kepada para penguasa negara adalah bahwa rakyat telah penat dan lelah menanti makna dari mukadimah UUD 1945. Bangsa yang cerdas dan kesejahteraan umum yang berkeadilan sosial.

Saya tutup tulisan ini dengan sebuah cacandran Sunda

“Teundeun di handeuleum sieun, tunda di hanjuang siang, paranti nyokot ninggalkeun.

Setiap saat kita harus selalu introspeksi.. ***

Berita ini 49 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

Purba Sangka dan Purbakala Kampanye Pilkada

Artikel

Analisis SUPER LENGKAP Patch Baru MLBB Season 38: Semua Detail Tersembunyi yang Wajib Kamu Tahu!
HALAL BIHALAL DARI PANGERAN SAMBER NYAWA SAMPAI TUKANG MARTABAK DARI INDIA

Artikel

HALAL BIHALAL DARI PANGERAN SAMBER NYAWA SAMPAI TUKANG MARTABAK DARI INDIA

Artikel

PEMBANGUNAN BAITULLAH YANG VERSIAL

Artikel

Bunga Pepaya: Manfaat, Kandungan, dan Cara Mengolahnya

Artikel

BAHLIL, MENTERI RASA PRESIDEN 

Artikel

Jisoo BLACKPINK Bintangi Drama Netflix “Boyfriend on Demand”

Artikel

SOSOK GURU UMAR BAKRI YANG MENGINSPIRASI IWAN FALS