TAIPEI, TAIWAN (KORANSAKTI) – Taiwan memberikan respons tajam terhadap parade militer akbar yang digelar Tiongkok di Beijing. Presiden Taiwan, Lai Ching-te, melontarkan kritik terselubung pada hari Rabu (3/9/2025), tepat saat parade Tiongkok berlangsung.
Lai menegaskan bahwa Taiwan tidak merayakan perdamaian dengan memamerkan kekuatan senjata. Pernyataan ini kembali menyoroti ketegangan yang terus berlanjut antara Taipei dan Beijing, yang mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya.
Kritik Terselubung dan Isu Sejarah
Melalui halaman Facebook-nya, Presiden Lai menyampaikan pesan yang kuat. Ia menulis pernyataan yang jelas ditujukan untuk menyindir parade militer di Beijing.
“Rakyat Taiwan menghargai perdamaian, dan Taiwan tidak memperingati perdamaian dengan moncong senjata,” tulis Lai.
Selain itu, ia juga menuduh Tiongkok telah memutarbalikkan fakta sejarah Perang Dunia II. Taiwan, yang secara resmi bernama Republik Tiongkok (ROC), mengklaim bahwa pemerintahlah yang berjuang bersama Sekutu untuk mengalahkan Jepang, bukan Partai Komunis Tiongkok.
“Rakyat dan militer Republik Tiongkok yang telah melakukan pengorbanan dan kontribusi yang tak terhitung jumlahnya, yang pada akhirnya mencapai kemenangan,” kata Dewan Urusan Daratan Taiwan dalam sebuah pernyataan.
Kontras Peringatan di Taipei dan Beijing
Saat Beijing memamerkan rudal hipersonik dan ribuan tentara, Taipei justru menggelar upacara yang jauh berbeda. Presiden Lai memimpin upacara peringatan yang khidmat di Kuil Pahlawan Revolusi Nasional Taipei. Upacara ini untuk menghormati mereka yang gugur berjuang demi Republik Tiongkok.
Pemerintah Taiwan sebelumnya juga telah mengimbau warganya untuk tidak menghadiri parade di Beijing. Langkah ini untuk menegaskan posisi mereka yang menolak klaim teritorial dari Tiongkok.
Definisi Fasisme
Tanpa menyebut Tiongkok secara langsung, Lai juga menulis tentang definisi fasisme. Menurutnya, fasisme mencakup nasionalisme ekstrem, kontrol ketat terhadap kebebasan berbicara, jaringan polisi rahasia, dan “pemujaan berlebihan terhadap pemimpin yang kuat.”
Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan penolakan keras Taiwan terhadap narasi sejarah dan unjuk kekuatan yang ditampilkan oleh Presiden Xi Jinping dalam parade militernya.















