Home / Geopolitik / Internasional / Konflik / Politik

Rabu, 3 September 2025 - 13:12 WIB

Sindir Parade Militer Tiongkok, Presiden Taiwan: Kami Tidak Rayakan Damai dengan Moncong Senjata

koransakti - Penulis

Presiden Taiwan Lai Ching-te (foto arsip 14 Februari 2025). Ia mengkritik parade militer Tiongkok dengan mengatakan Taiwan tidak merayakan damai dengan moncong senjata. (Sumber: REUTERS/Ann Wang)

Presiden Taiwan Lai Ching-te (foto arsip 14 Februari 2025). Ia mengkritik parade militer Tiongkok dengan mengatakan Taiwan tidak merayakan damai dengan moncong senjata. (Sumber: REUTERS/Ann Wang)

TAIPEI, TAIWAN (KORANSAKTI) – Taiwan memberikan respons tajam terhadap parade militer akbar yang digelar Tiongkok di Beijing. Presiden Taiwan, Lai Ching-te, melontarkan kritik terselubung pada hari Rabu (3/9/2025), tepat saat parade Tiongkok berlangsung.

Lai menegaskan bahwa Taiwan tidak merayakan perdamaian dengan memamerkan kekuatan senjata. Pernyataan ini kembali menyoroti ketegangan yang terus berlanjut antara Taipei dan Beijing, yang mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya.

Kritik Terselubung dan Isu Sejarah

Melalui halaman Facebook-nya, Presiden Lai menyampaikan pesan yang kuat. Ia menulis pernyataan yang jelas ditujukan untuk menyindir parade militer di Beijing.

“Rakyat Taiwan menghargai perdamaian, dan Taiwan tidak memperingati perdamaian dengan moncong senjata,” tulis Lai.

Baca juga :   Tingkatkan kerjasama Militer, Panglima TNI Terima CC Panglima Angkatan Bersenjata Jepang

Selain itu, ia juga menuduh Tiongkok telah memutarbalikkan fakta sejarah Perang Dunia II. Taiwan, yang secara resmi bernama Republik Tiongkok (ROC), mengklaim bahwa pemerintahlah yang berjuang bersama Sekutu untuk mengalahkan Jepang, bukan Partai Komunis Tiongkok.

“Rakyat dan militer Republik Tiongkok yang telah melakukan pengorbanan dan kontribusi yang tak terhitung jumlahnya, yang pada akhirnya mencapai kemenangan,” kata Dewan Urusan Daratan Taiwan dalam sebuah pernyataan.

Kontras Peringatan di Taipei dan Beijing

Saat Beijing memamerkan rudal hipersonik dan ribuan tentara, Taipei justru menggelar upacara yang jauh berbeda. Presiden Lai memimpin upacara peringatan yang khidmat di Kuil Pahlawan Revolusi Nasional Taipei. Upacara ini untuk menghormati mereka yang gugur berjuang demi Republik Tiongkok.

Baca juga :   Sebagian Barang Jarahan Kembali, Ahmad Sahroni Janji Tak Polisikan Pelaku

Pemerintah Taiwan sebelumnya juga telah mengimbau warganya untuk tidak menghadiri parade di Beijing. Langkah ini untuk menegaskan posisi mereka yang menolak klaim teritorial dari Tiongkok.

Definisi Fasisme

Tanpa menyebut Tiongkok secara langsung, Lai juga menulis tentang definisi fasisme. Menurutnya, fasisme mencakup nasionalisme ekstrem, kontrol ketat terhadap kebebasan berbicara, jaringan polisi rahasia, dan “pemujaan berlebihan terhadap pemimpin yang kuat.”

Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan penolakan keras Taiwan terhadap narasi sejarah dan unjuk kekuatan yang ditampilkan oleh Presiden Xi Jinping dalam parade militernya.

Berita ini 58 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Daerah

Bawaslu Babel Disorot: Dugaan Ketidaknetralan Komisioner dalam Pilkada

Internasional

Presiden Prabowo Lakukan Pertemuan Bilateral dengan Sekjen PBB

Hukum

Kasus Charlie Kirk: Jaksa Ungkap Tersangka Tinggalkan Surat Pengakuan

Internasional

Kejutan Liga Europa: Nottingham Forest Tumbang di Kandang, Lyon Selamatkan Poin di Spanyol

Breaking news

Di Ajang WAVES 2025 di India, Fadli Zon Sampaikan Industri Budaya

Internasional

Pidato Presiden Prabowo di Sidang Majelis Umum ke-80 PBB

Nasional

DPRD Pati Bentuk Pansus Pemakzulan Bupati Sudewo

Bisnis

Kafe & Patisserie Prancis-Indonesia Pertama di Paris Milik Nagita Slavina Resmi Dibuka