Home / Bilogi / Sains

Minggu, 31 Mei 2026 - 09:01 WIB

Tanpa Serangga, Akankah Peradaban Manusia Ikut Musnah?

koransakti - Penulis

koransakti.co.id- Banyak orang kerap memandang sebelah mata kehadiran serangga karena ukuran tubuh mereka yang mini. Padahal, alam mempekerjakan makhluk-makhluk kecil ini sebagai “pasukan sukarelawan” yang menjaga kesuburan tanah dan merawat keseimbangan bumi.

Kenyataannya, manusialah yang sangat bergantung pada serangga, bukan sebaliknya. Jika manusia lenyap, serangga akan tetap baik-baik saja. Namun, apa yang terjadi jika seluruh serangga di bumi mendadak punah?

Lautan Makhluk Tak Kasat Mata: Berapa Banyak Jumlah Mereka?

Menghitung jumlah pasti serangga di bumi bukanlah perkara mudah. Para ahli entomologi (ilmuwan yang mempelajari serangga) bahkan terus berpacu dengan waktu karena jutaan spesies baru belum sempat tercatat. Siklus hidup beberapa serangga yang sangat singkat—seperti lalat capung dewasa yang hanya hidup selama 24 jam—kian mempersulit sensus satwa ini.

Meski begitu, Entomological Society of America (ESA) memperkirakan ada lebih dari 10 kuintiliun ekor serangga yang hidup di bumi pada satu waktu. Angka ini mencakup hampir 80% dari total seluruh spesies makhluk hidup di planet kita. Hebatnya lagi, nenek moyang mereka sudah menguasai bumi sejak 350 juta tahun lalu, jauh sebelum dinosaurus pertama muncul.

Lima Jasa Besar Serangga untuk Kehidupan Kita

Populasi yang masif ini membawa dampak yang luar biasa bagi kelangsungan hidup manusia. Berikut adalah beberapa peran krusial yang mereka lakukan setiap hari:

  • Sang Penyerbuk Ulung: Lebah madu dan serangga penyerbuk lainnya bertanggung jawab atas 80% proses penyerbukan tanaman di berbagai belahan dunia. Tanpa bantuan mereka, pasokan buah, sayur, dan kacang-kacangan akan merosot tajam.

  • Pabrik Bahan Alami: Manusia memanfaatkan berbagai produk bernilai tinggi dari serangga, mulai dari madu yang lezat, lilin lebah untuk kosmetik, hingga kain sutra mewah yang berasal dari kepompong ulat sutra.

  • Pestisida Alami Bumi: Serangga predator membantu petani mengendalikan hama tanaman secara biologis. Mereka memangsa organisme perusak sehingga penggunaan racun kimia berbahaya bisa dikurangi.

  • Petugas Kebersihan Ekosistem: Berbagai jenis kumbang dan larva mempercepat pembusukan bangkai, kotoran hewan, dan dedaunan kering. Proses ini mengembalikan nutrisi penting ke dalam tanah agar tetap subur.

  • Solusi Polusi Masa Depan: Penelitian terbaru menemukan bahwa larva kumbang gelap dari Asia Timur mampu memakan dan mengurai plastik jenis polistirena pada tingkat molekuler.

Akankah Kita Selamat Jika Mereka Punah?

Jawabannya singkat: Tidak.

Tanpa serangga, rantai makanan global akan runtuh seketika. Burung, amfibi, dan mamalia kecil kehilangan sumber pangan utama mereka. Dampaknya akan merembet ke manusia berupa krisis pangan yang parah akibat gagal panen massal.

Selain itu, lebih dari 150 spesies tumbuhan mengandalkan semut untuk menyebarkan biji-bijian mereka ke tempat baru. Tanpa kehadiran penyerbuk dan pengurai, hutan akan mati secara perlahan, tanah menjadi tandus, dan tumpukan limbah organik akan mencemari lingkungan.

Sayangnya, aktivitas manusia seperti perluasan lahan, penggunaan pestisida berlebih, dan perubahan iklim justru sedang menggiring serangga menuju jurang kepunahan.

Langkah Nyata Menyelamatkan “Pahlawan Kecil” Bumi

Kita belum terlambat untuk memutarbalikkan keadaan. Anda bisa berkontribusi menyelamatkan populasi serangga melalui aksi-aksi sederhana berikut:

1. Sulap Halaman Rumah Menjadi Oasis Alami

Kurangi porsi halaman rumput monoton dan gantilah dengan tanaman bunga lokal. Mengubah 10% saja area halaman Anda menjadi taman liar yang minim gangguan dapat menyediakan rumah yang aman bagi ratusan jenis serangga.

2. Prioritaskan Tanaman Asli Daerah (Native Plants)

Serangga lokal memiliki ikatan evolusi selama jutaan tahun dengan tanaman asli daerah tersebut. Menanam bunga atau tumbuhan lokal akan menyediakan sumber makanan dan tempat bersarang yang jauh lebih ideal daripada tanaman hias impor.

3. Pangkas Penggunaan Kimia Berbahaya

Batasi atau hentikan pemakaian pestisida dan herbisida kimia di sekitar rumah. Langkah ini memberikan kesempatan bagi serangga ramah lingkungan untuk berkembang biak dan menjaga keseimbangan ekosistem taman Anda.

4. Matikan Lampu Luar Ruangan yang Tidak Perlu

Polusi cahaya malam hari mengecoh sensor navigasi serangga nokturnal seperti ngengat dan kunang-kunang. Akibatnya, mereka mati kelelahan atau gagal menemukan pasangan untuk bereproduksi. Gunakan lampu sensor gerak atau ganti dengan bohlam berwarna kuning/merah yang lebih ramah bagi mata serangga.

Menjaga kelestarian serangga sama saja dengan mengamankan masa depan kita sendiri. Lindungi mereka, karena bumi yang sehat berawal dari kepedulian kita pada makhluk yang paling kecil sekalipun.

Apakah Anda tertarik untuk mulai menanam bunga lokal di halaman rumah demi mengundang para penyerbuk alami ini?

Berita ini 7 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Edukasi

Rahasia Sains: Mengapa Apel Bisa Mengapung dan Anggur Justru Tenggelam?
Kenapa Otot Terasa "Terbakar" Saat Lari Kencang? Kenalan dengan Asam Laktat (C3H6O3) dan Hutang Oksigen

Artikel

Kenapa Otot Terasa “Terbakar” Saat Lari Kencang? Kenalan dengan Asam Laktat (C3H6O3) dan Hutang Oksigen
Pojok Sains: Kenapa Kita Mabuk Perjalanan Saat Main HP di Mobil? (Konflik Mata vs Telinga)

Artikel

Pojok Sains: Kenapa Kita Mabuk Perjalanan Saat Main HP di Mobil? (Konflik Mata vs Telinga)
Pojok Kimia: Si Manis yang Mematikan, Bedah Rumus Kimia Gula Pasir (C12H22O11) dan Efek "Sugar Rush"

Artikel

Si Manis yang Mematikan, Bedah Rumus Kimia Gula Pasir (C12H22O11) dan Efek “Sugar Rush”
Sering Salah Kaprah! Langit Berwarna Biru Bukan Karena Pantulan Air Laut, Tapi Karena Fenomena Fisika "Hamburan Rayleigh". Ini Penjelasannya!

Artikel

Sering Salah Kaprah! Langit Berwarna Biru Bukan Karena Pantulan Air Laut, Tapi Karena Fenomena Fisika “Hamburan Rayleigh”. Ini Penjelasannya!
Pojok Sains: Kenapa Lagu Natal (atau TikTok) Terus Terngiang di Kepala? Misteri Fenomena "Earworms" Terpecahkan!

Fakta Unik

Sains: Kenapa Lagu Natal (atau TikTok) Terus Terngiang di Kepala? Misteri Fenomena “Earworms” Terpecahkan!

Internasional

Update COVID-19 Global: Kasus Turun, tapi Angka Rawat Inap dan Varian XFG Meningkat
Pojok Sains: Kenapa Jari Jadi Keriput Setelah Mandi Lama? Ternyata Bukan Karena 'Masuk Angin'!

Fakta Unik

Pojok Sains: Kenapa Jari Jadi Keriput Setelah Mandi Lama? Ternyata Bukan Karena ‘Masuk Angin’!
error: Content is protected !!