koransakti.co.id – Siapa yang tidak suka manis? Mulai dari teh manis, kue, hingga permen, semuanya butuh gula.
Di edisi Pojok Kimia Jumat ini, kita akan membedah Gula Pasir. Benda putih ini sering di tuduh sebagai penyebab diabetes, tapi di sisi lain, dia adalah sumber energi instan bagi otak.
Mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi di level molekul.
1. Bedah Rumus: C12H22O11
Gula pasir yang ada di dapur Anda nama ilmiahnya adalah Sukrosa. Rumus kimianya: C12H22O11
Ini adalah gabungan dari dua molekul sederhana:
Glukosa: (Gula darah/Energi).
Fruktosa: (Gula buah).
Saat Anda makan gula, tubuh akan memecah ikatan kimia C12H22O11 ini.
Glukosa langsung lari ke darah sebagai tenaga.
Fruktosa lari ke hati (liver) untuk di proses. Inilah kenapa makan gula bikin langsung “melek” (Sugar Rush), tapi kalau kebanyakan, hati Anda yang akan kewalahan.
2. Kenapa Gula Bikin Ketagihan?
Pernahkah Anda merasa craving (nagih) ingin makan yang manis-manis? Secara kimia, Gula memicu pelepasan hormon Dopamin di otak.
Reaksinya mirip dengan efek zat adiktif. Otak merekam rasa manis sebagai “Hadiah”. “Bos, zat C12H22O11 ini enak. Cari lagi dong!” kata otak Anda. Itulah sebabnya berhenti makan gula seringkali lebih susah daripada berhenti makan nasi.
3. Keajaiban Karamelisasi
Coba panaskan gula di atas sendok. Apa yang terjadi? Gula yang tadinya putih akan meleleh, lalu berubah warna menjadi cokelat emas dan wangi.
Ini di sebut proses Karamelisasi. Pada suhu sekitar 170°C, molekul gula pecah.
Unsur Hidrogen (H) dan Oksigen (O) menguap sebagai air.
Yang tersisa dominan unsur Karbon (C). Warna cokelat pada karamel itu sebenarnya adalah Karbon! Kalau di panaskan terus, dia akan jadi hitam (gosong) alias Karbon murni (arang).
4. Gula vs Pemanis Buatan
Banyak orang diet mengganti gula dengan pemanis nol kalori (seperti Aspartam atau Stevia). Secara kimia, lidah kita memang bisa di tipu. Tapi otak kita TIDAK.
Otak tetap menunggu asupan energi (Glukosa) yang di janjikan oleh rasa manis itu. Saat energinya tidak datang (karena nol kalori), otak malah mengirim sinyal LAPAR yang lebih hebat. Akibatnya? Anda malah makan gorengan lebih banyak setelah minum soda diet.
Kesimpulan
Gula (Sukrosa) adalah teman yang asyik tapi berbahaya. Dia memberi energi instan dan rasa bahagia lewat Dopamin, tapi “tagihannya” mahal di masa depan (Diabetes). Nikmati manisnya hidup secukupnya saja, ya!
Baca juga: Kenapa Air Kelapa Disebut “Isotonik Alami”? Bedah Kandungan Ionnya yang Mirip Darah Manusia!















