Oleh: DEDAS
Koransakti.co.id- Pemerintah kolonial Belanda di Nedderland kelimpungan. Dahi raja Willem III makin lebar saja meski rambut belakangnya tetap hitam dan lebat.
Salah satu soalnya, perang Diponegoro (1825-1830) telah menguras segala energi, mulai uang sampai pasukan. Perang Jawa itu telah menghabiskan dana sebesar 20 juta gulden. Kalau di ukur dengan rupiah sekarang sekitar 2000 trilyun (rupiah).
Korban manusia mencapai 15.000 orang, 8.000 tentara mancung dan 7.000 pasukan Jawa.
Yang membuat dahi raja Willem III tambah berkerut adalah saat itu juga sedang berlangsung gerakan PAN ISLAMISME, yaitu gerakan islamisasi seluruh dunia yang di rancang dari Arab Saudi. Raja Willem terpaksa minta bantuan rektor universitas Leiden mencari jalan keluar alias way out.
Rektor kemudian menyodorkan doktor Christian Snouck Hurgronje Dia itu (lahir 8 Februari 1857 di Austerhout Belanda), dia adalah dosen ilmu Islam dan bahasa Arab.
Dia di pandang cocok mengingat perang di tanah jajahan (Hindia Belanda) di picu kaum muslim dengan tokoh sentral kiyai dan santri.
Maka, awalnya Snouck di angkat menjadi penasihat raja urusan tanah jajahan .
Tapi karena terjadi kesulitan dalam pelaksanaan maka Snouck sendiri yang berangkat ke Hindia Belanda (Indonesia).
Awal 1889 ia sampai di Jeddah Arab Saudi. Di sana menyatakan masuk Islam dan mengganti nama menjadi Abdul Gaffar.
Tapi itu mualaf strategi doang. Dalam surat kepada seorang sahabatnya mengaku masuk Islam supaya bisa merusak dari dalam. Dengan memperalat dan memahami hukum Islam dia mudah bertemu dan bergaul dengan beberapa orang ulama Nusantara yang sedang mukim di sana. Misalnya Syeikh Nawawi al-Bantani dari Banten, Abubakar Jayadingrat dari Pandeglang, Hasan, Mustofa dari Garut dan Mh Thaib dari Ciamis.
Selama hampir setahun di Arab dan sempat menikah dengan perempuan Arab dan Jeddah, Snouck meneruskan petualangannya dan sampai di Betawi akhir 1889.
Ia langsung ke Ciamis menemui Mh Thaib yang sudah menjabat Khalifah di kabupaten Ciamis.
Sebagai mualaf yang ahli dalam Agama Islam tentu Mh Thaib me nerima dengan tangan terbuka. Bahkan kemudian menjadi mantunya setelah menikah dengan putri Mh Thaib bernama Sangkana dan memperoleh 5 anak.
Snouck meneruskan misi penyusupannya dengan mendatangi kiyai kiyai di berbagai pondok pesantren di Jawa Barat khususnya di Priangan Timur.
Ia menyebarkan paham sekuler yaitu pemisahan antara agama dan negara. Para kiai dan ustad boleh mengajarkan agama tapi jangan mengganggu negara yang mengurus negara dan pemerintahan. Paham ini bertentangan dengan paham Sunni dan ahli Sunnah wal jamaa yang sudah tumbuh di Nusantara dengan menganut madzhab I Syafi’i.
Untuk sementara para kiyai menerima paham Snouck. Pertama kerena yang menyampaikan mualaf ahli hukum Islam dan jago bahasa Arab, sementara para kiyai yang berada di kampung kampung belum terlalu paham baik ilmu tentang Islam masuk pun belum fasih bercakap bahasa Arab.
Tetapi seiring berjalannya waktu di mana ketika mulai tumbuh paham kebangsaan dan perjuangan untuk kemerdekaan, maka paham sekuler ala Doktor Christian Snouck Hurgronje itu mulai di soal dan di tentang .
Sementara itu Snouck harus berangkat ke Aceh untuk menyelesaikan perang Aceh yang berkepanjangan. Tahun 1891 Snouck bisa nyebrang ke Aceh dan tinggal di Kutaraja.
Baca juga: BUBAT, PERANG MEMBELA MARTABAT
Tapi yang dia lakukan bukan menyelesaikan perang, justru mengadu domba antara kelompok pejuang Muslim dengan Kerajaan. Dengan demikian perang Aceh tak selesai selesai.
Pada akhirnya setelah misi baik di Jawa maupun di Sumatera di anggap gagal maka tahun 1906 dia di panggil pulang ke Nederland. Di sana dia membuktikan kebohongan mualafnya dengan kembali memeluk agama Kristen protestan
Ia meninggal di Leiden tahun 1936 setelah sempat menikah lagi dengan perempuan sesama pemeluk Kristen .**”
Baca juga: Kisah KMB: Saat Belanda Enggan Mengakui Kedaulatan Indonesia















