Home / Bencana / Internasional / Kesehatan / Sains

Minggu, 14 September 2025 - 09:43 WIB

WHO: Kematian Akibat Kolera Melonjak 50 Persen, Krisis Global Berlanjut

koransakti - Penulis

Foto: WHO / João Carlos Domingos

Foto: WHO / João Carlos Domingos

JENEWA, SWISS (KORANSAKTI) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data statistik yang mengkhawatirkan. Laporan global untuk tahun 2024 menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit kolera melonjak sebesar 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam rilis berita pada Jumat (12/9/2025), WHO menyatakan bahwa lebih dari 6.000 orang meninggal akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati ini. WHO menilai risiko global dari wabah kolera saat ini berada pada level “sangat tinggi” dan krisis ini terus berlanjut hingga tahun 2025.

 

Angka Kematian Melonjak Tajam

Data statistik WHO untuk tahun 2024 menunjukkan tren yang suram. Meskipun jumlah kasus yang dilaporkan naik 5 persen, jumlah kematian meroket hingga 50 persen. Angka-angka ini pun diyakini masih lebih rendah dari kenyataan di lapangan.

Baca juga :   Wako Alfin Dukung IDI Tingkatkan Layanan Kesehatan

Sebanyak 60 negara melaporkan kasus kolera pada tahun 2024, meningkat dari 45 negara pada tahun 2023. Beban penyakit ini terkonsentrasi di Afrika, Timur Tengah, dan Asia, yang secara kolektif menyumbang 98% dari semua kasus yang dilaporkan.

 

Pemicu Krisis: Konflik, Iklim, dan Sanitasi Buruk

WHO mengidentifikasi beberapa faktor utama yang terus memicu penyebaran wabah kolera di seluruh dunia. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  • Konflik dan pengungsian massal.
  • Perubahan iklim.
  • Kekurangan infrastruktur air bersih, sanitasi, dan kebersihan (WASH) yang sudah berlangsung lama.

Kondisi-kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri Vibrio cholerae untuk menyebar dengan cepat melalui air yang terkontaminasi.

 

Kesenjangan Perawatan dan Darurat Vaksin

Laporan ini juga menyoroti adanya kesenjangan kritis dalam penanganan pasien. Rasio kematian kasus (case fatality ratio) di Afrika meningkat menjadi 1,9% pada tahun 2024. Hal ini menandakan rapuhnya sistem kesehatan dan sulitnya akses ke layanan dasar.

Baca juga :   Mengenal Diabetes (Kencing Manis): Si 'Induk Penyakit' yang Sering Tak Terdeteksi (Cek Gejala 3P Disini!)

Yang lebih mengkhawatirkan, seperempat dari total kematian terjadi di tengah masyarakat, di luar fasilitas kesehatan. Ini menunjukkan adanya celah serius dalam akses pengobatan.

Di sisi lain, permintaan akan Vaksin Kolera Oral (OCV) terus melampaui pasokan. Meskipun ada vaksin baru yang telah disetujui, tingginya permintaan membuat strategi vaksinasi harus diubah dari dua dosis menjadi hanya satu dosis untuk keadaan darurat.

WHO terus mendukung negara-negara terdampak melalui penguatan surveilans, manajemen kasus, dan penyediaan pasokan medis esensial.

Berita ini 38 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Internasional

Kartu Merah Maguire dan Dua Penalti Warnai Hasil Imbang Bournemouth vs Manchester United 2-2
Kerja Tetap Fokus! Tips Jaga Imun dan Hidrasi Saat Puasa di Ruangan Ber-AC

Kesehatan

Kerja Tetap Fokus! Tips Jaga Imun dan Hidrasi Saat Puasa di Ruangan Ber-AC

Kesehatan

Dukung Program Asta Cita dan Prioritas Nasional, Kejari Bandar Lampung Lakukan Pendampingan Kepada FKTP

Budaya

5 Lokasi Ikonik di Dunia Nyata yang Wajib Dikunjungi Penggemar Anime

Internasional

Drama Adu Penalti di Sevilla: Real Sociedad Bungkam Atletico Madrid untuk Rengkuh Gelar Keempat Copa del Rey
Trump Ancam Kirim Rudal Jarak Jauh Tomahawk ke Ukraina, Moskow Bisa Jadi Target

Internasional

Trump Ancam Kirim Rudal Jarak Jauh Tomahawk ke Ukraina, Moskow Bisa Jadi Target

Bilogi

Menguak Pesona Bunga Wijaya Kusuma: Sang ‘Ratu Malam’ yang Sarat Makna

Kesehatan

Pemkot Sungai Penuh Apresiasi Akreditasi RSUD H. Bakri
error: Content is protected !!