koransakti.co.id – Dunia sains dan konservasi berduka. Dame Jane Goodall, seorang primatolog dan aktivis lingkungan legendaris yang merevolusi pemahaman kita tentang simpanse, telah meninggal dunia pada usia 91 tahun. Sepanjang hidupnya, ia menjadi kekuatan yang tenang namun gigih dalam misinya untuk melindungi hewan dan alam.
Kabar duka ini mengejutkan para ilmuwan dan peneliti di seluruh dunia yang terinspirasi oleh dedikasi dan energinya yang tak pernah padam.
Penemuan Revolusioner di Hutan Gombe
Karya Jane Goodall selamanya mengubah cara manusia memandang primata. Salah satu penemuannya yang paling menggemparkan terjadi pada tahun 1960 di cagar alam Gombe, Tanzania.
Saat itu, ia mengamati seekor simpanse jantan mengambil ranting, melucuti daunnya, lalu menggunakannya sebagai alat untuk “memancing” rayap dari sarangnya. Observasi ini menghancurkan keyakinan yang telah lama dipegang bahwa hanya manusia yang mampu membuat dan menggunakan alat.
Penelitiannya di Gombe juga mengungkap bahwa simpanse memiliki kehidupan sosial yang kompleks, membentuk ikatan keluarga yang kuat, dan bahkan terlibat dalam “peperangan” untuk memperebutkan wilayah.
Hadapi Skeptisisme dengan Metode Unik
Pada awalnya, dunia ilmiah yang didominasi laki-laki memandang sinis metode Goodall. Ia tidak memiliki pelatihan ilmiah formal dan pendekatannya dianggap tidak biasa. Ia berinteraksi sangat dekat dengan hewan yang ia teliti, memberi mereka nama, dan bahkan menyebut mereka sebagai “teman-temannya”.
Namun, mentornya, Profesor Louis Leakey, justru melihat nilai dalam perspektifnya yang segar. “Dia menginginkan seseorang yang pikirannya tidak dirusak oleh sikap reduksionis dari sains terhadap hewan,” kenang Goodall dalam sebuah wawancara.
Dari Peneliti Menjadi Aktivis Global
Pada akhirnya, Jane Goodall mengalihkan fokusnya dari pengamatan simpanse secara langsung menjadi seorang aktivis global. Ia rela “menyerahkan apa yang ia cintai”—menghabiskan waktu bersama simpanse—untuk tanpa lelah berkeliling dunia menyebarkan pesan tentang pentingnya melindungi alam.
“Kita masih memiliki jendela waktu untuk memperlambat perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati,” katanya kepada BBC pada tahun 2024. “Tapi ini adalah jendela yang sedang menutup.”
Kini, dunia kehilangan salah satu ilmuwan terhebatnya. Namun, seperti yang dikatakan oleh Profesor Cat Hobaiter, salah satu ilmuwan yang terinspirasi olehnya, “Jane akan menjadi orang pertama yang memberitahu kita bahwa yang dibutuhkan dunia saat ini bukanlah kesedihan atas kehilangannya, tetapi untuk mulai bekerja.” Warisan terbesarnya adalah inspirasi bagi kita semua untuk melanjutkan perjuangannya.














