Oleh: DEDAS
koransakti.co.id- Ada pertanyaan bernada penasaran dan itu wajar bahkan sebuah keniscayaan .
Pertanyaan itu datang pasca tulisan dengan judul ‘Menyulap Saritem menjadi Daar at Taubah.
Tulisan ini memuat hasil acara Ngalongok pondok yang di lakukan beberapa orang wartawan dari Pokja wartawan Liputan Kementerian Agama pertengahan 2025.
Secara fisik pemain pondok pesantren yang memenuhi azas struktural memang sulit untuk dibilang ada. Yang pasti tranformasi moral memang sudah terjadi
Di laporkan di belakang jalan Gardu jati sekarang bejejer kios kios penjaja kuliner dan berbagai barang kebutuhan masyarakat golongan menengah kebawah. Ada banyak diantara mereka yang berkerudung. Rupanya waktu itu ketika gerakan moral penutupan komplek lokalisasi Saritem dan pembangunan pesantren Daar at Taubah banyak WTS dengan dukungan (modal) dari Pemkot beralih profesi dari penjaja sex menjadi pedagang makanan atau barang mainan.
Kegiatan prostitusi belum hilang sama sekali. Praktek itu masih berlangsung secara diam diam dan sporadis
Tapi jumlahnya cuma sedikit. Seorang germo yang masih menyediakan rumahnya sebagai tempat gituan (ibu is) bertutur hanya ada satu dua germo dengan beberapa puluh WTS. Itupun tidak menetap. Berapa hari tinggal dan menerima tamu mereka pulang lagi. Nanti kapan kapan datang lagi. Sepertinya mereka berkomunikasi bikin janji lewat HP.
Baca juga: MENYULAP SARITEM JADI DARAT TAUBAH
Tentang perkembangam pesantren Daar at Taubah di laporkan bahwa pondok pesantren secara fisik harus dibilang tidak ada. Tapi tranformasi moral dari stigma negatif menjadi positif harus di akui adanya.
Di tengah tengah komplek Saritem dulu kini berdiri sebuah masjid berlantai tiga. Tiap jadwal sholat berkumandang suara adzan sawi atas memarnya
Dan masyarakat setempat ber bondong bondong melaksanakan shalat berjama’ah. Tiap malam Jum’at ada kegiatan ta’lim Kadang juga kajian tentang Islam
Pada bulan ramadhan ada kegiatan pesantren kilat juga pada bulan bulan yang di anggap suci seperti Maulud atau Rajab. Pengajian anak anak berlangsung setiap hari. Pendek kata gang saritem telah bertransformasi moral dari lokasi prostitusi menjadi kehidupan yang islami.
Ada tangan terbuka aa Gym :
Yang menarik adalah ada di sebut sebut nama KH Abdullah Gymnastiar
Konon kiyai sejuta umat itu masuk Saritem ketika masih jadi mahasiswa. Di sebutkan aa sudah masuk Saritem sejak tahun 1994. Jadi sebelum gerakan moral ala KH Imam Sonhaji dan walikota Aa Tarmana (tahun 2000) menutup Saritem dan deklarasikan berdirinya pesantren Daar at Taubah.
Aa gym membawa Darut Tauhid dengan Manajemen Qolbunya. Lalu juga mendirikan yayasan Darut Taubah berada dalam kendali Darut tauhid/MQ.
Lalu di peroleh info bahwa masjid tiga lantai juga di bangun Aa Gym dengan dana dari donasi jemaah Darut Tauhid.
Wallahu alam
Yang patut di syukuri adalah bahwa telah terjadi tranformasi moral di gang Saritem. Setelah lebih dari satu abad mendapat stigma negatif kini mulai berangsur positif. Dan itu semua lahir bersama hidayah dari Allah.
Berhasilnya sesuatu usaha tergantung bagaimana manusia berusaha sendiri merubahnya. Ingat QS surat Ar Rad ayat 11. Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum, kecuali mereka sendiri berusaha merubahnya. Sedikit demi sedikit lama lama mencapai bukit.
Insyaallah















