Home / Artikel / Budaya / Daerah / Kerinci / Pendidikan

Senin, 8 September 2025 - 20:52 WIB

Mengenal Aksara Incung, Aksara Kuno Kerinci yang Hampir Terlupakan

koransakti - Penulis

Tabel Akrasa Incung dari catatan Marsden pada 1834(Ridwan Maulana/Buu Aksara-aksara di Nusantara: Seri Ensiklopedia tahun 2020)

Tabel Akrasa Incung dari catatan Marsden pada 1834(Ridwan Maulana/Buu Aksara-aksara di Nusantara: Seri Ensiklopedia tahun 2020)

SUNGAI PENUH (KORANSAKTI) – Selain kekayaan alamnya yang memukau, Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh juga menyimpan harta karun peradaban yang tak ternilai. Salah satu yang paling berharga adalah Aksara Incung, sebuah sistem tulisan kuno asli Suku Kerinci.

Aksara ini menjadi bukti tingginya peradaban masyarakat Kerinci di masa lampau. Namun, di tengah gempuran modernisasi, warisan budaya tak benda ini kini menghadapi ancaman kepunahan dan nyaris terlupakan.

Jejak Peradaban di Atas Bambu dan Tanduk

Aksara Incung adalah jenis aksara silabik. Artinya, setiap karakter mewakili satu suku kata. Aksara ini merupakan bagian dari rumpun aksara Rencong yang pernah berkembang di beberapa wilayah di Sumatera.

Pada zaman dahulu, para leluhur Suku Kerinci menggunakan aksara ini untuk menulis di berbagai media alami. Media yang paling umum digunakan adalah:

  • Bilah bambu.
  • Tanduk kerbau.
  • Kulit kayu.
Baca juga :   KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK BARU SETENGAH PINTU

Isi dari naskah-naskah kuno ini pun sangat beragam. Kebanyakan berisi tentang mantra-mantra, aturan adat, hingga pantun dan syair-syair kuno yang menggambarkan kehidupan masyarakat saat itu.

Terancam Punah Ditelan Zaman

Sayangnya, penggunaan Aksara Incung tidak lagi masif seperti dulu. Aksara ini sudah tidak digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kini, hanya segelintir orang yang masih mampu membaca dan menulisnya dengan fasih. Kebanyakan dari mereka adalah para tetua adat atau budayawan.

Jika tidak ada upaya regenerasi, aksara yang menjadi salah satu pilar identitas Suku Kerinci ini terancam akan benar-benar punah. Generasi muda akan kehilangan jejak penting dari sejarah dan kearifan lokal leluhur mereka.

Baca juga :   Satgas Yonif 144/JY Rayakan Idul Fitri Bersama Warga Perbatasan

Upaya Pelestarian: Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur

Di tengah kekhawatiran tersebut, secercah harapan muncul dari berbagai pihak. Sejumlah komunitas budaya, pemerhati sejarah, dan pemerintah daerah di Kerinci dan Sungai Penuh mulai bergerak. Mereka berupaya menghidupkan kembali Aksara Incung.

Beberapa upaya pelestarian yang dilakukan antara lain:

  • Lokakarya dan Pelatihan: Mengadakan workshop menulis dan membaca Aksara Incung untuk generasi muda dan masyarakat umum.
  • Muatan Lokal: Memasukkan Aksara Incung sebagai mata pelajaran muatan lokal di beberapa sekolah.
  • Digitalisasi: Mengubah naskah-naskah kuno ke dalam bentuk digital agar lebih mudah diakses dan dipelajari.

Mempelajari Aksara Incung adalah cara kita merawat akar budaya dan identitas Suku Kerinci. Upaya pelestarian ini adalah tanggung jawab bersama agar warisan berharga ini tidak hilang ditelan zaman.

Berita ini 172 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

Napak Tilas Perjuangan Nabi Ibrahim AS dan Ibadah Haji

Artikel

Manfaat Daun Sirih untuk Kesehatan Alami Sehari-hari

Advetorial

Pemkot Sungai Penuh & BPK RI Perwakilan Provinsi Jambi Gelar Exit Meeting

Muaro Jambi

Polres Muaro Jambi Selesaikan Kasus Kekerasan Terhadap Siswa
Sering Salah Kaprah! Langit Berwarna Biru Bukan Karena Pantulan Air Laut, Tapi Karena Fenomena Fisika "Hamburan Rayleigh". Ini Penjelasannya!

Artikel

Sering Salah Kaprah! Langit Berwarna Biru Bukan Karena Pantulan Air Laut, Tapi Karena Fenomena Fisika “Hamburan Rayleigh”. Ini Penjelasannya!

Daerah

Produksi Pangan Terbatas, DPRD Agam Soroti Alih Fungsi Lahan hingga Nasib Petani Lokal

Advetorial

Desa Koto Tengah Salurkan BLT Tiga Bulan dan Bantuan Pendidikan untuk Pelajar

Dinamika

Senin Depan LSM Semut Merah Lanjut Gelar Aksi di Gedung Kejati Jambi