SUNGAI PENUH (KORANSAKTI) – Selain kekayaan alamnya yang memukau, Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh juga menyimpan harta karun peradaban yang tak ternilai. Salah satu yang paling berharga adalah Aksara Incung, sebuah sistem tulisan kuno asli Suku Kerinci.
Aksara ini menjadi bukti tingginya peradaban masyarakat Kerinci di masa lampau. Namun, di tengah gempuran modernisasi, warisan budaya tak benda ini kini menghadapi ancaman kepunahan dan nyaris terlupakan.
Jejak Peradaban di Atas Bambu dan Tanduk
Aksara Incung adalah jenis aksara silabik. Artinya, setiap karakter mewakili satu suku kata. Aksara ini merupakan bagian dari rumpun aksara Rencong yang pernah berkembang di beberapa wilayah di Sumatera.
Pada zaman dahulu, para leluhur Suku Kerinci menggunakan aksara ini untuk menulis di berbagai media alami. Media yang paling umum digunakan adalah:
- Bilah bambu.
- Tanduk kerbau.
- Kulit kayu.
Isi dari naskah-naskah kuno ini pun sangat beragam. Kebanyakan berisi tentang mantra-mantra, aturan adat, hingga pantun dan syair-syair kuno yang menggambarkan kehidupan masyarakat saat itu.
Terancam Punah Ditelan Zaman
Sayangnya, penggunaan Aksara Incung tidak lagi masif seperti dulu. Aksara ini sudah tidak digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kini, hanya segelintir orang yang masih mampu membaca dan menulisnya dengan fasih. Kebanyakan dari mereka adalah para tetua adat atau budayawan.
Jika tidak ada upaya regenerasi, aksara yang menjadi salah satu pilar identitas Suku Kerinci ini terancam akan benar-benar punah. Generasi muda akan kehilangan jejak penting dari sejarah dan kearifan lokal leluhur mereka.
Upaya Pelestarian: Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur
Di tengah kekhawatiran tersebut, secercah harapan muncul dari berbagai pihak. Sejumlah komunitas budaya, pemerhati sejarah, dan pemerintah daerah di Kerinci dan Sungai Penuh mulai bergerak. Mereka berupaya menghidupkan kembali Aksara Incung.
Beberapa upaya pelestarian yang dilakukan antara lain:
- Lokakarya dan Pelatihan: Mengadakan workshop menulis dan membaca Aksara Incung untuk generasi muda dan masyarakat umum.
- Muatan Lokal: Memasukkan Aksara Incung sebagai mata pelajaran muatan lokal di beberapa sekolah.
- Digitalisasi: Mengubah naskah-naskah kuno ke dalam bentuk digital agar lebih mudah diakses dan dipelajari.
Mempelajari Aksara Incung adalah cara kita merawat akar budaya dan identitas Suku Kerinci. Upaya pelestarian ini adalah tanggung jawab bersama agar warisan berharga ini tidak hilang ditelan zaman.














