Pilu Tragedi Sailan Jambi dan Kearifan Kejaksaan Tinggi
Koransakti.co.id- Mendengar dari jauh peristiwa yang terjadi di Jambi yang terpaksa di lakukan oleh Sailan: memasuki kompleks rumah dinas Kejaksaan Tinggi Jambi secara tidak sah dan tidak benar -demi untuk menebus ijazah anaknya- di sekolah swasta, membuat kita tersentak dan tercengang.
Di tengah gencarnya pendirian Sekolah Rakyat dan hiruk pikuk sekolah swasta gratis yang di biayai Pemerintah Kota. Untung saja Kejaksaan Tinggi Provinsi Jambi bersikap arif, tidak meneruskan kasus Sailan ke pihak penegak hukum lain.
Azas kemanusiaan dan keadilan benar-benar di terapkan.
Pertanyaan kita adalah mengapa kasus seperti keluarga Sailan tidak termonitor oleh pihak terkait di Kota Jambi?
Padahal ada banyak slot program yang tersedia: Ada Sekolah Swasta Gratis, Ada Sekolah Rakyat, ada program Kartu Jambi Cerdas BAZNAS, ada program Jaminan Pendidikan? Bisa jadi sekolah swasta tempat anak Sailan belajar belum termasuk dalam program?
Saat ini di perkirakan jumlah murid SD di Kota Jambi 57.710 orang dan jumlah penduduk miskin hampir 50.000.
Supaya kasus Sailan tidak terulang kita mengusulkan:
Pertama, perlu di lakukan update data peserta didik SD dan kondisi sosial ekonomi siswa secara reguler.
Kedua, perlu kerja sama dinas pendidikan dan dinas sosial untuk memonitor dan menangani tantangan proses pendidikan anak keluarga kurang mampu.
Ketiga, sekolah swasta di haruskan melaporkan kondisi siswa termasuk masalah yang di hadapi -seperti kasus keluarga Sailan- kepada dinas pendidikan dan dinas sosial untuk di carikan solusi yang tepat.
Semoga kasus keluarga Sailan tidak terulang lagi dan pendidikan anak kurang mampu di Jambi tetap berjalan dengan baik. InsyaAllah.
Penulis: 















