Home / Artikel

Rabu, 18 Desember 2024 - 18:24 WIB

PENERAPAN TEKNOLOGI PERTANIAN (MODERN) SEBUAH KENISCAYAAN NEGERI AGRO MARITIM KRISIS PANGAN MALU MALUIN 

koransakti - Penulis

Oleh : DEDI ASIKIN

Koran Sakti.co.id- Salah satu kelemahan kita dalam bidang pertanian, katanya belum diterapkan secara menyeluruh teknologi masa kini. Orang bilang teknologi modern.

Sebut saja traktor, mesin panen, mesin pipil , pemotong rumput, alat sortir, drone sprayer dll.

Jangan bilang Amerika atau China sebagai pembanding. Sebut saja Thailand dan Vietnam di Asia Tenggara. Asteng mah lembur urang keneh. Jangan lupa ,kerajaan Majapahit era Hayam Wuruk dan mahapatih Gajah Mada, pernah menguasai Brunei Darusalam, sebagian Philipina, Malaysia dan Singapur ( dulu namanya Tumasek)

Padahal mereka Thailand dan Vietnam, dulu tahun 1984, pernah berguru kepada Indonesia dalam hal swasembada beras.

Eh sekarang kita klayapan beli beras ke sana.

Padahal yang berani deklarasi sebagai negeri agro maritim, kita.

Tak ada cara, kita harus segera alih teknologi pertanian.

Tinggalkan cangkul dan garpu, lisung batu, dan kebo bajak.

Itu mah peralatan jadul, titinggal nenek moyang.

Baca juga :   Kedaulatan Negara Harga Mati: Urgensi "Adequate Budget"

Tapi sesungguhnya masalah kita, hingga bagai tikus kelaparan di lumbung padi, tak hanya soal alat yang masih bertahan pada generasi kebo.

Ada hal hal lain :

– Permodalan, petani kita sering kelimpungan. Tak punya modal untuk beli bibit, pupuk dan upah pekerja. Akses ke Bank ribet. Petani kita juga tidak punya akses ke dana desa yang tiap tahun digelontorkan APBN sekitar Rp 71 trilyun. Yang terjadi banyak petani kejebak rentenir.

– Harga jual yang fluktuatif. Sering turun jarang naik.

– Biaya produksi tinggi. Petani banyak rugi. Yang selalu untung distributor.

– Regenerasi nyaris mandeg. Anak petani tak berminat jadi petani. Takut hanya dapat warisan daki.Anak nelayan takut hanya kulit yang makin kelam.

Mereka lari urban ke kota.

Yang masih tinggal di desa aki aki dan nini. Kata BPS 61% penduduk desa berusia diatas 45 tahun.

Baca juga :   Wako Ahmadi & Wawako Antos Dampingi Tim Safari Ramadhan Pemprov Jambi

– Korban alih fungsi lahan. Banyak petani yang luas lahan rata rata hanya 0,2 hektar harus kehilangan garapan . Mereka sering kali jadi korban Proyek .

Strategi Negara made in Joko Widodo. Atau pembebasan lahan untuk pembanguna negara. Ada beberapa UU dan PP yang mengatur hal itu. Ujung ujungnya bisa terjadi perampasan.

– Dibantai cuaca yang tidak menentu, kekeringan atau kebanjiran dan tertimbun longsor.

– Kurang ilmu pengetahuan. Penyuluh lapangan belum merata, banyak petani tak paham pemilihan bibit, pupuk dan olah lahan. Kebanyakan mereka bekerja secara tradisi dan naluri.

Ini semua menjadi tantangan dan tugas pemerintah. Kehadiran menteri desa haruslah berarti lahirnya pemerintah dalam membawa petani ke jati diri negeri, agro maritim.

Itu amanah dari banyak pengamat ekonomi. Salah satunya dari (alm) Prof Faizal Basri. ***

 

 

 

 

Berita ini 83 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

Perbandingan Konsumsi BBM Hyundai Palisade Hybrid vs Diesel, Lebih Irit Mana?

Artikel

Golput Merajalela??! Negeri di Ambang Kehancuran!!!
Pojok Sains: Kenapa Kita Tidak Bisa Menggelitik Diri Sendiri? (Padahal Kalau Orang Lain yang Lakukan Geli Banget!)

Artikel

Pojok Sains: Kenapa Kita Tidak Bisa Menggelitik Diri Sendiri? (Padahal Kalau Orang Lain yang Lakukan Geli Banget!)

Artikel

PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN 

Artikel

Inovasi Muhammadiyah untuk Negeri: Akan produksi 15 juta cairan infus.

Artikel

Carnian Pluvial Event: Hujan Sejuta Tahun yang Melahirkan Zaman Dinosaurus

Artikel

HAJI SUPRANATURAL KE MEKAH LEWAT LOBANG GOA SEBUAH KAROMAH ?

Artikel

Kopi NUR, Legenda Kopi Kerinci Sejak 1943 yang Tetap Bertahan Hingga Tiga Generasi