koransakti.co.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengumumkan proposal 20 poin untuk mengakhiri perang di Gaza. Ia menggambarkannya sebagai langkah menuju “perdamaian abadi di Timur Tengah”. Meskipun penuh dengan pernyataan ambisius, langkah diplomatik ini dinilai signifikan, namun juga menghadapi rintangan fundamental yang sama seperti upaya-upaya sebelumnya.
Rencana ini pada dasarnya adalah sebuah kerangka kerja untuk negosiasi lebih lanjut. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada satu pertanyaan kunci: apakah Israel dan Hamas kini melihat keuntungan lebih besar dalam mengakhiri perang daripada melanjutkannya.
Apa Saja Isi Rencana Damai Trump?
Setelah berkonsultasi dengan Israel, negara-negara Eropa, dan Arab, tim utusan Trump menyusun kerangka kerja yang meminjam dari proposal-proposal sebelumnya. Poin-poin utamanya meliputi:
- Penghentian pertempuran dan penarikan pasukan Israel secara terbatas.
- Hamas membebaskan semua sandera yang tersisa.
- Israel membebaskan ratusan tahanan Palestina.
- Pembentukan pemerintahan teknokrat lokal di Gaza untuk menjalankan layanan sehari-hari.
- Pengawasan oleh “Dewan Perdamaian” yang diketuai oleh Trump dan berbasis di Mesir.
- Pasukan stabilisasi internasional dari AS dan negara-negara Arab mengambil alih keamanan.
- Sisa anggota Hamas yang berkomitmen pada perdamaian dan mau melucuti senjata akan mendapat amnesti, sementara yang lain akan diasingkan.
Rintangan dari Sisi Israel dan Hamas
Meskipun disebut sebagai sebuah terobosan, rencana ini masih mengandung celah yang bisa dimanfaatkan kedua belah pihak untuk menggagalkannya.
- Dari Sisi Israel: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara terbuka menerima 20 prinsip yang diajukan Trump. Namun, para politisi sayap kanan ekstrem dalam koalisi pemerintahannya telah menolak beberapa poin kunci. Analis menilai, Netanyahu memiliki rekam jejak membatalkan kesepakatan jika itu membahayakan kelangsungan politiknya.
- Dari Sisi Hamas: Respons resmi Hamas belum jelas. Namun, seorang tokoh Hamas mengisyaratkan kepada BBC bahwa proposal tersebut gagal melindungi kepentingan Palestina dan tidak akan diterima tanpa jaminan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.
Banyak Ambiguitas dan Kurangnya Detail
Analis Tom Bateman dari BBC menyoroti bahwa rencana ini masih sangat ambigu. Proposal tersebut tidak merinci detail krusial seperti garis penarikan pasukan Israel, daftar tahanan yang akan dibebaskan, atau syarat spesifik pemerintahan pascaperang. Semua detail ini memiliki potensi untuk menggagalkan perjanjian damai.
Trump telah menegaskan posisinya: jika Hamas menolak proposal ini, maka Israel akan mendapatkan “dukungan penuh” dari Amerika untuk “melakukan apa yang harus dilakukan”.
Pada akhirnya, meskipun kerangka kerja AS ini berhasil mengembalikan momentum ke arah negosiasi, dibutuhkan kerja keras selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk mengubahnya menjadi sebuah kesepakatan damai yang nyata.














