Oleh : DEDI ASIKIN
Koransakti.co.id- Kalimat itu adalah babasan bahasa Jawa. Arti harfiahnya adalah kebaikan akan tampak dan keburukan akan ketahuan.
Belakangan ini memang sedang trend di mana mana protes masyarakat terhadap perbuatan para pemimpin dan penguasa yang cendrung pada konotasi keburukan sewenang wenang, tertutup dan abuse of power (penyalahgunaan wewenang).
Sumber daya alam yang melimpah habis di keruk dan sebagian besar di korupsi. Penyelenggaraan negara berlanggsung teurup dan banyak kebohongan dan pembodohan kepada rakyat. Komoditas pertambangan timah jebol 300 triliun. Manipulasi bensin premium yang di jual sebagai pertamax. sejumlah pejabat di Pertamina menikmati kelebihan itu sampai bernilai hampir seribu trilyun.
Di sektor lainnya juga terus berlangsung tapi terus juga terungkap. Yaitu tadi persis relevan dengan babasan Jawa becik ketitik olo ketoro. Rakyatpun makin geram dan hampir kehilangan kepercayaan dan kesabaran kepada para penyelenggara negara yang mendapat mandat dari rakyat .
Sementara penegakan hukum tidak ada kepastian dan keadilan. Hukum belah bambu, injak yang bawah dan angkat yang atas masih jadi tontonan sehari-hari.
Tak kurang dari mantan menko polhukam Mahfud MD yang kecewa dengan sistim penegakan hukum itu. Macet nya RUU perampasan aset makin menjadi sorotan. DPR rupanya mulai malu hati. Katanya RUU yang macet selama 4 tahun tadi sudah akan masuk Prolegnas tahun 2026. Tapi diakal akali, akan di buat seolah-olah RUU itu merupakan inisiatif dari DPR. Biasa, numpang tenar cari muka.
Nurut Udud ( NU) kata Uthon Fathon wartawan senior di Pokja Liputan Kementerian @Agama. Padahal semua orang tahu RUU PA itu datang dari istana dan merupakan inisiatif pemerintah/presiden Joko Widodo empat tahun Lalu. Selama ini DPR sering di tuduh trauma, takut senjata makan tuan atau dalam peribahasa Sunda ada peribahasa Tamiang meulit kabitis. Contoh yang relevan adalah UU Korupsi. Setelah di syahkan DPR, justru paling banyak anggota DPR yang jeblos terali besi, senjata makan tuan atau Tamiang meulit kabitis. Masalahnya yaitu tadi sing becik ketitik wong olo ketoro, yang salah seteru ning Allah Salah sendiri kenapa ngiler melihat uang amanah.
Dalam Islam ada 4 syarat menjadi pemimpin/ penguasa :
Siddiq, jujur
Amanah, bertanggung jawab
Tablig, komunikatif dan
Fathonah, cerdas dan berwawasan luas.
Eman eman, hati hati jangan sampe kejedot bebasan, becik ketitik olo ketoro dan masuk penjara.














