Oleh :
Prof. Dr.RIZAL DJALIL MAKMUR (Prof RDM), Politisi Senior, Eks Ketua BPK RI & Analis Politik Anggaran, Pangan dan Health Economic
Koransakti.co.id- Setiap hari Indonesia mengimpor minyak 1 juta barel. Dalam setahun menghabiskan sekitar Rp 500 triliun. Untuk mengurangi ketergantungan impor, Pemerintah RI seperti yang di nyatakan Presiden Prabowo Subianto di Magelang (9 April 2026) akan membangun program elektrifikasi 100 GT, menutup 13 PLTD dan juga akan memproduksi mobil sedan listrik pada tahun 2028.
Bagaimana sebenarnya peta sumber energi Indonesia saat ini?
Sampai akhir tahun 2025 energi fosil (minyak bumi dan batu bara) masih sangat dominan (85%). EBT (Energi Baru Terbarukan) baru sekitar 15%.
Perusahaan Listrik Negara dengan 135 unit PLTU yang di operasikan sangat bergantung pada batu bara. Dan PLTU menyumbang 67% kapasitas listrik nasional.
Sudah tepat Pemerintah melakukan program bauran energi secara bertahap dengan mempertimbangkan kepentingan nasional dan sumber daya yang tersedia.
Terkait rencana produksi sedan listrik secara besar-besaran perlu mempertimbangkan dua hal:
Pertama, masyarakat Indonesia lebih menyukai mobil SUV (Sport Utility Vehicle) dan MPV (Multi Purpose Vehicle). Dari 1.147.600 unit produksi mobil di Indonesia tahun 2025 di dominasi oleh jenis SUV dan MPV. Yang di rancang tangguh di berbagai medan. Pas dengan kondisi infrastruktur jalan di Indonesia. Efisiensinya juga jauh lebih tinggi dari sedan.
Kedua, perlu di tingkatkan secara bertahap jumlah infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum. Saat ini jumlahnya baru 4.769 unit. Sebagian besar tersebar di Pulau Jawa dan jalan tol lintas Sumatra.
Semoga ketergantungan BBM impor segera berakhir melalui program yang terencana dan di laksanakan dengan baik.
InsyaAllah.
Baca juga: Dobrak Pasar SUV Listrik: JAECOO J5 2026 Hadir dengan Harga Agresif dan Teknologi Mutakhir















