Home / Artikel

Rabu, 7 Januari 2026 - 20:16 WIB

Keuangan Islam sebagai Shifting Strategy: Dari Geopolitik menuju Geoekonomi Global

koransakti - Penulis

Muhammad M Said,

Penasehat Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), IKA Lemhannas Strategic Centre, dan Guru Besar Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Koransakti.co.id- Eskalasi ketegangan geopolitik global semakin meningkat yang berlangsung dalam bentuk yang jauh lebih kompleks di tandai perang dagang atau sanksi ekonomi, operasi militer terbatas, tekanan hukum internasional, dan perdebatan luas tentang legalitas dan kedaulatan negara.

Konflik global hari ini tidak lagi semata soal senjata, melainkan juga soal legitimasi politik dan kendali atas sumber daya strategis. Namun, fokus semacam ini sering menutup fakta bahwa sedang berlangsung pergeseran paradigma yang lebih mendasar: konflik global kian di ekspresikan melalui instrumen ekonomi dan keuangan. Dengan kata lain, geopolitik tengah bergerak menuju geoekonomi sebagai arena utama pertarungan kekuasaan.

Rusia dapat di baca sebagai contoh penting bagaimana negara merespons tekanan geopolitik melalui strategi geoekonomi. Transformasi strategis yang signifikan melalui peluncuran program perintis partnership financing model keuangan berbasis prinsip Islam di empat wilayah dengan populasi Muslim terbesar, yaitu Tatarstan, Bashkortostan, Chechnya, dan Dagestan bukan sekadar inovasi teknis perbankan, melainkan bagian dari strategi membangun ketahanan ekonomi di tengah tekanan sanksi Barat dan fragmentasi sistem keuangan global, serta perubahan pola respons negara dari konfrontasi terbuka menuju adaptasi struktural melalui desain sistem ekonomi alternatif.

Pola pergeseran dari geopolitik ke geoekonomi berlangsung melalui beberapa tahap, di antaranya respons geoekonomi lawan melalui sanksi, isolasi pasar, dan pembekuan aset. Tahap ini mendorong negara negara sasaran untuk melakukan adaptasi internal dengan mencari sistem alternatif di sektor pembayaran dan keuangan dan institusionalisasi strategi baru dalam bentuk kebijakan konkret, seperti partnership financing yang kini di terapkan Rusia di wilayah-wilayah dengan pertumbuhan populasi Muslim yang tinggi.

Baca juga :   Kisah KMB: Saat Belanda Enggan Mengakui Kedaulatan Indonesia

Pergeseran juga tidak lepas dari sejumlah faktor. Faktor demografi, misalnya menjadi alasan struktural kuat. Populasi Muslim Rusia yang di perkirakan telah melampaui 20 juta jiwa terus tumbuh. Mereka selama ini berada di pinggiran sistem keuangan formal berbasis bunga yang di anggap tidak selaras dengan nilai keagamaan sekaligus tidak adil secara etis.

Konteks sosial-historis membentuk relasi masyarakat Muslim Rusia dengan sistem keuangan formal. Ketidakpercayaan mereka terhadap perbankan konvensional selain kontras secara teologis, juga berakar pada pengalaman panjang era Soviet di mana lembaga perbankan beralih fungsi dari intermeary institution menjadi tool of control negara sehingga mereka memandang keterlibatan dengan lembaga keuangan formal mengandung risiko politik dan sosial yang kemudian melahirkan trauma konflik seperti konflik bersenjata di kawasan Kaukasus Utara pada dekade 1990–2000-an.

Program partnership financing dapat di baca sebagai upaya rekonsiliasi historis mekanisme untuk membangun kembali kepercayaan antara negara, sistem keuangan, dan komunitas Muslim, dan juga perluasan diversifikasi arsitektur keuangan nasional agar lebih inklusif dan berakar pada ekonomi riil seperti rumah, kendaraan, dan proyek usaha sehingga menutup ruang spekulasi dan melarang investasi pada sektor yang di anggap tidak etis. Karena berbasis aset dan pembagian risiko, keuangan Islam di pandang relatif lebih tahan terhadap krisis berbasis utang yang kerap memicu instabilitas global.

Penggunaan istilah partnership financing, bukan Islamic financing mencerminkan pendekatan pragmatis yang bertumpu pada fungsi ekonomi dan kontrak bisnis (muamalah), instrumen kebijakan publik yang dapat di terima secara luas, bukan simbol ideologis dan identitas keagamaan.

Baca juga :   China Mulai Bangun Bendungan Raksasa di Tibet Dekat Perbatasan India

Program ini memberikan sinyal positif dari sisi stabilitas ekonomi lokal dan penerimaan sosial. Kesuksesan yang meningkat dari program ini membawa Rusia berpotensi memperluas model ini secara nasional dan menempatkan diri sebagai salah satu pusat keuangan Islam non-Muslim yang signifikan dalam tatanan keuangan global.

Program partnership financing menujukkan keuangan Islam telah berevolusi menjadi instrumen geoekonomi alat negara untuk meningkatkan ketahanan ekonomi, memperluas jejaring investasi global, dan merespons pergeseran paradigma ekonomi dunia dari unipolar menuju multipolar.

Keuangan tanpa bunga menjadi alternatif moral, dan strategi rasional untuk membangun sistem keuangan yang lebih adaptif, inklusif, dan tahan krisis di tengah persaingan geopolitik global.

Baca juga: Wartawan Harus Punya Strategi Agar Narasumber Mau Bicara 

Review SeaBank 2026: Nabung Bunga Cair Tiap Hari + Dapat Uang Tunai (Aman?)

SRIKANDI INSPIRATIF 2025

Berita ini 24 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

Apple Resmi Rilis iPhone 17 Pro Max: Tiga Kamera 48 MP, Chip A19 Pro, dan Memori 2TB
Snack Video Penghasil Uang

Artikel

Review Snack Video 2026: Scroll Video Lucu, Dompet Terisi! Cara Asyik Ubah Kuota Internet Jadi Saldo ShopeePay & DANA

Artikel

Kontroversi Piala Dunia : Mesir dirugikan wasit dan Keberuntungan Argentina

Artikel

Kemarau Tiba: Air tetap Terjaga?
Jakpat (Jajak Pendapat)

Artikel

Review Jakpat 2026: Aplikasi Survei Asli Indonesia, “Jual Suara” Anda Ditukar Pulsa & Saldo E-Wallet (Pasti Cair!)

Artikel

GAJI WAMEN TAK KECIL KECIL AMAT

Artikel

Ketahui, Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah dalam Islam
Mentang-Mentang Libur Malah Rebahan Terus? Awas, Ini 3 Bahaya Fatal Tidur Seharian Saat Puasa. Pantas Saja Pas Bangun Kepala Langsung Kliyengan!

Artikel

Mentang-Mentang Libur Malah Rebahan Terus? Awas, Ini 3 Bahaya Fatal Tidur Seharian Saat Puasa. Pantas Saja Pas Bangun Kepala Langsung Kliyengan!