Oleh:
Prof. Dr. Rizal Djalil Makmur, (Prof RDM), Politisi Senior, Eks Anggota Panitia Anggaran DPR RI (1999-2009) dan Pimpinan BPK RI (2009-2019)
Koransakti.co.id- Kota Malaka, berpenduduk hampir 1 juta orang, dapat di jangkau sekitar 1,5 jam dari Bandara Kuala Lumpur.
Di perjalanan menuju Malaka terdapat rest area Seremban yang rapi, bersih, dan tertata. Aneka jajanan dan buah-buahan tersedia dengan penjual yang ramah dalam Bahasa Melayu dan Inggris.
Malaka dulunya merupakan kerajaan yang berdiri pada tahun 1402. Sebagai kota pelabuhan strategis di Selat Malaka, wilayah ini menjadi rebutan kolonial Eropa.
Tahun 1511 Malaka jatuh ke tangan Portugal akibat kesultanan yang lemah, sementara Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke Johor.
Setelah itu Malaka di kuasai bergantian oleh Portugal, Belanda, dan Inggris. Kini Malaka di pimpin oleh Yang di-Pertuan Negeri yang di angkat oleh Yang di-Pertuan Agung Malaysia, dengan pemerintahan harian di jalankan oleh Ketua Menteri.
Malaka kini dengan luas sekitar 1.650 km persegi berkembang menjadi kota modern: pusat wisata, industri, dan maritim, termasuk proyek Malaka Gateway.
Malaka juga di kenal sebagai destinasi kuliner. Pada 2025, sekitar 16 juta wisatawan berkunjung ke Malaka, lebih dari dua kali lipat wisatawan asing ke Bali yang hanya 7,05 juta. Untuk libur pasca Lebaran, Malaka menjadi pilihan menarik, terlebih kawasan Teluk seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi belum kondusif akibat konflik AS-Israel dengan Iran.
Faktanya, sekitar 300.000 orang Indonesia datang ke Malaka pada 2025 untuk wisata medis, sekaligus check-up dan pengobatan lanjutan. Angka ini jauh melampaui target KEK Sanur Bali sebesar 123 ribu orang. Hingga kini, sejak diresmikan 25 Juni 2025, belum ada rilis resmi jumlah pasien KEK Sanur. Mayoritas pasien berasal dari Sumatera, namun banyak pula dari Jawa dan Sulawesi.
Mengapa orang Indonesia lebih senang datang berwisata medis ke Malaka?
Pertama, biaya tiket pesawat yang relatif murah.
Kedua, pelayanan yang sangat bersahabat dan menyenangkan.
Ketiga, biaya pelayanan medis dan obat yang murah.
Keempat, penduduk setempat sangat ramah dan tidak rasialis terhadap pendatang.
Kelima, makanan dapat di terima dengan baik karena kepastian halal maupun cita rasa.
Baca juga: Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Turun Peringkat, Disalip Malaysia















