Koransakti.co.id- Dalam sejarah politik anggaran Indonesia, belum pernah ada lembaga mendapat anggaran Rp335 triliun seperti BGN dalam setahun. Ini karena MBG punya political will tinggi.
Hingga April 2026 telah menjangkau 62 juta orang dengan realisasi anggaran Rp70,2 triliun. Kita menunggu hasil audit yang akan menunjukkan berapa sesungguhnya uang di gunakan untuk makanan siswa.
Kondisi riil saat ini:
Pertama, per 3 Mei 2026 rupiah melemah ke Rp17.394 per dolar AS. Dampaknya besar: beban pembayaran utang dan bunga utang meningkat, harga impor bahan baku tambah mahal. Produk olahan gandum seperti roti dan mie akan naik, juga tempe dan tahu dari kedelai impor. Rakyat kecil semakin tertekan.
Kedua, harga minyak mentah melonjak. Subsidi BBM akan semakin besar dan menekan APBN.
Ketiga, lembaga pemeringkat seperti Fitch, Moody’s, dan S&P masih memberi peringkat BBB dengan prospek negatif. Ini memengaruhi persepsi investor dan aliran modal.
Keempat, utang jatuh tempo 2026 Rp883,96 triliun, bunga utang hampir Rp 600 triliun.
Kelima, perang belum jelas kapan berakhir. Bahkan jika selesai, distribusi minyak belum tentu normal karena perbaikan fasilitas, pembersihan ranjau laut, risiko asuransi, dan keamanan Selat Hormuz masih jadi tantangan dan butuh waktu.
Saat anggaran MBG di tetapkan, perang Timur Tengah belum terjadi. Harga minyak masih mendekati asumsi di APBN. Kini situasi berubah total. Tekanan fiskal meningkat.
Tahun lalu pagu MBG Rp71 triliun terserap hanya Rp51,5 triliun (72,5%).
Kita menyarankan untuk tahun 2026: anggaran MBG di revisi menjadi Rp100 triliun. Bila di setujui akan memberi bantalan fiskal Rp235 triliun. Program tetap berjalan dengan revisi target, fokus pada daerah dengan stunting tinggi.
Daerah dengan fiskal kuat seperti Jakarta dapat membiayai sendiri. BGN supaya lebih prudent dan fokus pada belanja yang benar-benar urgen.
Siapa yang menyampaikan dan memutuskan cost cutting MBG? DPR sulit di harapkan dalam konstelasi politik sekarang. Anggota Kabinet Merah Putih tidak akan berani. Harapan hanya pada Presiden Prabowo Subianto.
Presiden Prabowo Subianto di yakini piawai membaca situasi fiskal saat ini. Semoga MBG tetap berjalan dan fiskal aman. InsyaAllah.
Penulis: 
Baca juga: Kebijakan Tertutup Menutup Ruang Partisipasi Publik Dalam Program MBG















