koransakti.co.id – Rencana sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris dan Prancis, untuk mengakui negara Palestina disambut dengan perasaan campur aduk oleh warga di Tepi Barat. Di satu sisi, ada rasa gembira dan validasi atas perjuangan mereka. Namun di sisi lain, muncul ketakutan bahwa langkah ini justru akan memicu Israel untuk mempercepat aneksasi wilayah.
Langkah diplomatik dari negara-negara Barat ini datang di saat kendali militer Israel di Tepi Barat semakin meluas dan perang di Gaza terus berlanjut tanpa akhir yang jelas.
Kisah Pilu di Tengah Pendudukan
Situasi di lapangan bagi warga Palestina semakin sulit. Abdel Aziz Majarmeh, seorang ayah di kamp pengungsi Jenin, menceritakan bagaimana putranya yang berusia 13 tahun, Islam, tewas ditembak oleh pasukan Israel bulan ini.
“Di benak saya, saya terus bertanya pada tentara itu: mengapa memilih anak laki-laki berusia 13 tahun? Saya berdiri tepat di sebelahnya. Tembak saya. Mengapa Anda menembak anak-anak?” kata Abdel Aziz dengan pilu.
Pihak militer Israel menyatakan bahwa mereka menembak untuk menetralisir ancaman, namun menolak menjelaskan ancaman seperti apa yang ditimbulkan oleh seorang remaja. Insiden seperti ini, menurut warga, menunjukkan betapa rentannya kehidupan mereka di bawah pendudukan.
Pentingnya Pengakuan Internasional
Meskipun situasi di lapangan tidak akan berubah dalam semalam, pengakuan dari negara-negara besar seperti Inggris dan Prancis dianggap sangat penting. Walikota Jenin, Mohammed Jarrar, mengatakan langkah ini akan membentuk masa depan rakyat Palestina.
“Ini menegaskan fakta bahwa rakyat Palestina memiliki sebuah negara, meskipun sedang di bawah pendudukan,” kata Jarrar. “Dan komunitas internasional akan terpanggil untuk membela hak-hak mereka,” tambahnya.
Namun, ia juga khawatir pengakuan ini akan direspons Israel dengan memperluas pendudukan di Tepi Barat.
Netanyahu: Tidak Akan Ada Negara Palestina
Sikap pemerintah Israel sendiri sangat jelas. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pekan lalu menegaskan kembali penolakannya terhadap solusi dua negara.
“Tidak akan ada negara Palestina,” kata Netanyahu kepada para pemukim di Tepi Barat. “Tempat ini adalah milik kita. Kami akan menjaga warisan kami, tanah kami, dan keamanan kami.”
Pemerintahannya yang berhaluan kanan jauh terus mendorong ekspansi pemukiman ilegal di Tepi Barat. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich bahkan baru-baru ini menguraikan rencana untuk mencaplok 82% wilayah Tepi Barat.
Di tengah tarik-menarik politik ini, warga Palestina seperti Ayman Soufan, yang rumahnya terus-menerus diintimidasi oleh pemukim, hanya bisa pasrah. “Siapa yang seharusnya melindungi saya?” tanyanya.















