koransakti.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama dua badan kesehatan reproduksi terkemuka dunia merilis panduan global baru yang bersejarah untuk mengatasi pendarahan pasca-persalinan atau postpartum haemorrhage (PPH). PPH merupakan komplikasi persalinan paling berbahaya dan menjadi penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia.
Panduan yang diluncurkan pada 5 Oktober 2025 ini menyerukan perubahan besar dalam cara tenaga kesehatan mencegah, mendiagnosis, dan merawat PPH, dengan fokus pada deteksi lebih dini dan intervensi yang lebih cepat.
Kriteria Diagnosis Baru: Deteksi Lebih Dini
Salah satu perubahan paling signifikan dalam panduan baru ini adalah kriteria diagnosis PPH.
- Sebelumnya: PPH baru didiagnosis setelah ibu kehilangan darah sebanyak 500 ml atau lebih.
- Sekarang: Tenaga kesehatan dianjurkan untuk segera mengambil tindakan saat kehilangan darah mencapai 300 ml dan disertai dengan tanda-tanda vital yang tidak normal.
Untuk mendukung deteksi dini ini, WHO merekomendasikan penggunaan “kain tadah ukur” (calibrated drapes), sebuah alat sederhana untuk mengumpulkan dan mengukur jumlah kehilangan darah secara akurat.
Bundel Aksi Cepat ‘MOTIVE’
Setelah PPH terdiagnosis, panduan ini merekomendasikan penerapan serangkaian tindakan yang disebut bundel “MOTIVE” secara cepat dan terkoordinasi. Bundel ini mencakup:
- Masase pada rahim.
- Obat oksitosin untuk merangsang kontraksi.
- Asam Traneksamat (TXA) untuk mengurangi pendarahan.
- Cairan Intravena.
- Pemeriksaan jalan lahir (Vaginal and genital tract Examination).
“Pendarahan pasca-persalinan adalah komplikasi persalinan paling berbahaya karena dapat meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Kematian dapat dicegah dengan perawatan yang tepat,” ujar Dr. Jeremy Farrar dari WHO.
Fokus pada Pencegahan, Terutama Anemia
Panduan ini juga menekankan pentingnya pencegahan. Perawatan antenatal dan pascanatal yang baik sangat penting untuk mengurangi faktor risiko kritis seperti anemia, yang dapat memperburuk kondisi jika PPH terjadi. Rekomendasi mencakup pemberian suplemen zat besi dan folat setiap hari selama kehamilan.
“Panduan ini adalah pengubah permainan,” kata Profesor Jacqueline Dunkley-Bent, Kepala Bidan dari Konfederasi Bidan Internasional (ICM). “Kami menyerukan kepada pemerintah, sistem kesehatan, dan para mitra untuk segera mengadopsi rekomendasi ini dan berinvestasi pada bidan serta perawatan ibu.”















