koransakti.co.id – Ratusan ribu orang menggelar unjuk rasa besar di Tel Aviv pada Sabtu malam, menjelang tenggat waktu pembebasan sandera Israel oleh Hamas yang akan berakhir pada Senin. Dalam aksi tersebut, Utusan Khusus AS Steve Witkoff memuji peran Donald Trump dalam tercapainya kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera.
Menariknya, saat nama Trump disebut, massa bersorak “Terima kasih, Trump!”, namun mereka menyoraki dengan cemoohan ketika Witkoff menyebut nama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Pujian untuk Trump, Cemoohan untuk Netanyahu
Dalam pidatonya, Witkoff meyakinkan massa bahwa para sandera “akan pulang ke rumah” berkat kesepakatan yang dimungkinkan oleh Donald Trump. Putri dan menantu Trump, Ivanka dan Jared Kushner, juga turut memberikan pidato dalam acara tersebut.
Sikap kontras dari massa menunjukkan kemarahan publik terhadap Netanyahu. Pasangan Shulamit dan David Ginat, yang hadir di lokasi, menyalahkan Netanyahu atas kegagalan mencegah serangan 7 Oktober 2023 dan lambatnya pemulangan sandera.
“Dia ingin melanjutkan perang hanya karena dia ingin tetap menjadi perdana menteri,” kata David kepada BBC.
Detail Kesepakatan dan KTT di Mesir
Berdasarkan kesepakatan yang diumumkan pada hari Kamis, Hamas memiliki waktu 72 jam—hingga Senin, pukul 12:00 waktu setempat—untuk membebaskan sisa 48 sandera, di mana 20 di antaranya diyakini masih hidup. Pejabat tinggi Hamas, Osama Hamdan, mengonfirmasi bahwa pertukaran akan dimulai pada Senin pagi sesuai jadwal.
Untuk memfinalisasi kesepakatan, Mesir akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Sharm El-Sheikh pada hari Senin. Lebih dari 20 pemimpin dunia, termasuk Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dijadwalkan hadir.
Situasi Terkini di Gaza
Sementara itu di Gaza, setelah penarikan pasukan Israel dari wilayah utara, sekitar 500.000 warga Palestina dilaporkan telah kembali ke rumah mereka yang kini hancur lebur. Hamas juga dilaporkan telah memanggil ribuan pejuangnya untuk kembali menegaskan kontrol di wilayah tersebut di tengah kekhawatiran akan terjadinya kekerasan internal.
Di sisi lain, situasi kemanusiaan masih sangat genting. Badan Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa lonjakan bantuan yang dijanjikan dalam kesepakatan belum terjadi, dengan hanya dua hingga tiga truk bantuan yang masuk setiap hari. Laporan terbaru dari monitor kelaparan dunia yang didukung PBB memperkirakan sekitar 500.000 orang di Gaza—seperempat dari total populasi—menderita kelaparan.















