koransakti.co.id- Kejuaraan sepak bola paling bergengsi di sejagat raya, Piala Dunia 2026, resmi melabuhkan tirainya. Tim Nasional Spanyol sukses mengukuhkan diri sebagai kampiun edisi ke-23 usai menundukkan juara bertahan Argentina dengan skor tipis 1-0 pada laga final di Stadion MetLife, New Jersey.
Gol tunggal tersebut tidak hanya membawa La Furia Roja merengkuh trofi bergengsi, tetapi juga menutup rangkaian episode panjang yang menyajikan 104 pertandingan serta melibatkan 48 negara di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Namun, pencinta sepak bola dunia tidak perlu menunggu terlalu lama untuk merasakan atmosfer megah berikutnya. Dalam empat tahun mendatang, Piala Dunia 2030 siap bergulir di enam negara sekaligus—Maroko, Portugal, Spanyol, Argentina, Paraguay, dan Uruguay—sebagai bentuk perayaan 100 tahun sejarah turnamen ini.
Menariknya, FIFA tampaknya belum puas dengan rekor jumlah peserta saat ini. Lembaga induk sepak bola dunia tersebut kini tengah mewacanakan perombakan format besar-besaran untuk edisi 2030.
Wakil Presiden FIFA sekaligus Presiden CONMEBOL, Alejandro Dominguez, menyuarakan keyakinannya bahwa turnamen mendatang akan mencatatkan sejarah baru dengan melibatkan 64 negara peserta.
“Piala Dunia 2030 akan menjadi kesempatan besar bagi dunia sepak bola untuk merayakan seratus tahun turnamen ini melalui kompetisi yang diikuti 64 tim,” ungkap Dominguez melalui akun X pribadinya.
Meskipun FIFA belum merilis keputusan resmi mengenai wacana tersebut, Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan sinyal hijau. Ia mengagumi keberhasilan format anyar pada edisi 2026 dan membuka peluang besar untuk mengevaluasi penambahan kontestan di komite internal. Infantino menegaskan bahwa Piala Dunia harus memberikan kesempatan bermimpi bagi seluruh negara di dunia, bukan hanya di dominasi oleh kekuatan tradisional dari Eropa dan Amerika Selatan.
Potensi Format Baru: 128 Pertandingan
Jika FIFA benar-benar merealisasikan rencana ekspansi ini, kalender pertandingan Piala Dunia 2030 di pastikan memanjang signifikan. Skema 64 peserta berpotensi membengkakkan jumlah laga menjadi 128 pertandingan, atau naik sekitar 23 persen di bandingkan format 2026.
Secara teknis, turnamen akan membagi seluruh kontestan ke dalam 16 grup.
Nantinya, hanya dua tim teratas dari masing-masing grup yang berhak mengantongi tiket ke babak knock-out (32 besar) hingga partai puncak, tanpa perlu menggunakan sistem peringkat tiga terbaik.
Kendati demikian, wacana revolusi ini menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan sepak bola Eropa.
Sejumlah pihak mengkhawatirkan bahwa penambahan kontestan secara masif dapat menurunkan tingkat persaingan, mengurangi nilai eksklusivitas turnamen, serta meningkatkan risiko kelelahan dan cedera bagi para pemain akibat jadwal kompetisi yang kian padat.
Baca juga:Laga Argentina vs Spanyol: Siapa Juara akan Dapat Rp 798 Miliar















