Oleh :Dedi Asikin
Koran Sakti.co.id- Ibadah haji itu panggilan.
Ketika nabi Ibrahim dan puteranya Ismail selesai merenovasi Ka’bah, Allah memerintahkan agar menyeru ummat Islam di seluruh penjuru dunia agar datang ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah. Ketika Ibrahim menyatakan tidak mampu, Allah mengatakan berserulah, nanti aku yang akan meneruskan.
Maka turunlah surat Al Hajj ayat, 27:
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji. Mereka niscaya akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau menaiki setiap unta yang kurus. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh ”
Dan itulah yang terjadi.
Allah telah memanggil satu persatu ummat yang dikehendaki.
Indikasinya, bahwa haji itu panggilan dan pilihan, ternyata tidak semua umat telah dipanggil dan melaksanakan.
Ada yang perkasa dan kaya raya tapi belum dipanggil. Sebaliknya ada yang lemah dan tak berpunya telah melaksanakan ibadah maha berat itu
Ada tukang bakul jamu, tukang ojeg, supir angkot, warung nasi Tegal.
Pokoknya yang secara logika, secara nalar rasa rasanya tidak Thats Impossible.
Saya menemukan narasi tentang mereka. Tentang orang yang telah melaksanakan ibadah haji diluar logika, diluar nalar dan akal telanjang.
Nekad naik pesawat Garuda :
Tahun 1992 jagat republik ini gempar usai tersiar kabar, seseorang berhasil menerobos masuk pesawat Garuda yang mengangkut jemaah haji dari Embarkasi Juanda Surabaya.
Orang itu diketahui bernama Choirun Nasihin, penduduk desa Nanggul Rejo kecamatan Balepoton kabupaten Jombang Jawa Timur.
Sejak muda Modin sebuah masjid di desa itu sudah bercita cita naik haji. Tapi ngebetnya mulai tahun 1990.
Kebiasaannya menggunakan topi haji berwarna putih putih menyebabkan dia biasa dipanggil pak haji oleh penduduk desa. Dan panggilan itu rupanya yang melecutnya jadi bonek bondo nekad.
Suatu hari di musim pemberangkatan haji, lelaki berusia 45 tahun itu nekad berangkat.
Bekal di sakunya cuma ada Rp.49.500,- plus Rp. 10.000 sangon dari ibunya. Di dalam tasnya ada perangkat peralatan haji termasuk kain ihram.
Perlu diceritakan bahwa sebelumnya dia sendiri senang mengikuti kuis berhadiah yang ngetren waktu itu. Katanya pernah mengirim 900 kartu quis berhadiah itu. Cuman pernah menang sekali berupa 5 gram emas Emas itu dia jual dan dibelikan perangkat haji serta keperluan lain dan bersisa 49.500 itu.
Dari Jombang dia naik bis ke Surabaya. Dilanjut ke bandara Juanda naik bemo. Waktu itu bemo sedang in sebagai mode Angkutan rakyat kecil di perkotaan.
Berhasil masuk ke area bandara, dengan meloncati pagar berduri, ia berhasil masuk afron pesawat. Sebuah pesawat Garuda sudah bertengger disana. Rencananya jam 19.00 akan terbang membawa sekitar 450 jemaah.
Ketika jemaah mulai pada masuk , Nasihin ikut masuk barisan. Mulutnya tak berhenti komat kamit. Segala doa jurus selamat dia panjatkan.
Di dalam pesawat dibagian belakang dia menemukan 4
buah kursi kosong. Bela. Itu kursi paranti nongkrong istirahat pramugari. Sampai disitu tak satupun orang bercuriga.
Sampai tiba saatnya seorang pramugari datang.
Rasa curiganya mulai menggoda melihat seseorang celingukan di kursi yang bukan peruntukan untuk jemaah.
Ketika kepepet lantaran tak punya secuilpun dokumen haji, apalagi paspor dan visa mengaku lah dia bahwa dia bukan jemaah yang syah, cuma haji gadungan yang nekad pingin pecinya resmi jadi kopeah haji.
Maka gegerlah seperut pesawat. Ketua kloter dan crew pesawat segera adakan rapat kilat. Keputusannya apaboleh buat. Choirun Nasihin harus dikembalikan lagi ke tanah air. Titik habis, semua sepakat .
Sebab kalau tidak dipastikan dia tidak bisa masuk kota Mekkah. Bahkan sangat mungkin dia ketangkap sekuriti di bandara King Abdul Aziz dalam pemeriksaan imigrasi.
Bahkan di bandara dia ketika pesawat sudah mendarat, dia sempat disekap didalam toilet. Lalu dibagian luar pintu ditulisi kata “being demaged” untuk mengalihkan pemeriksaan.
Dari Jedah pak Modin dipulangkan dengan pesawat kosong yang hendak menjemput jemaah ke Surabaya.
Tak pakai lama, meski belum ada perangkat informasi digital seperti WA, Facebook, TikTok atau YouTube, berita haji nekad itu tersebar di seluruh jagat Nusantara. Bahkan juga di beberapa media Saudi Arabia.
Di Surabaya, Choirun sempat digelandang dan diperiksa Laksusda Kopkamtib Jawa Timur. Tapi tidak sampai ditahan kerena motifnya cuma kedunguan doang.
Yang ketiban pulung adalah koran Jawapos. Koran yang sedang take off itu, piaway menangkap peluang.
Wartawan pasukan Dahlan Iskan itu berhasil “menculik” dan menyekapnya di Jalan Kembang Jepun (kantor redaksi JP) semalaman. Besoknya secara kronologis kisah petualangan haji nekad itu dimuat koran itu secara berseri selama beberapa hari. Sebagai hadiahnya, tahun 1994 , Dahlan Iskan memberangkatkan Choirun naik haji dengan fasilitas haji khusus. Dulu dikenal dengan sebutan ONH Plus.
Itu berarti naik haji untuk kedua kalinya bagi Choirun, sebab sebelumnya ( tahun 1993) dia telah diberangkatkan oleh seorang pengusaha bernama H. Tosin dengan status haji reguler.
Walhasil Choirun itu sekarang sudah haji quadrat, haji haji.
Usianya kini mungkin sekitar 75 tahun. Masih berkegiatan dia.
Katanya selain mengurus masjid juga memberi ceramah di majelis taklim di desanya.
Haji Bedug :
Mohammad Noor adalah seorang penarik becak di kota Malang.
Tapi dia punya kebiasaan yang aneh dan sedikit nyleneh.
Yaitu nabuh bedug dan azan diwaktu duhur. Itu bagai tugas wajib baginya. Kalau tidak dia takut dicatat malaikat Atid, malaikat pencatat amal buruk.
Sedang dimanapun dia, kalau menjelang waktu dzuhur pasti pulang dulu.
Kebiasaan mang beca itu dialami seorang wartawan SCTV.
Suatu hari dia Carter Mohamad Noor buat keliling kota Malang.
Pas menjelang azan magrib Noor minta pulang dulu.Ya maksudnya tiada lain, mau nabuh bedug dan azan lohor. Tak bisa dicegah bahkan dengan tawaran ongkos dua kali lipat sekalipun, kepalanya goyang kekiri dan ke kanan, sambil bungkuk bungkuk mohon maaf.
Dari penelitian yang si wartawan lakukan, penduduk seluruh kampung itu sudah hafal kebiasaan warga yang sebiji ini dan sudah pada nyuekin.
Perihal temuannya tentang tukang beca yang aneh suraneh itu, diceritakan si wartawan kepada pimpinan SCTV.
Eh ndilallah, subhanallah kersaning yang Widhi, hakekatnya Gusti Allah memanggil Mohammad Noor naik haji. Tahun itu SCTV memberangkatkan Mohammad Nur ke Baitullah bersama Wartawan SCTV yang bertugas liputan haji.
Si penabuh bedug yang istiqamah itu konon sempat melohok terbengong bengong ketika diminta surat surat yang diperlukan untuk pembuatan dokumen haji.
Tapi tak urung memberikannya.
Maka jadilah Mohammad Noor naik haji.
Pulang dari sana namanya, Haji Mohammad Noor
Tapi, sekali sekali ada pula penduduk sana yang iseng menyebut haji bedug sambil tertawa ngekeh.***















