Home / Artikel

Selasa, 29 Juli 2025 - 01:58 WIB

ORANG INDONESIA YANG PERTAMA NAIK HAJI SIAPA ?

koransakti - Penulis

Oleh :DEDI ASIKIN

Koran Sakti.co.id- Informasi yang berkaitan dengan sejarah sering kali tidak pasti. Ada kalanya berbeda versi terutama soal waktu. Mukhalif atau mutanawi kata orang Arab atau pinten pinten kata wonge Jowo.

Informasi tentang siapa orang Indonesia yang pertama kali menunaikan ibadah haji ke tanah suci juga begitu, versial.

Tapi tulisan sejarawan Prof. Dadan Wildan dalam Pikiran Rakyat (17 Januari 2006) tampaknya dapat diterima oleh banyak pihak.

Dadan menyebut orang Indonesia yang pertama menunaikan ibadah haji ke baitullah itu adalah Bratalegawa, pada kitaran tahun 1380 masehi.

Yang harus jadi catatan jika peristiwa itu benar, tidak ada mutanawi boten pinten pinten ( perbedaan) maka yang harus dikoreksi adalah penyebutan nama Indonesia. Yang lebih tepat mungkin orang Nusantara. Masalahnya nama Indonesia itu baru muncul tahun 1850.

Berbeda dengan nama Nusantara. Nama itu sudah diklaim oleh Gajahmada Mahapatih kerajaan Majapahit.

Sumpah Palapa yang kesohor itu diucapkan Gajahmada pasca dilantik raja Hayam Wuruk menjadi Mahapatih tahun 1350.

Nusantara yang diklaim Gajahmada adalah wilayah Indonesia sekarang plus semenanjung Malaya, sebagian Philipina dan Tumasek (Singapur sekarang).

Kembali ke soal Bratasena, yang tepat, mengacu kepada tulisan Dadan Wildan haruslah disebut , dia, adalah orang Nusantara yang pertama kali menunaikan ibadah haji.

Siapa Bratalegawa ?

Dia itu putra kedua Prabu Guru Pangandiparanarta, atau dikenal juga dengan nama Bunisora dan sering dijuluki Kuda Lalean.

Dia itu (Bunisora) adalah kakak dari raja Galuh prabu Maharaja Linggwastu (1350-2457).

Bunisora sempat menjadi pemangku (wali raja) Galuh (1357-1471). Itu terjadi lantaran Prabu Linggwastu gugur dalam pertempuran Bubat antara kerajaan Galuh dengan tentara Gajahmada dari Majapahit.

Waktu itu putra mahkota, Niskala Wastukencana baru berusia 9 tahun. Jadi selama 14 tahun, kerajaan Galuh dipimpin pemangku jabatan atau wali Nagara.

Meski termasuk kerabat kerajaan, dimasa remaja Bratalegawa tidak tertarik pada bidang politik dan pemerintahan. Sepupu putra mahkota Wastu kencana itu justru lebih tertarik ke dunia perdagangan. Ia menjadi saudagar yang berhasil dan kaya raya. Memiliki beberapa kapal dagang, perhiasan dan proferti. Juga memiliki beberapa hotel dan tempat wisata di tepi pantai. Ia boleh dibilang seorang Crazy Rich. Kalau sekarang mungkin sekelas Rafi Ahmad atau Ahmad Syahroni.

Baca juga :   MAFIA DIMANA MANA DARI KOTA SAMPAI DESA

Tapi yang pasti belum memiliki Alphard, Lamborghini, Ferarri, Lexus, atau Rolls Royce. Wong pabriknya belum lahir.

Sebagai saudagar Bratalegawa sering mondar-mandir antara Jawa, Sumatra, semenanjung Malaya, India, Cina sampai semenanjung Arab. Dalam perjalanan bisnis itu ia masuk Islam (mualaf) pindah agama dari Hindu-Budha.

Bratalegawa juga tercatat orang Jawa Barat atau kerajaan Galuh yang pertama memeluk Islam.

Pria yang lahir 1292 tahun saka atau 1350 masehi itu , menikah dengan perempuan muslim dari Gujarat bernama Farhana bin Muhammad.

Tahun 1380 bersama istrinya Bratalegawa berlayar ke semenanjung Arab sekalian menunaikan ibadah haji. Tak hanya itu disebutkan Brata juga sempat belajar ilmu tentang Islam disana. Ia juga mengganti nama menjadi Baharuddin al Jawi.

Dari Arab Saudi Bratalegawa membawa istrinya langsung pulang ke Astana Gede di Kawali Ciamis, ibukota kerajaan Galuh.

Sampai di Galuh ia menemui adiknya Banawati. Selain bersilaturahmi sekalian mengajak sang adik masuk Islam. Tapi ajakan itu ditolaknya. Situasi memang belum adaptif, sebab hampir 100 %, masyarakat Galuh masih memeluk agama Hindu-Budha.

Dari sana Bratalegawa yang di Galuh dikenal dengan nama haji Purwa pergi ke Cirebon menemui kakaknya Giri Dewa atau Ki Gedeng Kasmaya yang menjadi penguasa di Cirebon Girang ( kabupaten Cirebon sekarang), yang berada dalam wilayah kekuasaan Galuh. Juga dengan maksud yang sama, silaturahmi dan mengajak masuk Islam tapi sang kakak juga menolak.

Kedepannya diketahui Bratalegawa lebih banyak tinggal di Caruban Girang dan berhasil menyebarkan agama Islam di sana.

Berkat peran Bratalegawa terbentuk Komunitas Islam warga pesisir Utara.

Dalam naskah Carita kuno Parahiyangan atau Carita Purwaka Caruban Nagari dan naskah naskah tradisi Cirebon seperti wawacan Sunan gunung jati, wawacan Walang sungsang dan babad Cirebon ada diceritakan tentang tokoh tokoh lain yang juga kemudian menunaikan ibadah haji.

Tapi itu terjadi setelah Bratalegawa.

Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putera prabu Siliwangi raja Pajajaran.

Setelah belajar tentang Islam pada Syeikh Datuk Kahfi selama 3 tahun kedua kakak beradik itu berangkat ke Mekkah diperkirakan seputaran tahun 1446-1447 atau satu abad setelah Bratalegawa.

Baca juga :   Indonesia Beli Produk Perancis Lebih Rp 116 triliun: “Tu peux nous aider” Nya Apa?

Dalam perjalanan ibadah haji itu Rarasantang dinikahi Syeikh Syarif Abdullah, sultan Mesir dari dinasti Fatimiyah. Setelah jadi haji , Walangsungsang berganti nama menjadi H.Abdulah Iman, sementara Rarasantang menjadi Hajah Syarifah Mudaim.

Dari kesultanan Banten sultan Ageng Tirtayasa mengirim puteranya pangeran Abdul Kahar pergi ke Mekkah. Selain menunaikan ibadah haji Abdul Kahar juga mengemban misi politik dan diplomasi.

Sultan Ageng Tirtayasa ingin memperkuat legitimasi dan hegemoni kekuasaan sebagai sultan Banten, berharap dukungan dari raja Arab Saudi.

Utusan kedua tahun 1630 juga dikirim sultan Ageng Tirtayasa ke Mekkah. Utusan kali ini adalah Lebe Panji Tisnajaya dan Wangsaraja.

Pada waktu yang bersamaan raja Mataram juga mengirim utusan dengan misi yang sama, mencari dukungan penguasa Mekkah sambil menunaikan ibadah haji.

Pulang dari Mekkah kedua utusan itu membawa kabar gembira.

Sutan Arab memberi dukungan kepada kedua penguasa di tatar Nusantara itu. Sultan Banten mendapat gelar Sultan Abdul Mufakir Muhammad Abdul Qadir sementara raja Mataram mendapat gelar Sultan Abdul Maulana Yusuf.

Tahun 1664 Syeikh Yusuf Al Makssari berangkat ke Mekkah.

Setelah selesai terus mukim dan disana. Syeikh Yusuf tercatat sebagai mukimin paling lama yaitu 26 tahun. Beliau menimba ilmu terutama tentang tarekat dan tasawuf kepada beberapa ulama besar antara lain, Syiekh Ibrahim Al Kurani di Madinah.

Setelah itu diketahui mulai banyak orang orang Nusantara ( belum Indonesia) yang diketahui menunaikan ibadah haji ke baitullah.

Diantara itu ada nama RAA Wiranata Kusumah. Bupati Bandung itu beruntung mendapat ijin dari pemerintah kolonial untuk naik haji. Tak mudah waktu itu seorang pejabat negara memperoleh izin. Beliau berangkat tahun 1924 dengan naik kapal laut.

Pulang dari Mekah, putra bupati Bandung ke 10 (Raden Tumenggung Kusumadilaga) itu dikenal dengan nama Dalem Haji atau kangjeng Wali.

Demikian catatan tentang orang orang Nusantara yang menunaikan ibadah haji Tempo Doeloe. Bahkan sebelum negeri ini bernama Indonesia.

Dari literasi yang terendus , terkesan ibadah itu, merupakan ranah ibadah orang orang elit dan berduit.*”*

Berita ini 78 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Jawab Pertanyaan Dibayar Saldo DANA? Ini 5 Aplikasi Survey Terpercaya & Terbukti Membayar 2025

Artikel

HP Kentang Merapat! 3 Website Penghasil Saldo DANA Gratis 2026 Tanpa Perlu Install Aplikasi, Cukup Modal Browser Sambil Nunggu Buka!

Artikel

SELAMAT TINGGAL BBM FOSIL

Artikel

BUBAT, PERANG MEMBELA MARTABAT 

Artikel

JOKOWI TAK PAHAM MAKNA KORUPSI SECARA LUAS RILIS OCCRP DIANGGAP FITNAH

Artikel

AKI AKI PISAN

Artikel

Padi Abadi Inovasi Revolusioner  Ilmuwan Cina
Kenapa Potongan Apel Berubah Jadi Cokelat? Kenalan dengan Enzim PPO dan Reaksi "Karat" pada Buah!

Artikel

Kenapa Potongan Apel Berubah Jadi Cokelat? Kenalan dengan Enzim PPO dan Reaksi “Karat” pada Buah!

Artikel

KISAH MAUNG YANG CUMA MENGAUM HUS ITU MAH OOM KAMU