Home / Ekonomi / Internasional

Sabtu, 19 Juli 2025 - 02:52 WIB

Perebutan Rare Earth Dunia Meningkat, Negara Berlomba Kendalikan Pasokan

koransakti - Penulis

Permintaan terhadap rare earth minerals atau mineral tanah jarang kini menjadi medan baru bagi perebutan kekuatan global. Meski nilainya per ton lebih rendah dibanding emas atau lithium, mineral ini justru jadi rebutan karena penting untuk teknologi modern, kendaraan listrik, dan sistem pertahanan.

Negara-negara kini berlomba memperkuat rantai pasok rare earth mereka—bukan hanya untuk keuntungan ekonomi, tapi juga untuk kepentingan strategis dan keamanan nasional.


🌍 Kenapa Rare Earth Jadi Rebutan?

Mineral rare earth dibutuhkan untuk membuat magnet kuat yang digunakan di turbin angin, mobil listrik, ponsel pintar, dan bahkan jet tempur. Artinya, siapa yang menguasai pasokan mineral ini, punya pengaruh besar di sektor industri masa depan.

China saat ini masih jadi produsen dominan, menyuplai sekitar 60% kebutuhan global. Tapi dominasi itu mulai dilihat sebagai risiko oleh negara-negara Barat, terutama setelah China sempat membatasi ekspor dalam konflik dagang sebelumnya.

Baca juga :   Balas Aturan 'Rare Earth', Trump Ancam Tarif Tambahan 100% untuk Tiongkok

⚒️ Negara Mana yang Bergerak Cepat?

Beberapa negara mulai mengambil langkah besar:

  • Amerika Serikat meningkatkan produksi dan membuka kembali tambang Mountain Pass di California.

  • Australia memperluas produksi lewat perusahaan seperti Lynas Rare Earths.

  • Kanada, Swedia, dan India juga bergerak mempercepat eksplorasi dan investasi di sektor ini.

  • Indonesia ikut masuk radar karena punya potensi cadangan monasit dan mineral ikutan dari penambangan timah dan nikel.

Namun, masalahnya bukan cuma di penambangan. Proses pemurnian rare earth itu kompleks, mahal, dan menghasilkan limbah radioaktif. Inilah alasan banyak negara masih bergantung pada fasilitas pengolahan di China.


🔗 Pertarungan Tak Hanya di Tambang

Negara-negara kini juga berlomba membangun rantai pasok lengkap, dari tambang sampai pabrik magnet. Uni Eropa dan Jepang misalnya, mulai memberi subsidi untuk membangun pabrik pemrosesan sendiri agar tak lagi bergantung pada negara lain.

Baca juga :   Selamatkan Burung Langka, Drone Jatuhkan Jutaan Nyamuk di Hutan Hawaii

Isu ini juga sudah masuk ke agenda keamanan nasional. Di AS, rare earth dikategorikan sebagai komponen kritis pertahanan. Sementara China disebut sedang mempertimbangkan pengendalian ekspor lanjutan sebagai balasan terhadap sanksi teknologi.


🚨 Taruhannya Besar, Nilainya Tidak Selalu

Meski secara nilai per ton mineral ini lebih murah dibanding logam mulia, peran strategisnya di industri teknologi tinggi membuat rare earth jadi rebutan. Karena itulah, banyak analis menyebut fenomena ini sebagai “low value, high stakes” — nilainya kecil, tapi dampaknya besar.

Dengan semua negara kini berlomba-lomba mengamankan pasokan, perebutan rare earth tak hanya soal ekonomi, tapi soal siapa yang akan menguasai masa depan.

Berita ini 70 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Hujan Gol di Olimpico: Comeback Fantastis Juventus Gagalkan Kemenangan AS Roma

Internasional

Hujan Gol di Olimpico: Comeback Fantastis Juventus Gagalkan Kemenangan AS Roma

Ekonomi

Balas Aturan ‘Rare Earth’, Trump Ancam Tarif Tambahan 100% untuk Tiongkok
Momen Hangat Valentine 2026: Meghan Markle Bagikan Foto Langka Pangeran Harry dan Putri Lilibet

Internasional

Momen Hangat Valentine 2026: Meghan Markle Bagikan Foto Langka Pangeran Harry dan Putri Lilibet

Daerah

Gelar Harkopnas, Dekopinwil Jatim bikin Gebyar UMKM dan Libatkan 2.025 Penari

Hukum

Dokter Ratna Setia Asih Gugat Pasal 307 UU Kesehatan ke MK

Internasional

WHO Rilis Panduan Baru untuk Hentikan Kematian Akibat Pendarahan Pasca-Persalinan

Daerah

Kesejahteraan Masyarakat Tembelok: Ketika Ekonomi Mengalahkan Regulasi

Internasional

Laporan WHO: 1,4 Miliar Orang Hidup dengan Hipertensi, Mayoritas Tak Terkontrol