Oleh: DEDI ASIKIN
Koran Sakti.co.id- Dalam hidup dan kehidupan selalu ada perkecualian (exception). Satu atau dua orang sama dengan kebanyakan orang. Teu guyub, teu ilahar, kata orang Sunda mah. Dalam hal pendidikan, misalnya. Semua orang menganggap sekolah itu sebuah keniscayaan. Harus itu. biar sekolah anak itu masuk dalam APBK , @nggaran Pendapatan dan Belanja keluarga Tidak sekolah itu Dimata umum aib..
Maka ramai ramai mentargetkan lulus Strata Satu (Sarjana)
SMA MO dadinopo mengko? Kuku bangunan ojril atau sukot ? ( supir angkot).
D3 saja dianggap kagok gak nyampe esselon bergengsi. Kata orang Sunda mah ” Kaluhur teu surungan, kahandap teu akaran.
Tapi si kecuali ini, yang mahiwal tadi boro boro jadi sarjana sekolah dasar saja waktu itu namanya SR dia tidak tamat. Pernah masuk Inland schshool, sekolah untuk semua anak Inlander anak anak kaum terjajah hanya sampai kelas dua .
Dia keluar. Sempat sekolah Agama dimadrasah Islam Pawallin Parabek Bukittinggi. Disana cuma bertahan satu setengah tahun. Caw lagi. Kali itu dia pulkam membantu orangtuanya berdagang di kampung halaman.
Ayahnya itu Abdul Malik Batubara seorang saudagar kaya raya di Pematang Siantar Sumatera Utara.
Si Mahiwal itu ketika dewasa tertarik kebidang politik dan perjuangan kebangsaan. Ia masuk Partai Indonesia, Partindo. Dalam usia 17 tahun dia sudah dipercaya menjadi ketua cabang Partindo di Pematang Siantar.
Merasa bahwa Pematang Siantar terlalu kecil dibanding visi politik dan perjuangan. Kebangsaan, awal tahun 1937 dia merantau ke Jakarta. Eh sorry sorry lupa mengatakan, ternyata si Mahiwal itu punya minat dan bakat sebagai wartawan. Dia sering menulis di koran pewarta Deli, Medan POS dan SUMUT POS
Sampai di Jakarta yang waktu itu namanya Betawi dia bergabung dengan teman teman sesama wartawan.
Di luar dugaan tanggal 13 Desember 1937 bersama temannya Mr Soemanang AM ( (Albert Manumpak) Sipahoetar dan Pandu Kartawiguna mendeklarasikan berdirinya Lembaga Kantor Berita ( LKBN) Antara dengan nama resmi NV LKBN ANTARA.
Mr. Soemanang ditunjuk sebagai Direktur sementara si Mahiwal menjadi wakil salah seorang redaktur
Dengan modal sebuah mesin tik Tus, sebuah mesin reneo skinski dan satu stel meja yang sudah goyang kekiri goyang ke kanan kaya korban Tsunami Aceh, mereka mulai kerja di Kantor pusatnya Jl Kantor Pos besar nomor 53 Meneg Jakarta
Antara mensuplai berita berita ke sejumlah koran di Jakarta Lalu merambah juga ke daerah daerah.
Tonjok rasa congcot:
Si drop out kelas dua SR itu terus berkiprah didunia politik
Tahun 1959 bersama 14 tokoh perjuangan lain dia diangkat presiden Soekarno menjadi duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Unie Soviet dan Polandia.
Ada cerita yang sedikit menarik soal pengangkatan menjadi ambasador itu.
Presiden Soekarno mau mengembangkan politik Demokrasi dan Ekonomi Terpimpin. Tapi itu orang orang kritis harus disingkirkan dulu nanti bisa berisik kalau ada di dalem. Maka terjadilah,15 orang diangkat jadi Dubes dan menteri. Ada yang bercanda, sebenarnya mereka itu ditonjok tapi mereka merasa justru dikasih congcot, itu nasi liwet, makanan khas di tatar Sunda.
Dia, si drop out SR itu acuh baebeh dengan candaan tonjok rasa congcot itu. Toh dinegara sana, dia sempat merasa bahagia ketika dipanggil tuan rumah no zth hobory Mr Ambasador et. Hidungnya mendadak berkembang. Kalau tak fs langit langit saya buka saja siapa sesungguhnya si Mahiwal itu
Dia itu tiada lain dan tiada bukan adalah Adam Malik.
Dia lahir tanggal 23 Juni 1917 di Pematang Siantar. Anak ke tiga dari sepuluh bersaudara dari saudagar kaya raya Abdul Malik Batubara
Tahun 1966 sepulang dari Eropa dia diangkat jadi menteri Perdagangan. Lalu tahun 1970 ditugaskan presiden Suharto menjadi menteri Luar negeri.
Jabatan itu membuat dia terpilih menjadi ketua Majlis Umum PBB.
Dalam buku outobiografi berjudul ‘Adam Malik mengabdi republik Adam menyebut sebagai kua sidang umum PBB ia telah menegaskan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Dia juga menurut saya membendung paham komunisme yang nulsisi berhembus dari barat ( Uni Soviet) dan dari Timur (China).
Tahun 1975 Adam masuk Golkar yang mendorongnya jadi ketua DPR/ MPR
Dia itu memang cerdas, Trengginas dan piawai berdiplomasi. Kerena itu teman temanya menjuluki dia Si kancil.
Tahun 1978 si kancil terpilih menjadi wakil presiden ketiga menggantikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang kelengser keprabon
Ternyata Adam hanya bertahan satu tahun setelah melepas jabatan wakil presiden tahun 1983. Kanker liver menggerogoti tubuhnya yang sedikit kerempeng itu.
15 September 1984 malaikat Izrail mendapat Sprindik untuk menjemput si kancil pulang ke Rahmatullah
Adam, melepas nafas akhir di Setra sari rumah peristirahatan keluarga di kota Bandung
Salah satu tugas yang berhasil dilakukan oleh si kancil antara lain mensukseskan pembentukan Asean kekuatan vaeub selatan Selatan.
Sekarang tentu menunggu Adam Malik lain untuk membawa bangsa ini mengisi kemerdekaan menuju masyarakat sejahtera yang adil dan Masyarakat adil yang sejahtera .***















