Wartawan Itu Dilahirkan dan Dijadikan
Koransakti.co.id- Ada dua pendapat tentang keberadaan wartawan. Pendapat pertama ia di lahirkan. Alasannya, tidak semua orang bisa jadi pencari dan penyaji informasi.
Sebab ada beberapa lulusan sekolah jurnalistik yang tidak bisa bekerja sebagai pewarta.
Pekerjaan menjadi seorang wartawan itu, unik, sulit, pelik, namun tetep menarik. Di Amerika ada Ken Hutitson yang kekeuh berpendapat wartawan Itu harus di jadikan lewat pendidikan. Karena itu di bela belain dia mendirikan berapa sekolah Wartawan tingkat akademis di beberapa kota di Negeri Paman Sam.
Saya sendiri setuju kedua pendapat Huitson itu. Menurut saya, wartawan itu di lahirkan kemudian di jadikan. Saya tak sendirian. Setidaknya dua bagawan jurnalistik berpendapat sama.
Mereka adalah Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.
Mereka ujug ujug saja jadi wartawan bahkan bisa mendirikan dan memimpin koran. Mochtar Lubis mendirikan dan memimpin koran legendaris Indonesia Raya sedang Rosihan menjadi pemimpin redaksi Harian Pedoman.
Saya sendiri mulai biasa membaca koran koran yang terbit setiap hari. Di Bandung bursa koran ada di Cikapundung, pusat kota. Tiap hari ngadekul di sana, ikut baca kadang kadang beli satu dua lembar koran yang beritanya bagus.
Karena kepingin jadi wartawan, saya mencoba membuat berita dengan mesin tik di kantor. Eh beberapa koran memuatnya. Salah satunya koran Harian Kami.
Koran mahasiswa Itu terbit di Jakarta dan sibuk memberitakan gerakan massa atau People power dengan jargon Tritura, menurunkan Presiden Sukarno.
Setelah beberapa berita di muat, datang surat dari redaksi, di tanda tangani pemimpin redaksinya Zulharman. Isinya menawarkan kalau mau jadi wartawan silahkan. Lahan garapan di Jawa Barat. Itulah tonggak sejarah saya jadi seorang wartawan.
Kalau di hitung dari tahun 1967 berarti sudah 58 tahun saya menggeluti profesi ini. Nyaris tanpa henti. Saya juga sempat membuat rumusan kiat menjadi wartawan hebat yaitu lima at , Bakat, Minat, Semangat, akal sehat dan sepasang kaki yang kuat.















