Home / Artikel

Senin, 18 Mei 2026 - 01:44 WIB

Wartawan Itu Dilahirkan dan Dijadikan

Dedi Asikin - Penulis

Dedi Asikin (Wartawan Senior)

Dedi Asikin (Wartawan Senior)

Wartawan Itu Dilahirkan dan Dijadikan

Koransakti.co.id- Ada dua pendapat tentang keberadaan wartawan. Pendapat pertama ia di lahirkan. Alasannya, tidak semua orang bisa jadi pencari dan penyaji informasi.

Sebab ada beberapa lulusan sekolah jurnalistik yang tidak bisa bekerja sebagai pewarta.

Pekerjaan menjadi seorang wartawan itu, unik, sulit, pelik, namun tetep menarik. Di Amerika ada Ken Hutitson yang kekeuh berpendapat wartawan Itu harus di jadikan lewat pendidikan. Karena itu di bela belain dia mendirikan berapa sekolah Wartawan tingkat akademis di beberapa kota di Negeri Paman Sam.

Saya sendiri setuju kedua pendapat Huitson itu. Menurut saya, wartawan itu di lahirkan kemudian di jadikan. Saya tak sendirian. Setidaknya dua bagawan jurnalistik berpendapat sama.

Baca juga :   KEMBALI KE LAUT

Mereka adalah Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.

Mereka ujug ujug saja jadi wartawan bahkan bisa mendirikan dan memimpin koran. Mochtar Lubis mendirikan dan memimpin koran legendaris Indonesia Raya sedang Rosihan menjadi pemimpin redaksi Harian Pedoman.

Saya sendiri mulai biasa membaca koran koran yang terbit setiap hari. Di Bandung bursa koran ada di Cikapundung, pusat kota. Tiap hari ngadekul di sana, ikut baca kadang kadang beli satu dua lembar koran yang beritanya bagus.

Karena kepingin jadi wartawan, saya mencoba membuat berita dengan mesin tik di kantor. Eh beberapa koran memuatnya. Salah satunya koran Harian Kami.

Baca juga :   Insiden Doorstop Jambi: Humas Seharusnya Jadi Mitra, Bukan Penghalang

Koran mahasiswa Itu terbit di Jakarta dan sibuk memberitakan gerakan massa atau People power dengan jargon Tritura, menurunkan Presiden Sukarno.

Setelah beberapa berita di muat, datang surat dari redaksi, di tanda tangani pemimpin redaksinya Zulharman. Isinya menawarkan kalau mau jadi wartawan silahkan. Lahan garapan di Jawa Barat. Itulah tonggak sejarah saya jadi seorang wartawan.

Kalau di hitung dari tahun 1967 berarti sudah 58 tahun saya menggeluti profesi ini. Nyaris tanpa henti. Saya juga sempat membuat rumusan kiat menjadi wartawan hebat yaitu lima at , Bakat, Minat, Semangat, akal sehat dan sepasang kaki yang kuat.

 

Berita ini 9 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Benarkah Madu Tidak Bisa Basi? Makanan Firaun yang Masih Bisa Dimakan Setelah 3.000 Tahun

Artikel

Kenapa Madu Tidak Bisa Basi (Awet Selamanya)? Kenalan dengan H2O2, Zat Pengawet Buatan Lebah!
Review & Cara Dapat Uang dari Fizzo Novel 2025: Baca Cerita, Cair ke DANA (Terbukti Membayar)

Artikel

Review Fizzo Novel 2026: Hobi Baca Cerita Cinta & Horor, Dibayar Saldo DANA (Cuan Paling Santai!)

Artikel

Strategi Direktur BRMS Borong Saham Saat Harga Anjlok: Aksi Akumulasi Charles Gobel di Tengah Volatilitas Pasar Gold Miner

Artikel

PLTN dan Masa Depan yang Lebih Terang
Jakpat (Jajak Pendapat)

Artikel

Review Jakpat 2026: Aplikasi Survei Asli Indonesia, “Jual Suara” Anda Ditukar Pulsa & Saldo E-Wallet (Pasti Cair!)

Artikel

JANGAN ABAIKAN PONDOK PESANTREN 
Hari Gizi Nasional 25 Januari 2026: Tema "Pangan Lokal", Sejarah Singkat, & Link Download Logo Resmi (HGN Ke-66)

Artikel

Hari Gizi Nasional 25 Januari 2026: Tema “Pangan Lokal”, Sejarah Singkat, & Link Download Logo Resmi (HGN Ke-66)

Artikel

Mengenal Aksara Incung, Aksara Kuno Kerinci yang Hampir Terlupakan