MOSKWA, RUSIA (KORANSAKTI) – Presiden Rusia Vladimir Putin menolak mentah-mentah usulan dari negara-negara Barat. Usulan itu terkait pengerahan “pasukan penjamin keamanan” di Ukraina setelah gencatan senjata tercapai. Putin bahkan memperingatkan bahwa setiap pasukan asing yang dikerahkan akan menjadi “target yang sah” bagi militer Rusia.
Penolakan keras ini disampaikan setelah 26 negara sekutu Ukraina bertemu dalam sebuah konferensi tingkat tinggi di Paris. Dalam pertemuan itu, mereka secara resmi berkomitmen untuk rencana keamanan tersebut.
Rencana ‘Pasukan Penjamin Keamanan’ dari Barat
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengumumkan hasil pertemuan di Paris pada hari Kamis (4/9). Ia menyatakan 26 negara sekutu siap mengerahkan pasukan “melalui darat, laut, atau udara” untuk menjamin keamanan Ukraina saat pertempuran berhenti.
Macron menegaskan bahwa pasukan ini bertujuan untuk mencegah “agresi besar baru” di masa depan. Ia juga menekankan bahwa pasukan tersebut tidak akan ditempatkan di garis depan dan tidak bertujuan untuk berperang melawan Rusia.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyambut baik keputusan ini. Ia menyebutnya sebagai langkah konkret pertama untuk keamanan negaranya.
Peringatan Keras dari Kremlin
Vladimir Putin dengan cepat menanggapi inisiatif tersebut. Dalam sebuah forum ekonomi di Vladivostok, ia mempertanyakan perlunya kehadiran pasukan asing di Ukraina jika perdamaian jangka panjang telah tercapai.
Juru bicaranya, Dmitry Peskov, bahkan lebih keras. Ia mengatakan kepada BBC bahwa pasukan asing, baik dari NATO maupun bukan, akan menjadi bahaya bagi Rusia. “Karena kami adalah musuh NATO,” ujarnya.
Putin sendiri mengatakan bahwa ia siap untuk berkomunikasi dengan Zelensky, namun ia tidak melihat banyak gunanya. “Hampir mustahil untuk mencapai kesepakatan dengan pihak Ukraina mengenai isu-isu utama,” kata Putin.
Jalan Buntu Menuju Gencatan Senjata
Saat ini, harapan untuk gencatan senjata dalam waktu dekat tampak suram. Ukraina meyakini gencatan senjata harus disepakati terlebih dahulu sebelum negosiasi damai yang lebih luas. Sebaliknya, Rusia bersikeras bahwa kampanye militernya tidak akan berakhir sebelum ada kesepakatan damai penuh.
Para pemimpin Barat percaya bahwa Rusia hanya mengulur-ulur waktu. Tujuannya adalah untuk merebut lebih banyak wilayah Ukraina seiring berjalannya perang yang telah berlangsung selama 42 bulan ini.















