koransakti.co.id – Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, mengumumkan perubahan kebijakan luar negeri yang signifikan. Pada hari Minggu (21/9/2025), Inggris secara resmi mengakui negara Palestina. Langkah bersejarah ini dengan cepat diikuti oleh negara-negara sekutunya, yaitu Australia, Kanada, dan Portugal.
Pengumuman ini datang di saat upaya perdamaian di Timur Tengah menemui jalan buntu dan krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Namun, keputusan ini langsung menuai kecaman keras dari pemerintah Israel.
Pesan Starmer: “Menjaga Kemungkinan Perdamaian”
Dalam sebuah pernyataan video, PM Starmer mengatakan bahwa keputusan ini diambil untuk menjaga harapan akan solusi dua negara tetap hidup. “Di tengah kengerian yang terus tumbuh di Timur Tengah, kami bertindak untuk menjaga kemungkinan perdamaian dan solusi dua negara,” ujarnya.
Starmer dengan tegas menolak anggapan bahwa pengakuan ini adalah “hadiah untuk Hamas”. Ia menegaskan bahwa visi solusi dua negara adalah kebalikan dari visi kebencian yang diusung oleh Hamas. Menurutnya, Hamas tidak memiliki masa depan dan peran dalam pemerintahan Palestina yang diakui.
Reaksi Keras dari Israel
Pemerintah Israel merespons keputusan ini dengan sangat marah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa sebuah negara Palestina “tidak akan terjadi”.
“Anda memberikan hadiah besar bagi terorisme,” kata Netanyahu, merujuk pada serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, bahkan bereaksi lebih ekstrem. Ia menyerukan agar Israel mencaplok Tepi Barat dan membubarkan Otoritas Palestina sebagai balasan.
Dukungan dan Kritik dari Berbagai Pihak
Keputusan ini disambut baik oleh Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas. Ia mengatakan langkah ini akan membantu membuka jalan bagi “negara Palestina untuk hidup berdampingan dengan negara Israel dalam keamanan dan perdamaian.”
Namun, di Inggris sendiri, keputusan ini menuai kritik dari pihak oposisi. Pemimpin Konservatif, Kemi Badenoch, menyebut langkah ini “sangat membawa bencana”. Sementara itu, Forum Keluarga Sandera dan Hilang di Inggris mengutuk keputusan ini sebagai “pengkhianatan terhadap kemanusiaan” yang justru akan menguatkan Hamas.
Di sisi lain, Hamas menyambut baik pengakuan ini sebagai “langkah penting”, namun menuntut adanya “tindakan praktis” untuk mengakhiri perang.















