koransakti.co.id – Di pedalaman Australia Barat, hidup salah satu tanaman paling misterius dan langka di planet ini: anggrek bawah tanah Rhizanthella gardneri. Spesies unik ini menjalani seluruh siklus hidupnya—mulai dari berkecambah, tumbuh, hingga berbunga—sepenuhnya di bawah permukaan tanah.
Namun, keajaiban botani ini kini berada di ambang kepunahan. Dengan populasi liar yang sangat kecil, bahkan terkadang tidak ditemukan sama sekali dalam setahun, para ilmuwan kini berpacu dengan waktu untuk menyelamatkannya.
Simbiosis Unik Tiga Arah
Rhizanthella gardneri mampu bertahan hidup tanpa sinar matahari, daun, ataupun akar berkat sistem pendukung kehidupan yang sangat kompleks. Anggrek ini menjalin aliansi tiga arah yang rumit: ia terhubung dengan semak Melaleuca uncinata yang tumbuh di atas tanah melalui jamur spesifik berbentuk benang putih.
Jamur ini bertindak sebagai jembatan, menyalurkan nutrisi dari semak ke anggrek, memungkinkannya untuk tumbuh dan berkembang. Ketergantungan pada dua organisme lain ini membuat anggrek bawah tanah menjadi sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.
Ancaman Ganda: Hilangnya Habitat dan Perubahan Iklim
Ancaman terbesar bagi anggrek ini adalah hilangnya habitat secara masif. Lahan tempatnya tumbuh telah banyak diubah menjadi pemukiman, jalan raya, dan pertanian, sehingga tidak ada lagi tempat bagi anggrek untuk “melarikan diri” saat kondisi lingkungan berubah.
“Itulah malapetaka yang dihadapi spesies terancam di seluruh dunia, hilangnya habitat, dan kemudian, tidak ada tempat untuk melarikan diri,” kata Profesor Kingsley Dixon, seorang ahli botani dari University of Western Australia.
Perubahan iklim memperburuk situasi. Peningkatan frekuensi kebakaran hutan dapat menghancurkan semak Melaleuca dan mengubah komunitas jamur di dalam tanah, membuat ekosistemnya tidak lagi layak untuk kelangsungan hidup anggrek.
Upaya Penyelamatan di Laboratorium
Di tengah ancaman kepunahan, Profesor Kingsley Dixon, yang telah terpesona dengan anggrek ini sejak kecil, memimpin sebuah upaya penyelamatan yang ambisius. Ia dan tim relawannya berusaha untuk menumbuhkan “koleksi penangkaran” anggrek ini di laboratorium.
Prosesnya sangat teliti: mereka menumbuhkan semak Melaleuca di dalam pot, menghidupkan kembali jamur simbiosisnya di laboratorium, dan kemudian menempatkan jamur serta biji anggrek yang sangat berharga pada akar semak tersebut.
Tujuannya adalah untuk menciptakan populasi cadangan yang aman, seandainya anggrek ini benar-benar punah di alam liar. Bagi Dixon, upaya yang melelahkan ini didorong oleh kecintaannya yang mendalam terhadap keajaiban botani yang telah ia kagumi seumur hidupnya.
baca juga Pidato Prabowo di PBB Tuai Pujian, Penulis Pidato SBY: Bangga dan Terharu – Koran Sakti















