koransakti.co.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi memberlakukan kembali sanksi ekonomi dan militer yang luas terhadap Iran. Langkah ini diambil tepat 10 tahun setelah sanksi tersebut dicabut melalui perjanjian nuklir internasional bersejarah pada tahun 2015.
Tiga negara Eropa yang menjadi mitra dalam perjanjian tersebut—Inggris, Prancis, dan Jerman—mengaktifkan mekanisme yang dikenal sebagai “snapback”. Mereka menuduh Iran terus melakukan “eskalasi nuklir” dan menunjukkan kurangnya kerja sama.
Pemicu Sanksi: Eskalasi Nuklir dan Penangguhan Inspeksi
Keputusan untuk memberlakukan kembali sanksi ini merupakan puncak dari ketegangan yang meningkat. Iran sebelumnya menangguhkan inspeksi fasilitas nuklirnya, yang merupakan kewajiban hukum di bawah perjanjian 2015 (JCPOA), setelah Israel dan Amerika Serikat mengebom beberapa situs nuklir dan pangkalan militernya pada bulan Juni.
Meskipun Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya tidak berniat mengembangkan senjata nuklir, ketiga negara Eropa (E3) merasa tidak punya pilihan lain. Mereka menyebut Iran telah “berulang kali melanggar” komitmennya, terutama karena menolak memberikan akses kembali kepada inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
“Iran belum mengizinkan inspektur IAEA untuk mendapatkan kembali akses ke situs nuklir Iran, juga belum membuat dan mengirimkan laporan yang mempertanggungjawabkan stok uranium yang diperkaya,” sebut pernyataan bersama E3.
Diplomasi Buntu di Tengah Ketegangan
Langkah ini menandai pukulan terbaru bagi kesepakatan JCPOA yang dulu sempat dipuji sebagai titik balik hubungan Barat dengan Iran. Iran sendiri meningkatkan aktivitas nuklirnya setelah Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump keluar dari perjanjian tersebut pada 2018.
Pembicaraan di sela-sela Sidang Umum PBB pekan ini antara E3 dan Iran gagal mencapai kesepakatan yang bisa menunda pemberlakuan sanksi. Menanggapi hal ini, Presiden Pezeshkian menyebut sanksi tersebut “tidak adil dan ilegal”.
Meskipun begitu, negara-negara Eropa masih berharap pintu diplomasi tetap terbuka. “Pemberlakuan kembali sanksi PBB bukanlah akhir dari diplomasi,” kata mereka dalam pernyataan bersama, sambil mendesak Iran untuk menahan diri dari tindakan eskalasi lebih lanjut.
Sementara itu, Israel menyambut baik penerapan kembali sanksi ini dan menyerukan komunitas internasional untuk menggunakan “setiap alat” guna mencegah Iran menjadi negara berkekuatan nuklir.















