Home / Internasional / Konflik

Selasa, 7 Oktober 2025 - 12:34 WIB

Dua Tahun Berlalu, Ibu Sandera Israel Ini Belum Tahu Anaknya Hidup atau Mati

koransakti - Penulis

Herut Nimrodi berharap rencana damai yang diusulkan Presiden AS Donald Trump dapat membawa pulang putranya, Tamir, setelah dua tahun disandera. (Sumber: BBC)

Herut Nimrodi berharap rencana damai yang diusulkan Presiden AS Donald Trump dapat membawa pulang putranya, Tamir, setelah dua tahun disandera. (Sumber: BBC)

koransakti.co.id – Tepat dua tahun setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, seorang ibu dari sandera Israel berbagi kisah pilunya. Herut Nimrodi, ibu dari Tamir Nimrodi, hingga kini masih hidup dalam ketidakpastian yang menyiksa: ia tidak tahu apakah putranya masih hidup atau sudah meninggal.

Tamir adalah satu-satunya sandera asal Israel yang nasibnya belum pernah dikonfirmasi sama sekali oleh pihak manapun. Meskipun begitu, Herut mengaku memiliki “harapan nyata” setelah Presiden AS Donald Trump mengusulkan rencana damai baru untuk Gaza.

Harapan Baru dari Rencana Damai Trump

Di tengah pembicaraan yang kembali berjalan antara Israel dan Hamas, Herut merasa ada yang berbeda kali ini. Ia menaruh harapan besar pada proposal perdamaian yang diusulkan oleh Trump.

“Mereka telah mencoba membuat kesepakatan sejak lama tetapi tidak berhasil. Kali ini rasanya berbeda. Ada harapan nyata bahwa ini adalah kesepakatan yang terakhir,” ujar Herut kepada BBC.

Baca juga :   Iran: Negeri Persia “Kuat dan Percaya Diri”

Ia secara khusus lega karena proposal tersebut mencantumkan pembebasan semua sandera—baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal—pada fase pertama. “Ini adalah berkah bagi kami,” katanya, seraya menambahkan bahwa pemulangan jenazah akan memberikan “penutupan” bagi keluarga yang berduka.

Melihat Video Penculikan di Instagram

Herut mengenang kembali momen mengerikan pada 7 Oktober 2023. Kontak terakhirnya dengan Tamir, seorang tentara non-kombatan yang saat itu berusia 18 tahun, adalah pesan singkat pada pukul 06:49 pagi. Tamir memberitahunya tentang serangan roket yang “tiada henti”.

Dua puluh menit kemudian, Tamir diculik. Keluarga mengetahui nasibnya setelah putri bungsu Herut yang saat itu berusia 14 tahun, berteriak histeris saat melihat video penculikan kakaknya di Instagram.

Baca juga :   WHO Rilis Panduan Baru untuk Hentikan Kematian Akibat Pendarahan Pasca-Persalinan

“Saya melihat Tamir mengenakan piyamanya. Dia tanpa alas kaki. Dia tidak memakai kacamata, padahal dia hampir tidak bisa melihat tanpanya. Dia sangat ketakutan,” kenang Herut.

‘Satu Hari yang Panjang dan Melelahkan’

Bagi Herut dan keluarga sandera lainnya, dua tahun terakhir terasa seperti “satu hari yang panjang dan melelahkan”. Ia terus berjuang, dari lobi politik hingga turun ke jalan dalam unjuk rasa, menuntut pembebasan putranya.

Pada Sabtu malam lalu, ia bergabung dengan puluhan ribu orang di Tel Aviv, menyerukan agar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menerima kesepakatan damai tersebut.

“Saya percaya pada kesepakatan ini,” katanya. “Berharap selama dua tahun… ini benar-benar melelahkan.”

Berita ini 37 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Internasional

Xabi Alonso Pagari Enzo Fernandez dari Rumor Transfer, Siap Bawa Chelsea Bangkit!

Internasional

Partai Pro-Uni Eropa Menang Telak di Pemilu Moldova di Tengah Tuduhan Intervensi Rusia

Internasional

Bangladesh Umumkan Rencana 7 Poin untuk Lindungi Pengungsi Rohingya di PBB

Internasional

Presiden Prabowo dan Pangeran MBS Tandatangani Minutes of Meeting Dewan Koordinasi Tertinggi Indonesia–Arab Saudi

Internasional

Trump Sebut Hamas Tak Mau Damai, AS dan Israel Tinggalkan Negosiasi Gencatan Senjata Gaza

Internasional

Italia di Persimpangan Jalan: Ini Skenario Lolos ke Piala Dunia 2026 Lewat Playoff
Hat-trick Kilat Hancurkan Manchester City 3-0

Internasional

Hat-trick Kilat Hancurkan Manchester City 3-0

Internasional

Presiden Prabowo Tiba di Singapura untuk Hadiri Parade Hari Nasional