Oleh : DEDI ASIKIN
koransakti.co.id- Berita Jawa Barat kemarin merilis kabupaten Garut sesudah 9 tahun libur. Bulan Desember ini kembali memberangkatkan 2 keluarga dengan jumlah 8 orang. Mereka menuju obyek transmigrasi di Parlanamu kabupaten Polewali Sulawesi Barat, Kata Kepala Dinas Tenaga kerja dan transmigrasi kabupaten Garut H. Mukhsin, S.Sos., MSI
Sebelumnya kata Muksin mereka di beri pengarahan dan bimbingan oleh tim lintas sektoral pemkab Garut. Mereka di bekali uang untuk nambah biaya perjalanan Rp. 2 juta masing-masing kepala keluarga
Di sana mereka akan di beri latihan terlebih dulu tentang teknik-teknik penanganan oleh Disnaker kabupaten Polewali Mandar.
Mereka boleh pilih mau berkebun kakao, kelapa atau kopi. Lahan satu hektar masing-masing telah di sediakan secara gratis.
Produksi mereka akan di tampung oleh perusahaan yang sudah berdiri di sana, Kadisnakertrans Muksin menambahkan bahwa keluarga itu telah terpilih untuk berangkat melalui seleksi yang ketat.
Berita ini tentu menggembirakan banyak pihak utamanya para pemerhati masalah kependudukan dan transmigrasi yang sejak 5 tahun lalu tidak terdengar gerakannya.
Garut boleh berbangga kerena boleh di bilang menjadi pelopor kebangkitan transmigrasi di Jawa Barat bahkan di NKRI.
KH Engkos Kosasih pengurus dan aktivis Presidium Tasela belum lama memposting tentang hari transmigrasi Nasional. Menurut dia transmigrasi itu telah ada sejak tahun 1905.
Pemerintah kolonial telah memindahkan sejumlah penduduk dari Jawa Tengah yang daerah dianggap terlalu padat ke beberapa daerah untuk membantu mengembangkan perkebunan di luar Jawa.
Bung Karno telah menyinggung dan mengusulkan perpindahan penduduk itu tahun 1927.
Lalu setelah merdeka dan menjadi presiden pemerintah orde lama mengirim sejumlah penduduk Jawa ke Lampung untuk mengembangkan pertanian di sana.
Upaya pemerataan penduduk itu di teruskan oleh pemerintah orde Baru. Selama tahun 1970-1980 tercatat sekitar 8 juta penduduk pulau Jawa yang di transmigrasikan ke beberapa tempat di luar Jawa terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Mengukur keberhasilan sektor perpindahan penduduk alias transmigrasi harus di lihat dari kuantitatif dan kualitatif. Yang paling signifikan adalah kualitas hidup alias ekonomi mereka meningkat lebih baik di tempat tinggal yang baru.
Saya pernah ke Jambi. Disana bertemu dengan H Masjan bertranmigrasi dari Padaherang Banten tahun 1997. Termasuk berhasil. Dia menguasai 200 hektar kebun sawit dengan penghasilan Rp 200 juta sebulan.
Waktu itu Masjan baru selesai membangun sebuah mini market untuk salah seorang anaknya yang Ikut bertransmigrasi.
Menurut dia modal keberhasilannya hanya kerja keras dan tekun bekerja. Kepada KH Engkos Kosasih yang suka saya panggil pangeran, dia mengatakan gerakan transmigrasi yang sudah lebih dari satu abad itu harus di lanjut. Semboyannya harus lebih baik secara kuantitatif dan kualitatif. Penduduk merata dengan ekonomi yang sejahtera.
Ini awal yang baik yaitu menggeliat nya upaya perpindahan penduduk dari tempat padat ke tempat yang lowong.















