koransakti.co.id – Rabu, 31 Desember 2025. Malam ini kita akan meniup terompet dan berteriak “Happy New Year!” dengan penuh semangat. Padahal secara objektif, tanggal 1 Januari besok matahari terbit sama saja, macet masih ada, dan tagihan listrik tetap harus dibayar.
Kenapa manusia memiliki keyakinan irasional bahwa “Masa depan pasti lebih baik dari masa lalu”? Neurosaintis Tali Sharot menyebut fenomena ini sebagai The Optimism Bias.
1. Statistik vs Keyakinan Pribadi
Sekitar 80% manusia memiliki bias ini. Contoh simpel: Orang tahu statistik perceraian itu tinggi (sekitar 40%). Tapi saat menikah, hampir 100% orang yakin mereka tidak akan bercerai. Di malam tahun baru, kita cenderung:
Overestimate (Melebih-lebihkan) peluang hal baik (naik gaji, dapat jodoh, kurus).
Underestimate (Mengecilkan) peluang hal buruk (sakit, di-PHK, kecelakaan).
2. Kerja Bagian “Frontal Cortex”
Saat kita memikirkan masa depan (tahun 2026), bagian otak bernama Inferior Frontal Gyrus bekerja sangat keras. Bagian ini bertugas memblokir prediksi-prediksi negatif dan hanya memproses informasi positif. Jadi, saat Anda bikin resolusi “Tahun depan aku bakal rajin gym”, otak Anda secara harfiah mematikan memori bahwa tahun lalu Anda malas-malasan. Otak menipu Anda agar Anda percaya Anda adalah “orang baru”.
3. Kenapa Otak Menipu Kita?
Apakah ini buruk? Tidak. Ini adalah mekanisme evolusi untuk Bertahan Hidup. Bayangkan jika nenek moyang kita realistis: “Ah, keluar gua pasti dimakan singa. Mending diem aja.” Mereka akan mati kelaparan. Optimism Bias memberi kita dopamin dan motivasi untuk terus bergerak maju, mencoba hal baru, dan bangkit dari kegagalan.
Tanpa ilusi optimisme ini, manusia mungkin akan terus-menerus mengalami kecemasan dan depresi memikirkan masa depan yang tidak pasti.
Kesimpulan Sains: Jadi, nanti malam saat Anda merasa sangat yakin tahun 2026 akan luar biasa, nikmatilah perasaan itu! Meskipun itu sedikit “halusinasi” otak, tapi itulah bensin yang Anda butuhkan untuk menjalani hidup setahun ke depan.















