koransakti.co.id – Anda sedang asyik berenang atau berendam air hangat. Tiga puluh menit kemudian, Anda melihat jari-jari tangan dan kaki Anda berubah menjadi keriput, layu, dan mirip kismis.
Banyak orang mengira ini terjadi karena kulit kita menyerap air berlebihan (seperti spons yang bengkak). Padahal, jawabannya jauh lebih keren dari itu.
Di Pojok Sains siang ini, mari kita bongkar rahasia “teknologi ban anti-selip” alami milik manusia.
Mitos: Kulit Menyerap Air (Osmosis)
Dulu, ilmuwan mengira air masuk ke lapisan kulit luar, membuatnya bengkak dan melipat. Faktanya: Jika saraf jari Anda putus (karena cedera), jari tersebut tidak akan keriput meskipun direndam air seharian.
Ini membuktikan bahwa keriput itu dikendalikan oleh Sistem Saraf Otak, bukan reaksi pasif air masuk ke kulit.
Penjelasan Ilmiah: Teknologi ‘Ban Basah’
Saat tubuh mendeteksi kondisi basah dalam waktu lama, otak mengirim sinyal ke pembuluh darah di ujung jari untuk mengerut (menyempit).
Saat pembuluh darah mengecil, volume daging di bawah kulit berkurang, sehingga kulit di atasnya menjadi longgar dan melipat-lipat (keriput).
Untuk Apa? (Evolusi)
Para peneliti dari Newcastle University menemukan bahwa jari yang keriput berfungsi seperti alur pada ban mobil (tapak ban).
Cengkraman Lebih Kuat: Di zaman purba, nenek moyang kita sering mencari makan (ikan/kerang) di sungai licin saat hujan. Jari yang keriput membantu mengalirkan air keluar dari sela-sela kulit, sehingga tangan tidak licin saat memegang benda basah.
Anti-Selip: Keriput di jari kaki membantu kita berjalan lebih stabil di atas batu yang basah dan berlumut agar tidak terpeleset.
Kesimpulan
Jadi, jari keriput bukanlah tanda kulit Anda rusak atau “masuk air”. Itu adalah fitur canggih (transformasi) yang diaktifkan otak Anda agar Anda punya cengkraman “super” di dalam air. Tubuh manusia memang ajaib!
Baca juga: Pojok Sains: Fenomena Déjà Vu, Benarkah Kita Pernah Mengalaminya di Kehidupan Masa Lalu?















