Home / Fakta Unik

Selasa, 23 Desember 2025 - 10:27 WIB

Pojok Sains: Kenapa Waktu Terasa Berjalan Lebih Cepat Saat Kita Dewasa? Tahun 2025 Terasa Singkat, Ini Alasannya!

koransakti - Penulis

Waktu tidak berjalan lebih cepat, persepsi otak kitalah yang berubah. Semakin sedikit kenangan baru yang dibuat, semakin cepat waktu terasa hilang. (Foto: Freepik/koransakti)

Waktu tidak berjalan lebih cepat, persepsi otak kitalah yang berubah. Semakin sedikit kenangan baru yang dibuat, semakin cepat waktu terasa hilang. (Foto: Freepik/koransakti)

koransakti.co.id – “Lho, kok sudah tanggal 23 Desember lagi? Perasaan baru kemarin bakar jagung tahun baru 2025!”

Apakah kalimat itu terlintas di pikiran Anda? Jika iya, Anda tidak sendirian. Hampir semua orang dewasa merasakan fenomena aneh ini: Semakin bertambah usia, jarum jam seolah berputar lebih cepat.

Saat kita SD, menunggu liburan kenaikan kelas rasanya lama sekali, bagaikan seabad. Tapi sekarang, satu tahun rasanya lewat dalam satu kedipan mata. Apakah bumi berputar lebih cepat? Tentu tidak. Jawabannya ada di dalam cara otak kita memproses memori.

Para ilmuwan memiliki beberapa teori kuat untuk menjelaskan fenomena ini.

1. Teori Proporsional (Paul Janet)

Filsuf Prancis, Paul Janet, mengajukan teori matematika yang masuk akal. Menurutnya, kita merasakan waktu berdasarkan persentase dari total hidup yang sudah kita jalani.

Mari kita hitung:

  • Bagi anak umur 5 tahun, jangka waktu satu tahun adalah 20% dari seluruh hidupnya. Itu porsi yang sangat besar! Makanya satu tahun terasa sangat lama dan penuh peristiwa bagi mereka.

  • Bagi orang dewasa umur 50 tahun, jangka waktu satu tahun hanyalah 2% dari seluruh hidupnya. Itu porsi yang sangat kecil.

Baca juga :   Pojok Sains: Benarkah Tidak Ada Dua Keping Salju yang Sama Persis? Ini Rahasia "Teori Chaos" di Balik Kristal Es

Otak kita secara tidak sadar membandingkan durasi “sekarang” dengan total durasi “masa lalu”. Karena “masa lalu” kita makin panjang, durasi satu tahun jadi terlihat makin kerdil.

2. Efek Rutinitas (Musuh Ingatan)

Alasan kedua lebih berkaitan dengan cara kerja hippocampus (bagian otak penyimpan memori). Otak kita didesain untuk merekam hal-hal baru.

  • Masa Kecil: Semuanya serba pertama kali. Hari pertama sekolah, pertama kali bisa naik sepeda, pertama kali jatuh cinta, pertama kali liburan ke pantai. Karena banyak informasi baru, otak bekerja keras merekam detailnya. Hasilnya? “File” memori menjadi tebal, sehingga saat diingat kembali, masa itu terasa panjang.

  • Masa Dewasa: Hidup kita menjadi rutinitas. Bangun, macet-macetan, kerja di kantor yang sama, pulang, tidur. Ulangi selama 300 hari. Karena tidak ada hal baru, otak berhenti merekam detail. Otak berkata, “Ah, ini sama kayak kemarin, nggak usah direkam.”

Akibatnya, saat Anda menengok ke belakang di akhir tahun 2025, otak Anda tidak menemukan banyak “file” baru. Tahun ini terasa kosong dan cepat karena isinya hanya pengulangan rutinitas yang membosankan.

Baca juga :   Pojok Sains: Suka Minum Soda Pas Pesta? Ternyata Sensasi "Nyegrak" Itu Bukan Rasa, Tapi Reseptor Rasa Sakit! Ini Fakta Ilmiahnya

3. Cara Memperlambat Waktu di 2026

Jadi, bisakah kita memperlambat waktu? Secara fisika tidak bisa, tapi secara psikologis bisa. Kuncinya adalah: Lawan Rutinitas.

Untuk membuat tahun 2026 terasa lebih lama dan bermakna, Anda harus memberi makan otak dengan pengalaman baru.

  • Ambil rute jalan pulang yang berbeda.

  • Belajar skill baru yang sulit (belajar bahasa asing atau alat musik).

  • Pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi.

Semakin banyak memori baru yang Anda ciptakan, semakin “lambat” dan kaya waktu yang Anda rasakan. Jangan biarkan hidup Anda berjalan autopilot. Matikan mode robot itu, dan mulailah benar-benar “hidup” di tahun depan!

Baca juga:

  1. Pojok Sains: Mengapa Kembang Api Bisa Berwarna-warni? Ini Rahasia Kimia di Balik Ledakan Indah Tahun Baru
  2. Pojok Sains: Kopi Tidak Memberi Energi! Ini Fakta Mengerikan Cara Kafein “Membohongi” Otak Anda
Berita ini 52 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Pojok Sains: Resolusi Tahun Baru Sering Gagal? Ternyata Otak Butuh 66 Hari Buat Ganti Kebiasaan, Bukan 21 Hari!

Fakta Unik

Pojok Sains: Resolusi Tahun Baru Sering Gagal? Ternyata Otak Butuh 66 Hari Buat Ganti Kebiasaan, Bukan 21 Hari!
Pojok Sains: Habis Makan Enak Kok Malah Ngantuk Berat? Kenalan dengan "Food Coma" yang Sering Menyerang Saat Natal

Fakta Unik

Pojok Sains: Habis Makan Enak Kok Malah Ngantuk Berat? Kenalan dengan “Food Coma” yang Sering Menyerang Saat Natal

Bilogi

Misteri di Balik Keindahan “Miss Willmott’s Ghost”, Si Hantu Perak yang Menawan

Edukasi

Radar Alami Nyamuk: Alasan Mengapa Kamu Tetap Digigit di Ruang Gelap
Kenapa Main HP Sebelum Tidur Bikin Insomnia? Kenalan dengan Melatonin (C13H16N2O2), Si "Vampir" Takut Cahaya!

Artikel

Kenapa Main HP Sebelum Tidur Bikin Insomnia? Kenalan dengan Melatonin (C13H16N2O2), Si “Vampir” Takut Cahaya!
Spiderman Dunia Nyata! Terungkap Alasan Ilmiah Kenapa Cicak Tidak Jatuh Saat Merayap di Plafon (Ternyata Kakinya Tidak Lengket!)

Artikel

Spiderman Dunia Nyata! Terungkap Alasan Ilmiah Kenapa Cicak Tidak Jatuh Saat Merayap di Plafon (Ternyata Kakinya Tidak Lengket!)
Pojok Kimia: Si Manis yang Mematikan, Bedah Rumus Kimia Gula Pasir (C12H22O11) dan Efek "Sugar Rush"

Artikel

Si Manis yang Mematikan, Bedah Rumus Kimia Gula Pasir (C12H22O11) dan Efek “Sugar Rush”
Pojok Sains: Kenapa Bersih-bersih Rumah Bikin Perasaan Lega? Rahasia Otak di Balik Tren "Decluttering" Akhir Tahun

Fakta Unik

Pojok Sains: Kenapa Bersih-bersih Rumah Bikin Perasaan Lega? Rahasia Otak di Balik Tren “Decluttering” Akhir Tahun