koransakti.co.id – “Lho, kok sudah tanggal 23 Desember lagi? Perasaan baru kemarin bakar jagung tahun baru 2025!”
Apakah kalimat itu terlintas di pikiran Anda? Jika iya, Anda tidak sendirian. Hampir semua orang dewasa merasakan fenomena aneh ini: Semakin bertambah usia, jarum jam seolah berputar lebih cepat.
Saat kita SD, menunggu liburan kenaikan kelas rasanya lama sekali, bagaikan seabad. Tapi sekarang, satu tahun rasanya lewat dalam satu kedipan mata. Apakah bumi berputar lebih cepat? Tentu tidak. Jawabannya ada di dalam cara otak kita memproses memori.
Para ilmuwan memiliki beberapa teori kuat untuk menjelaskan fenomena ini.
1. Teori Proporsional (Paul Janet)
Filsuf Prancis, Paul Janet, mengajukan teori matematika yang masuk akal. Menurutnya, kita merasakan waktu berdasarkan persentase dari total hidup yang sudah kita jalani.
Mari kita hitung:
Bagi anak umur 5 tahun, jangka waktu satu tahun adalah 20% dari seluruh hidupnya. Itu porsi yang sangat besar! Makanya satu tahun terasa sangat lama dan penuh peristiwa bagi mereka.
Bagi orang dewasa umur 50 tahun, jangka waktu satu tahun hanyalah 2% dari seluruh hidupnya. Itu porsi yang sangat kecil.
Otak kita secara tidak sadar membandingkan durasi “sekarang” dengan total durasi “masa lalu”. Karena “masa lalu” kita makin panjang, durasi satu tahun jadi terlihat makin kerdil.
2. Efek Rutinitas (Musuh Ingatan)
Alasan kedua lebih berkaitan dengan cara kerja hippocampus (bagian otak penyimpan memori). Otak kita didesain untuk merekam hal-hal baru.
Masa Kecil: Semuanya serba pertama kali. Hari pertama sekolah, pertama kali bisa naik sepeda, pertama kali jatuh cinta, pertama kali liburan ke pantai. Karena banyak informasi baru, otak bekerja keras merekam detailnya. Hasilnya? “File” memori menjadi tebal, sehingga saat diingat kembali, masa itu terasa panjang.
Masa Dewasa: Hidup kita menjadi rutinitas. Bangun, macet-macetan, kerja di kantor yang sama, pulang, tidur. Ulangi selama 300 hari. Karena tidak ada hal baru, otak berhenti merekam detail. Otak berkata, “Ah, ini sama kayak kemarin, nggak usah direkam.”
Akibatnya, saat Anda menengok ke belakang di akhir tahun 2025, otak Anda tidak menemukan banyak “file” baru. Tahun ini terasa kosong dan cepat karena isinya hanya pengulangan rutinitas yang membosankan.
3. Cara Memperlambat Waktu di 2026
Jadi, bisakah kita memperlambat waktu? Secara fisika tidak bisa, tapi secara psikologis bisa. Kuncinya adalah: Lawan Rutinitas.
Untuk membuat tahun 2026 terasa lebih lama dan bermakna, Anda harus memberi makan otak dengan pengalaman baru.
Ambil rute jalan pulang yang berbeda.
Belajar skill baru yang sulit (belajar bahasa asing atau alat musik).
Pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi.
Semakin banyak memori baru yang Anda ciptakan, semakin “lambat” dan kaya waktu yang Anda rasakan. Jangan biarkan hidup Anda berjalan autopilot. Matikan mode robot itu, dan mulailah benar-benar “hidup” di tahun depan!
Baca juga:















