Home / Kesehatan

Jumat, 27 Februari 2026 - 11:03 WIB

Mengapa Penderita Kleptomania Sulit Mengendalikan Diri?

Fadilah - Penulis

Kleptomania.

Kleptomania.

Koransakti.co.id – Kleptomania adalah gangguan kesehatan mental yang memiliki ciri punya dorongan berulang untuk mencuri.

Tindakan ini bukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun keinginan memiliki barang tertentu.

Penderitanya sering kali justru mampu membeli barang tersebut, namun tetap terdorong mengambilnya karena ketidakmampuan menahan impuls.

Inilah yang membedakan kleptomania dari pencurian yang bermotif kriminal.

Salah satu karakteristik utama kondisi ini adalah munculnya keinginan mencuri secara tiba-tiba di berbagai tempat, baik di ruang publik seperti pusat perbelanjaan maupun di lingkungan pribadi.

Sebelum melakukan tindakan, penderita biasanya merasakan ketegangan emosional yang semakin meningkat.

Baca juga :   WHO dan India Akan Gelar KTT Global Kedua Pengobatan Tradisional di New Delhi

Setelah berhasil mencuri, timbul rasa lega atau kepuasan sesaat.

Namun, perasaan itu umumnya segera berubah menjadi rasa malu, bersalah, penyesalan, bahkan ketakutan akan tertangkap.

Menariknya, barang hasil curiannya sering kali tak berguna baginya.

Palaku bisa saja memberikannya kepada orang lain, atau bahkan mengembalikannya secara diam-diam.

Dorongan mencuri ini bersifat hilang-timbul dan tidak karena halusinasi, kemarahan, ataupun keinginan balas dendam.

Penyebab pasti kleptomania belum diketahui secara jelas.

Meski demikian, para ahli menduga adanya keterkaitan dengan faktor genetik dan ketidakseimbangan zat kimia otak, seperti serotonin dan dopamin.

Baca juga :   Kisah Epidemiolog Filipina dan Kursus Gratis WHO yang Mengubah Wajah Kesehatan Mental

Gangguan ini juga kerap muncul bersamaan dengan kondisi lain, termasuk depresi, kecemasan, gangguan suasana hati, gangguan kepribadian, hingga gangguan makan.

Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah dampak sosial maupun konsekuensi hukum.

Terapi perilaku kognitif, konseling keluarga, psikoterapi psikodinamik, serta terapi kelompok dapat membantu mengendalikan impuls.

Dokter juga dapat meresepkan antidepresan guna menstabilkan kadar serotonin.

Konsultasi dengan psikolog atau psikiater menjadi langkah tepat jika gejala mulai muncul.

Berita ini 15 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Kesehatan

Prabowo Tanggapi Kasus Keracunan MBG: Ini Masalah Besar, Akan Kita Selesaikan

Kesehatan

Memahami Kesehatan Mental dan Langkah Menjaganya Tetap Sehat
Masih Muda Kok Botak? Ini 7 Penyebab Rambut Rontok & Cara Ampuh Mengatasinya

Kesehatan

Masih Muda Kok Botak? Ini 7 Penyebab Rambut Rontok & Cara Ampuh Mengatasinya
Polemik Pemecatan dr. Piprim: Antara Independensi Profesi dan Disiplin ASN

Kesehatan

Polemik Pemecatan dr. Piprim: Antara Independensi Profesi dan Disiplin ASN
Mengenal Diabetes (Kencing Manis): Si 'Induk Penyakit' yang Sering Tak Terdeteksi (Cek Gejala 3P Disini!)

Artikel

Mengenal Diabetes (Kencing Manis): Si ‘Induk Penyakit’ yang Sering Tak Terdeteksi (Cek Gejala 3P Disini!)

Artikel

Minuman Alami untuk Atasi Sembelit, Ampuh dan Mudah Dibuat di Rumah

Artikel

Rahasia Tetap Cantik Meski Usia di Atas 50, Ini Tips Awet Muda

Kesehatan

Peduli Kesehatan! Warga Binaan Rutan Kelas IIb Sungai Penuh Jalani Pemeriksaan Kesehatan