Home / Internasional / Konflik

Jumat, 17 April 2026 - 14:59 WIB

Lalu Lintas Selat Hormuz Lumpuh 95%, Krisis Energi Global Mengancam Pasca Perang

koransakti - Penulis

koransakti.co.id- Jalur perdagangan energi paling vital di dunia, Selat Hormuz, kini menyerupai “kota mati”. Sejak pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada akhir Februari 2026, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut mengalami penurunan drastis hingga mencapai angka 95 persen.

Berdasarkan data pelacakan dari Kpler Risk and Compliance, tercatat hanya ada 279 kapal yang berani melintasi selat tersebut selama periode 28 Februari hingga 12 April 2026.

Angka ini menunjukkan kemerosotan tajam jika kita bandingkan dengan kondisi normal yang biasanya melayani rata-rata 100 kapal setiap harinya.

Dampak Blokade dan Gencatan Senjata yang Lesu

Meski kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran sudah berlaku sejak 8 April 2026, pemulihan jalur laut ini masih jauh dari harapan. Hingga saat ini, hanya 45 kapal yang terpantau beraktivitas keluar-masuk selat.

Situasi keamanan semakin mencekam setelah Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) secara resmi memberlakukan blokade maritim terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai Senin (13/4/2026). Kebijakan tegas ini menyasar kapal dari negara mana pun yang menuju atau berasal dari Iran, sesuai instruksi eksekutif Presiden Donald Trump.

Baca juga :   Minyak Iran dan Selat Hormuz

Ancaman Ranjau dan Jalur Baru IRGC

Pihak Teheran melalui Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) tidak tinggal diam. Sejak 2 Maret 2026, mereka memaksa kapal-kapal menggunakan rute alternatif melalui utara Pulau Larak. IRGC menutup jalur lama dengan alasan adanya risiko ranjau laut yang membahayakan navigasi.

Bahkan, pihak Iran memberikan peringatan keras akan membakar kapal yang melintas tanpa izin resmi.

Catatan Kelam: 22 Kapal Menjadi Sasaran Serangan

Selama konflik berlangsung, keamanan maritim berada pada titik nadir. Sebanyak 22 kapal tercatat menjadi korban serangan di berbagai titik perairan, mulai dari Uni Emirat Arab, Oman, hingga Irak. Berikut adalah beberapa insiden besar yang sempat terjadi:

  • 1 Maret 2026: Tanker Stena Imperative terbakar di perairan Bahrain.

  • 5 Maret 2026: Ledakan tanker Sonangol Namibe di Kuwait memicu tumpahan minyak.

  • 6 Maret 2026: Rudal menghantam kapal tunda Mussafah 2 di Oman hingga tenggelam dan menelan korban jiwa.

  • 11 Maret 2026: Serangan serentak terhadap empat kapal di UEA, Oman, dan Irak dalam satu hari.

Baca juga :   Harga BBM 30 April 2026 Melejit! Jenis Diesel Ini Tembus Rp25 Ribu per Liter

Dunia Menghadapi Guncangan Energi

Lumpuhnya Selat Hormuz memicu efek domino yang mengerikan pada ekonomi global. Pasokan minyak dan gas bumi (LNG) dunia merosot hingga 20 persen. Hal ini mengakibatkan harga minyak mentah melonjak tajam hingga 50 persen sejak perang bermula.

Negara-negara di kawasan Asia menjadi pihak yang paling menderita akibat ketergantungan tinggi pada pasokan dari Timur Tengah. Jika blokade terus berlanjut, stabilitas energi global terancam masuk ke dalam krisis terdalam sepanjang sejarah distribusi energi modern.***

Baca juga :

Berita ini 32 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Internasional

Kejutan Liga Europa: Nottingham Forest Tumbang di Kandang, Lyon Selamatkan Poin di Spanyol

Internasional

Analisis Rencana Damai Gaza Usulan Trump: Langkah Signifikan yang Penuh Rintangan

Internasional

Perubahan Sikap Mengejutkan, Trump: Ukraina Bisa Rebut Kembali Semua Wilayahnya

Breaking news

Di Ajang WAVES 2025 di India, Fadli Zon Sampaikan Industri Budaya

Hukum

Pengeroyokan Sekuriti GMC Berakhir Damai, Korban Resmi Cabut LaporanĀ 

Internasional

Presiden Prabowo Salat Iduladha 1447 H Bersama Diaspora Indonesia di Paris

Internasional

Geger! Mark Lee Keluar dari NCT dan SM Entertainment Setelah 10 Tahun

Internasional

Tren Mode Paling Berani di Red Carpet American Music Awards 2026