koransakti.co.id- Jalur perdagangan energi paling vital di dunia, Selat Hormuz, kini menyerupai “kota mati”. Sejak pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada akhir Februari 2026, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut mengalami penurunan drastis hingga mencapai angka 95 persen.
Berdasarkan data pelacakan dari Kpler Risk and Compliance, tercatat hanya ada 279 kapal yang berani melintasi selat tersebut selama periode 28 Februari hingga 12 April 2026.
Angka ini menunjukkan kemerosotan tajam jika kita bandingkan dengan kondisi normal yang biasanya melayani rata-rata 100 kapal setiap harinya.
Dampak Blokade dan Gencatan Senjata yang Lesu
Meski kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran sudah berlaku sejak 8 April 2026, pemulihan jalur laut ini masih jauh dari harapan. Hingga saat ini, hanya 45 kapal yang terpantau beraktivitas keluar-masuk selat.
Situasi keamanan semakin mencekam setelah Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) secara resmi memberlakukan blokade maritim terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai Senin (13/4/2026). Kebijakan tegas ini menyasar kapal dari negara mana pun yang menuju atau berasal dari Iran, sesuai instruksi eksekutif Presiden Donald Trump.
Ancaman Ranjau dan Jalur Baru IRGC
Pihak Teheran melalui Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) tidak tinggal diam. Sejak 2 Maret 2026, mereka memaksa kapal-kapal menggunakan rute alternatif melalui utara Pulau Larak. IRGC menutup jalur lama dengan alasan adanya risiko ranjau laut yang membahayakan navigasi.
Bahkan, pihak Iran memberikan peringatan keras akan membakar kapal yang melintas tanpa izin resmi.
Catatan Kelam: 22 Kapal Menjadi Sasaran Serangan
Selama konflik berlangsung, keamanan maritim berada pada titik nadir. Sebanyak 22 kapal tercatat menjadi korban serangan di berbagai titik perairan, mulai dari Uni Emirat Arab, Oman, hingga Irak. Berikut adalah beberapa insiden besar yang sempat terjadi:
1 Maret 2026: Tanker Stena Imperative terbakar di perairan Bahrain.
5 Maret 2026: Ledakan tanker Sonangol Namibe di Kuwait memicu tumpahan minyak.
6 Maret 2026: Rudal menghantam kapal tunda Mussafah 2 di Oman hingga tenggelam dan menelan korban jiwa.
11 Maret 2026: Serangan serentak terhadap empat kapal di UEA, Oman, dan Irak dalam satu hari.
Dunia Menghadapi Guncangan Energi
Lumpuhnya Selat Hormuz memicu efek domino yang mengerikan pada ekonomi global. Pasokan minyak dan gas bumi (LNG) dunia merosot hingga 20 persen. Hal ini mengakibatkan harga minyak mentah melonjak tajam hingga 50 persen sejak perang bermula.
Negara-negara di kawasan Asia menjadi pihak yang paling menderita akibat ketergantungan tinggi pada pasokan dari Timur Tengah. Jika blokade terus berlanjut, stabilitas energi global terancam masuk ke dalam krisis terdalam sepanjang sejarah distribusi energi modern.***
Baca juga :















