Home / Artikel

Minggu, 18 Januari 2026 - 19:43 WIB

BAHAN BAKAR NABATI UPAYA SETENGAH HATI 

koransakti - Penulis

edible oil processing plant

edible oil processing plant

DEDI ASIKIN

Koransakti.co.id- Berawal dari melonjaknya harga minyak dunia,(BBM FOSIL) .

Waktu itu harga minyak alam  sampai $130/perbarel. Padahal asumsi APBN kita 2026 hanya mematok harga $70 perbarel.

Problem yang mumet bagi pemerintah.

Problematikanya adalah sekedar menaikkan harga pasti di setujui IMF.

Organisasi negara donor itu emang begitu maunya. Tidak setuju memberikan subsidi BBM. Artinya mereka maunya pemerintah Indonesia menaikan harga BBM atau minimal tidak menaikan harga. Itu artinya harga BBM harus naik. Tapi kalau itu yang di lakukan rakyat akan marah.

Semua presiden takut kepada demo mahasiswa dan buruh dan semua presiden pernah menaikan harga BBM.

Ketika presiden Susilo Bambang Yudhoyono lagi pening, masuk usulan, mengganti Bahan bakar dari minyak fosil ke BBN (Bahan Bakar Nabati). Usul Itu datang dari beberapa pakar perminyakan. Antara lain, kalau tidak salah, ada Purnomo Yusgiantoro mantan menteri pertambangan era kabinet Suharto, dan Dr. Subroto mantan mentam dan Sekjen Opek, Organisasi para produsen, minyak (fosil) dunia.

BBN itu di sebut juga Bahan Bakar terbarukan yang bisa di buat/ di tanam sesuai kebutuhan. Konon di Indonesia ada 49 macam tanaman yang bisa di olah jadi BBN.

Sebut saja di antaranya singkong, jarak pagar, tebu merah, kayu manis, wijen, kelapa sawit wijen, tebu merah, randu, kayu manis, kopi Arab, jagung, Rosela, pepaya, beras dll.

Menteri ESDM Era akhir Jokowi Arfin Tasrif mengatakan persediaan minyak fosil kita hanya tinggal Untuk 9 tahun lagi

Memang seharusnya kita sudah alih olah dan pakai bahan bakar itu. Harus ada inovasi dan berbuat sesuat yang baru, untuk kepentingan masyarakat.

Lalu presiden (SBY) mengeluarkan Impres nomor 1: tahun 200 tentang pengadaan dan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai bahan bakar alternatif.

Setelah itu presiden juga mengeluarkan Perpres no 5 tahun 2006 tentan Kebijakan Energi Nasional.

Untuk mendukung kedua peraturan itu lalu dengan Kepres no 10 tahun 2006 Presiden membentuk tim nasional tentang Pengembangan BBN dan percepatan penanggulangan kemiskinan dan pengangguran.

Tugas utama tim adalah membuat blue print, (cetak biru) dan road map (peta jalan), sebagai acuan para stake holder.

Timnas telah merekomendasikan dua macam tanaman BBN sebagai pengganti BBM fosil. Keduanya adalah singkong dan jarak pagar.

Pertambangan lnya ke-dua jenis

Baca juga :   HALAL BIHALAL DARI PANGERAN SAMBER NYAWA SAMPAI TUKANG MARTABAK DARI INDIA

tanaman itu tidak memiliki nilai saing dengan bahan konsumsi, terutama jarak pagar. Ke-dua tanaman itu bisa di tanam di mana saja, di lahan kritis sekalipun, sementara, waktu itu Indonesia memiliki 24 juta hektar lahan kritis di beberapa wilayah.

Jarak pagar dapat tumbuh di pekarangan dan bantaran sungai dengan masa produksi sampai 50 tahun.

Berdasarkan rekomendasi tim itu presiden menyampaikan hal itu kepada para menteri dan kepala lembaga/ instansi  serta para kepala daerah agar bersiap memasuki era baru, era bahan akar baru dan terbarukan.

Bahkan presiden langsung menunjuk beberapa Mentri dan BUMN, sebagai lembaga pembina.

Belum berhenti sampai disitu Pemerintah juga sudah nerencanakan membangun 11 pabrik pengilangan biodiesel dan bio ethanol dari bahan baku singkong dan jarak pagar.

Baca juga :   Singkong Kini Tinggal Kenangan

Biayanya di perkirakan sekitar Rp 200 trilyun akan di tanggung renteng antara pemerintah/ APBN dengan konsorsium Bank Nasional.

Selain Itu di rencanakan penanaman 6 juta hektar singkong dan jarak pagar di beberapa daerah di seluruh Indonesia.

Tapi malang tak dapat di tentang. Semua rencana yang sudah di susun rapi itu tidak terwujud. Rakyat yang sempat tahu tentu kecewa. Padahal banyak manfaat yang dapat di petik.

Selain mengatasi kemelut BBM fosil yang nyaris terjadi setiap saat kenaikan harga BBM dunia, Indonesia pasti menerima imbasnya.

Kalau tidak, bisa rakyat yang marah kerena BBM naik. bisa bisa IMF menyetop bantuan kerena Indonesia tetap mempertahankan subsidi BBM.

Ternyata batalnya penggunaan BBM itu salah satunya kerena terjadi penurunan harga bahan bakar minyak dunia.

Padahal jika semua berjalan beberapa manfaat bisa di petik. Kemelut BBM yang selalu ada, pelan pelan berakhir dapat diatasi. Para petani punya garapan berkelanjutan. Angka pengangguran berkurang, karena untuk penanaman 6 juta hektar, dengan asumsi satu hektar di perlukan 6 orang tenaga kerja maka proyek BBN itu akan menyerap 36 juta pekerja.

Sayangnya itu proyek cuma setengah hati. Cuma bergerak ketika terdesak. Dan kembali San San (santai santai) jika musuh menjauh.

Sepertinya pemerintah sekarang sudah layak mikirin kembali tentang Bahan Bakar Nabati itu Siapa tahu kegagalan kemarin adalah sukses yang tertunda. ***

Berita ini 34 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Gak Pake Modal Tapi Bikin Meleleh! 25+ Ucapan Valentine 14 Februari 2026: Anti-Alay, Aesthetic, dan Cocok Buat Caption IG / Status WA

Artikel

Gak Pake Modal Tapi Bikin Meleleh! 25+ Ucapan Valentine 14 Februari 2026: Anti-Alay, Aesthetic, dan Cocok Buat Caption IG / Status WA

Artikel

Bapa Aing Mah Tegas, Jawa Barat No Sawit!
Pojok Sains: Kenapa Mengiris Bawang Bikin Mata Perih & Menangis? (Ada Senjata Kimianya!)

Artikel

Kenapa Potong Bawang Bikin Nangis? Ternyata Ada “Serangan” Asam Sulfat ke Mata Kita!

Artikel

Ekonomi Kurban: Katalis Pertumbuhan Inklusif dan Pengentasan Stunting
Kenapa Teflon Anti Lengket? Kenalan dengan PTFE (C2F4), Zat Paling "Introvert" yang Menolak Berteman!

Artikel

Kenapa Teflon Anti Lengket? Kenalan dengan PTFE (C2F4), Zat Paling “Introvert” yang Menolak Berteman!

Artikel

MEMPERINGATI HARI LAHIR TRITURA MEWARISKAN MARUAH KEJUANGAN 

Artikel

ISENG ISENG LAPOR, LAPOR ISENG ISENG

Artikel

Noviar Zen For Walikota Sungai Penuh 2024