Wartawan Boleh Menohok Dalam Berita Tapi Santun Didepan Meja
Koransakti.co.id- Saya merasa sangat tersanjung di selimuti rasa haru. Beberapa waktu lalu? teman dan adik saya H. Z. Anwar membuat pernyataan semacam testimoni.
Dia mengaku murid saya dalam profesi sebagai wartawan.
Padahal tidak demikian sebenarnya. Dia itu adik karena usianya 10 tahun di bawah saya, demikian pun memulai karir sebagai wartawan. Dia juga bilang saya ini sedikit bicara tapi banyak bekerja menunaikan tugas jurnalistik.
Kalau itu memang benar.
Saya berprinsip Wartawan itu boleh menohok membuka penyimpangan atau kesalahan para pejabat penyelenggara negara. Tapi harus tetap santun ketemu di depan meja. Dan cara itu yang saya lakukan.
Dengan cara itu kita jadi banyak teman dan relasi.
Waktu pertama di tugaskan ke Tasikmalaya untuk memimpin penerbitan Mandala Edisi Priangan saya langsung kenal dan dekat dengan bupati Husen Wangsaatmaja.
Di kodim dekat dan merasa di sayang oleh Dandim Letkol Utuy Sobandi. Tentara yang mau pensiun itu sangat ramah dan santun. Bicaranya pelan dan tertata rapi.
Dengan Kejaksaan Negeri Tasikmalaya juga kenal dekat dengan Ramelan, S,H. yang saat itu menjabat Kasi Penyidikan. Dengan Ramelan, saya sering konsultasi masalah hukum.
Di Pengadilan negeri saya dekat dengan semua hakim, Ketuanya Sunardi SH sangat baik. Dari hubungan baik itu saya ketiban rezeki.
Pada waktu tertentu terjadi kasus kredit macet terjadi pelelangan jaminan. Saya/ Mandala mendapat banyak order iklan. Pada gilirannya saya dapat kredit point dari pak Krisna Harahap SH.
Dalam kedudukan sebagai ketua Yakeswari Jawa Barat saya di beri jatah rumah di komplek wartawan Bale Endah. Satu satunya wartawan daerah yang mendapat jatah.
Dengan kenyataan yang saya alami, saya semakin taqlid pada pepatah bahwa banyak teman banyak rezeki
Semoga adikku. Anwar membaca tulisan Ini.
Saya ingin mati sebagai seorang wartawan. Jika maut datang menjemput katakan saya wartawan.***















