Home / Sains

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:58 WIB

Menilik Sejarah Waktu: Mengapa Satu Jam Harus 60 Menit dan Sehari 24 Jam?

koransakti - Penulis

koransakti.co.id- Pernahkah Anda bertanya-tanya saat menatap jam dinding, mengapa satu jam harus terdiri dari 60 menit? Mengapa kita tidak menggunakan angka yang lebih genap seperti 50 atau 100 agar lebih mudah di hitung?

Sistem penunjuk waktu yang kita gunakan hari ini ternyata bukan hasil kesepakatan modern yang muncul begitu saja. Sebaliknya, waktu yang kita jalani detik demi detik merupakan warisan kecerdasan dari peradaban kuno ribuan tahun yang lalu.

Yuk, kita selami perjalanan sejarahnya yang sangat menarik berikut ini!

Rahasia Angka 60: Warisan Matematika Bangsa Sumeria dan Babilonia

Alasan utama di balik angka 60 menit dalam satu jam bermula dari wilayah Mesopotamia kuno. Sekitar tahun 3500 SM, Bangsa Sumeria mengembangkan sistem bilangan unik berbasis 60, yang di kenal dengan istilah sexagesimal.

Mengapa mereka memilih angka 60? Jawabannya terletak pada fleksibilitas matematika. Angka 60 adalah angka terkecil yang bisa di bagi rata oleh banyak angka lain, yaitu:

  • 1, 2, 3, 4, 5, dan 6

  • 10, 12, 15, 20, dan 30

Kemudahan pembagian ini membuat perhitungan pecahan menjadi sangat praktis tanpa menghasilkan angka desimal yang rumit. Selanjutnya, sekitar tahun 2000 SM, Bangsa Babilonia mengadopsi sistem ini dan menerapkannya secara lebih terstruktur untuk membagi waktu serta lingkaran geometri (itulah mengapa satu lingkaran penuh memiliki sudut $360^\circ$).

Baca juga :   Menembus Sunyi Menuju Terang: Kisah Thomas Alva Edison Mengubah Dunia dengan 1.093 Paten

Alasan di Balik Angka 24 Jam dalam Sehari

Meskipun bangsa Babilonia mematangkan hitungan menit dan detik, pembagian waktu satu hari menjadi 24 jam justru lahir dari rahim Peradaban Mesir Kuno.

Bangsa Mesir menggunakan sistem bilangan berbasis 12 (duodecimal). Mereka memanfaatkan bayangan matahari dan rasi bintang untuk membagi hari dengan cara berikut:

  • 12 Jam Siang Hari: Mereka mengukur waktu siang menggunakan jam matahari (shadow clock) berbentuk huruf T yang membagi waktu dari matahari terbit hingga terbenam menjadi 12 bagian.

  • 12 Jam Malam Hari: Saat matahari terbenam, para astronom Mesir kuno mengamati pergerakan 18 bintang khusus di langit untuk menentukan pembagian 12 jam malam.

Ketika kedua waktu ini digabungkan, terciptalah siklus penuh 24 jam yang mencakup satu hari satu malam.

Penyempurnaan Kalender oleh Bangsa Romawi

Selanjutnya, sistem penanggalan dan pembagian waktu ini di adopsi oleh Bangsa Romawi pada masa pemerintahan Julius Caesar sekitar tahun 45 SM. Melalui sistem Kalender Julian, mereka merapikan hitungan waktu ini dan memperkenalkan konsep tahun kabisat. Langkah ini bertujuan untuk menyelaraskan antara kalender buatan manusia dengan rotasi bumi terhadap matahari yang sebenarnya.

Baca juga :   Kenapa Cokelat Enak Buat Manusia, Tapi Racun Mematikan Buat Anjing & Kucing? Kenalan dengan Theobromine (C7H8N4O2)!

Berkat kontribusi berantai dari berbagai peradaban besar di masa lalu, kita sekarang bisa menikmati sistem waktu yang sangat konsisten dan akurat di seluruh belahan dunia.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Mengapa kita tidak menggunakan sistem desimal (100 menit per jam) untuk waktu?

Sistem berbasis 10 (desimal) memang mudah untuk penjumlahan dasar, tetapi angka 100 hanya bisa di bagi rata oleh beberapa angka saja (2, 4, 5, 10, 20, 25, 50). Angka 60 jauh lebih fleksibel untuk membagi waktu menjadi seperempat jam (15 menit), sepertiga jam (20 menit), atau setengah jam (30 menit) tanpa pecahan rumit.

Siapa yang pertama kali membagi menit menjadi detik?

Bangsa Babilonia adalah yang pertama kali menerapkan sistem sexagesimal secara konsisten, yang kemudian menginspirasi pembagian satu menit menjadi 60 detik demi akurasi astronomi. (Asep)

Berita ini 7 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Bilogi

Tanpa Serangga, Akankah Peradaban Manusia Ikut Musnah?

Fakta Unik

Ternyata Bukan Kuning! Inilah Warna Asli Matahari dan Rahasia di Balik Cahayanya
Menguak Misteri "Pedas", Kenapa Capsaicin (C18H27NO3) Bikin Lidah Terbakar? (Dan Kenapa Air Es Gak Mempan!)

Artikel

Menguak Misteri “Pedas”, Kenapa Capsaicin (C18H27NO3) Bikin Lidah Terbakar? (Dan Kenapa Air Es Gak Mempan!)
Pojok Sains: Kenapa Kita Jadi Mudah Marah dan Galak Saat Sedang Lapar? (Kenalan dengan "Hangry")

Artikel

Pojok Sains: Kenapa Kita Jadi Mudah Marah dan Galak Saat Sedang Lapar? (Kenalan dengan “Hangry”)
Pojok Sains: Siap-siap Kalap Makan Besok Malam? Jangan Percaya Mitos "Detox Juice"! Tubuhmu Punya Mesin Pembersih Racun yang Lebih Canggih

Bilogi

Pojok Sains: Siap-siap Kalap Makan Besok Malam? Jangan Percaya Mitos “Detox Juice”! Tubuhmu Punya Mesin Pembersih Racun yang Lebih Canggih
Pojok Sains: Kenapa Lidah Gatal & Perih Saat Makan Nanas? (Ternyata Nanas Sedang 'Memakan' Lidahmu!)

Bilogi

Pojok Sains: Kenapa Lidah Gatal & Perih Saat Makan Nanas? (Ternyata Nanas Sedang ‘Memakan’ Lidahmu!)

Fakta Unik

Pesona Jay Punggung-Ungu: Sang Fotografer Hutan dari Pesisir Pasifik Meksiko
Kenapa Teflon Anti Lengket? Kenalan dengan PTFE (C2F4), Zat Paling "Introvert" yang Menolak Berteman!

Artikel

Kenapa Teflon Anti Lengket? Kenalan dengan PTFE (C2F4), Zat Paling “Introvert” yang Menolak Berteman!