Home / Fakta Unik / Sains

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:51 WIB

Rahasia Berat Awan: Mengapa Benda Seberat Ratusan Ton Bisa Melayang di Langit?

koransakti - Penulis

koransakti.co.id- Saat memandang ke atas, kita sering membayangkan awan sebagai gumpalan kapas raksasa yang tidak memiliki beban. Bentuknya yang mengembang dan bergerak tenang mengikuti embusan angin memancarkan kesan serba ringan. Namun, sains membuktikan fenomena yang bertolak belakang: benda indah di angkasa tersebut menyimpan bobot yang sangat fantastis.

Komposisi Pembentuk Awan

Awan bukanlah gas kosong, melainkan kumpulan triliunan tetesan air cair dan kristal es mikroskopis. Proses pembentukannya bermula ketika uap air membumbung ke atmosfer, mengalami penurunan suhu, lalu menempel pada partikel halus seperti debu, asap, atau garam laut. Partikel penampung ini dikenal sebagai inti kondensasi. Begitu uap air mengembun di sekeliling inti tersebut, gumpalan awan yang kasat mata pun mulai tercipta.

Menghitung Bobot Sebenarnya

Melalui data penelitian U.S. Geological Survey, sebuah awan cumulus berukuran memiliki kerapatan air sekitar . Jika kita mengalikan kerapatan tersebut dengan total volumenya yang mencapai , hasilnya menunjukkan bahwa awan tersebut menampung air seberat atau setara .

Massa air sebesar ini sebanding dengan volume . Fakta bahwa benda seberat puluhan ekor gajah ini dapat melayang santai di udara menjadi salah satu keajaiban fisika atmosfer.

Metode Para Ahli Mengukur Awan

Para ilmuwan tidak mengukur volume dan massa awan secara berspekulasi. Mereka mengombinasikan beberapa teknologi canggih:

  • Fotogrametri Terestrial: Mengambil gambar awan secara simultan dari dua titik koordinat berbeda untuk menghitung tinggi serta volumenya secara presisi.

  • Instrumen Ceilometer: Memancarkan sinar laser ke arah langit untuk mengukur jarak pantulan dari dasar awan secara akurat.

  • Satelit Penginderaan Jauh: Memanfaatkan sensor inframerah dan pemodelan termodinamika untuk memetakan luas, suhu, hingga ketebalan lapisan awan dari luar angkasa.

  • Pengamatan Meteorologi Konvensional: Mengukur tutupan awan menggunakan satuan okta yang dipadukan dengan data balon udara (radiosonde) untuk menghitung parameter tekanan dan kelembapan.

Variasi Berat dan Perubahan Bentuk

Tidak semua awan memiliki bobot yang sama. Jenis Cirrus menjadi awan paling ringan karena hanya terdiri dari kristal es tipis di zona tinggi. Sebaliknya, awan Cumulonimbus yang kerap membawa badai dapat menampung massa air hingga ratusan ribu ton.

Perubahan bentuk dan warna awan sendiri terjadi akibat dinamika alam. Angin kencang mendistorsi struktur awan dengan cepat, sementara pembiasan cahaya matahari pada sudut tertentu memunculkan gradasi warna jingga, merah, atau abu-abu gelap saat awan semakin padat.

Mengapa Awan Tidak Jatuh?

Meskipun menyimpan bobot ratusan ton, awan tidak mendadak jatuh menimpa bumi karena air di dalamnya terbagi menjadi triliunan tetesan yang sangat kecil. Luas permukaan tetesan air yang amat luas ini bergesekan dengan dorongan udara hangat yang terus membumbung dari permukaan bumi (updraft). Gaya angkat termal ini dengan mudah menahan tetesan air yang amat ringan tersebut tetap melayang, sampai akhirnya titik-titik air itu bergabung menjadi cukup besar dan berat untuk turun sebagai hujan. (Asep)

Baca juga:Pernahkah Kamu Melihat Air ‘Menari’ di Atas Daun Teratai? Ini Rahasia Ilmiahnya!

Berita ini 6 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Bilogi

Rahasia Kupu-Kupu Gatekeeper: Si Cantik Ber sayap Jingga yang Menggantungkan Hidup pada Cuaca
Bukan Hantu! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Mata Kucing Bisa "Menyala" Seperti Laser di Malam Hari. Kenalan dengan Cermin Alami: Tapetum Lucidum!

Artikel

Bukan Hantu! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Mata Kucing Bisa “Menyala” Seperti Laser di Malam Hari. Kenalan dengan Cermin Alami: Tapetum Lucidum!

Fakta Unik

Misteri Sosok Mona Lisa: Siapa Perempuan di Balik Lukisan Da Vinci?

Internasional

Update COVID-19 Global: Kasus Turun, tapi Angka Rawat Inap dan Varian XFG Meningkat
Kenapa Kue Bisa Mengembang & Martabak Jadi Bersarang? Kenalan dengan Soda Kue (NaHCO3), Si Peniup Adonan!

Artikel

Kenapa Kue Bisa Mengembang & Martabak Jadi Bersarang? Kenalan dengan Soda Kue (NaHCO3), Si Peniup Adonan!
Pojok Sains: Besok Cuma Ganti Angka, Kok Kita Yakin Nasib Bakal Berubah? Kenalan yuk sama "Optimism Bias", Fitur Otak yang Bikin Kita Bertahan Hidup!

Fakta Unik

Pojok Sains: Besok Cuma Ganti Angka, Kok Kita Yakin Nasib Bakal Berubah? Kenalan yuk sama “Optimism Bias”, Fitur Otak yang Bikin Kita Bertahan Hidup!
Pojok Sains: Kenapa Jari Jadi Keriput Setelah Mandi Lama? Ternyata Bukan Karena 'Masuk Angin'!

Fakta Unik

Pojok Sains: Kenapa Jari Jadi Keriput Setelah Mandi Lama? Ternyata Bukan Karena ‘Masuk Angin’!
Pojok Sains: Suka Minum Soda Pas Pesta? Ternyata Sensasi "Nyegrak" Itu Bukan Rasa, Tapi Reseptor Rasa Sakit! Ini Fakta Ilmiahnya

Fakta Unik

Pojok Sains: Suka Minum Soda Pas Pesta? Ternyata Sensasi “Nyegrak” Itu Bukan Rasa, Tapi Reseptor Rasa Sakit! Ini Fakta Ilmiahnya