Home / Edukasi / Kesehatan

Senin, 1 Juni 2026 - 09:47 WIB

Amankah Memanaskan Daging Berulang Kali? Ini Fakta Medisnya!

koransakti - Penulis

koransakti.co.id- Bagi banyak keluarga, memasak lauk daging dalam porsi besar menjadi strategi jitu untuk menghemat waktu dan mencegah pemborosan. Saat lauk tidak habis, kita terbiasa memasukkannya ke dalam kulkas lalu menghangatkannya kembali keesokan hari. Bahkan, ada pemeo di masyarakat bahwa beberapa jenis masakan daging justru terasa lebih gurih setelah berkali-kali di panaskan.

Namun, dari kacamata keamanan pangan, apakah kebiasaan ini benar-benar aman untuk kesehatan tubuh kita?

Sebenarnya, penentu utama keamanan makanan bukan terletak pada seberapa sering Anda menyalakan kompor untuk memanaskannya kembali. Faktor paling krusial adalah bagaimana Anda menyimpan daging tersebut, berapa lama makanan di biarkan di suhu ruang, serta apakah suhu pemanasan ulang sudah cukup kuat untuk mematikan kuman.

Mitos Beracun vs Fakta Pemanasan Ulang

Banyak orang percaya bahwa setiap kali kita menghangatkan makanan, hidangan tersebut otomatis berubah menjadi racun atau kehilangan seluruh nutrisinya. Faktanya, asumsi tersebut keliru.

Kita tetap bisa mengonsumsi daging sisa dengan aman asalkan menerapkan prosedur penyimpanan dan pemanasan yang tepat. Ketika Anda memanaskan kembali daging hingga mencapai suhu internal yang di anjurkan, suhu tinggi tersebut efektif membunuh sebagian besar bakteri pemicu keracunan.

Sebaliknya, pemicu utama kasus keracunan makanan biasanya bukan proses pemanasan ulangnya, melainkan kelalaian membiarkan makanan telantar terlalu lama di meja makan sebelum masuk ke kulkas. Kondisi lembap dan hangat inilah yang memicu ledakan populasi bakteri.

Waspadai Danger Zone (Zona Suhu Berbahaya)

Dalam dunia kuliner dan kesehatan, para ahli mengenal istilah danger zone atau zona suhu berbahaya, yaitu rentang suhu antara 4 hingga 60 derajat Celcius. Pada suhu sedemikian, bakteri patogen berkembang biak dengan kecepatan yang luar biasa.

Oleh karena itu, pastikan Anda tidak membiarkan daging matang berada di suhu ruang lebih dari dua jam setelah di masak. Jika cuaca dapur sedang sangat panas, batas waktu aman ini tentu menjadi lebih pendek lagi.

Peringatan Penting: Membiarkan lauk daging berlama-lama di meja makan akan mengundang bakteri berbahaya seperti Clostridium perfringens, Staphylococcus aureus, atau Bacillus cereus. Beberapa dari bakteri ini memproduksi racun (toksin) yang kebal panas. Artinya, sekadar memanaskan ulang tidak akan bisa menyelamatkan makanan yang sudah telanjur rusak sejak awal.

Berapa Kali Maksimal Daging Boleh Dipanaskan?

Secara ilmiah, tidak ada angka saklek yang melarang Anda memanaskan makanan secara berulang. Tidak ada aturan medis yang menyatakan daging aman di panaskan dua kali tetapi langsung beracun pada pemanasan ketiga.

Meski demikian, setiap kali makanan keluar-masuk kulkas dan melewati proses pendinginan serta pemanasan, risiko kontaminasi baru selalu mengintai. Risiko ini melonjak tajam jika Anda memanaskan satu panci penuh, mengambil sedikit, lalu memasukkan sisanya kembali ke kulkas.

Oleh sebab itu, para pakar kesehatan sangat menyarankan Anda untuk hanya mengambil porsi yang ingin dimakan, lalu memanaskan porsi kecil tersebut. Langkah bijak ini menjaga sisa makanan lain di dalam wadah penyimpanan tidak mengalami fluktuasi suhu yang merusak.

Dampaknya Terhadap Nutrisi dan Kualitas Daging

Apakah nutrisi daging akan ambrol akibat dipanaskan berkali-kali? Jawabannya: tergantung jenis nutrisinya.

  • Vitamin: Jenis vitamin yang sensitif terhadap suhu panas, seperti golongan vitamin B, memang akan menyusut secara bertahap setiap kali terkena panas. Namun, penurunan ini tidak langsung melenyapkan seluruh gizinya seketika.

  • Protein dan Mineral: Kandungan utama seperti protein, zat besi, dan zink tergolong sangat stabil terhadap panas. Meskipun struktur protein mengalami perubahan bentuk (denaturasi) selama proses memasak, tubuh kita tetap bisa menyerap manfaatnya dengan baik.

  • Kualitas Sensorik: Kerugian terbesar dari pemanasan berulang justru terletak pada tekstur dan rasa. Serat daging akan berubah menjadi lebih keras, kering, hambar, dan kehilangan aroma sedapnya.

Bagaimana dengan Ancaman Senyawa Kanker?

Memasak daging dengan suhu ekstrem—seperti membakar, memanggang langsung di atas arang, atau menggoreng kering—memang berpotensi memicu munculnya senyawa berbahaya seperti heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Dalam jangka panjang, akumulasi senyawa ini kerap dikaitkan dengan risiko kanker.

Namun, Anda tidak perlu panik. Munculnya senyawa ini lebih dipengaruhi oleh metode awal memasak, bukan karena proses menghangatkan makanan. Bahaya nyata mengintai jika Anda sering mengonsumsi bagian daging yang gosong atau hangus.

Di sisi lain, pemanasan berulang pada daging berlemak tinggi memang mempercepat proses oksidasi lemak. Meski mengubah rasa menjadi agak “tengik”, dampak pastinya terhadap kesehatan kronis masih terus diteliti oleh para ilmuwan.

Panduan Praktis Menyimpan dan Menghangatkan Daging dengan Aman

Untuk menjaga hidangan tetap higienis dan padat gizi, silakan ikuti langkah-langkah standar dari badan keamanan pangan dunia berikut:

  1. Segera Dinginkan: Masukkan daging matang ke dalam kulkas maksimal dua jam setelah dimasak. Jika porsinya besar, bagi daging ke dalam beberapa wadah kecil yang dangkal agar suhunya lebih cepat turun.

  2. Atur Suhu Kulkas: Pastikan kulkas Anda beroperasi pada suhu 4 derajat Celcius atau bahkan lebih rendah.

  3. Panaskan Hingga 74°C: Saat hendak menyantapnya lagi, panaskan daging hingga suhu internalnya menyentuh 74 derajat Celcius guna memastikan semua bakteri patogen mati. Jika menggunakan microwave, aduk daging secara berkala agar panasnya merata hingga ke bagian dalam.

  4. Terapkan Sistem Porsi: Hindari memanaskan seluruh isi panci. Ambil seperlunya, panaskan, dan biarkan sisanya tetap aman di dalam lemari es.

Kapan Lauk Daging Harus Dibuang?

Secara umum, makanan sisa yang disimpan di dalam kulkas hanya layak konsumsi dalam waktu tiga hingga empat hari. Lewat dari tenggat waktu tersebut, risiko perkembangbiakan bakteri merugikan akan meningkat drastis, meskipun tampilan luar makanan terlihat masih bagus.

Segera buang daging jika Anda mengendus bau asam, melihat permukaan daging berlendir, terjadi perubahan warna yang janggal, atau rasanya berubah aneh. Namun perlu diingat, sebagian bakteri beracun tidak mengubah rupa dan aroma makanan.

Oleh karena itu, jangan hanya mengandalkan indra penciuman. Jika Anda ragu dengan kesegaran daging tersebut, terapkan prinsip utama keamanan pangan: lebih baik membuangnya daripada menanggung risiko keracunan makanan.

Berita ini 7 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Kesehatan

Batuk Tak Kunjung Reda? Ternyata Bisa Dipicu Asam Lambung, Ini Solusi Ampuh Mengatasinya

Kebijakan

21 Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan 2026

Internasional

WHO Rilis Panduan Baru untuk Hentikan Kematian Akibat Pendarahan Pasca-Persalinan

Bencana

WHO: Kematian Akibat Kolera Melonjak 50 Persen, Krisis Global Berlanjut
Tips Kesehatan Perempuan Yang Wajib Dilakukan Agar Tetap Bugar, Cantik dan Percaya Diri

Gaya Hidup

Tips Kesehatan Perempuan Yang Wajib Dilakukan Agar Tetap Bugar, Cantik dan Percaya Diri

Artikel

Khasiat Daun Katuk: Daun Lokal dengan Segudang Manfaat untuk Kesehatan

Gaya Hidup

Rambut Cepat Lepek? Kenali 7 Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kesehatan

7 Alasan Mengapa Minum Segelas Air Hangat Setelah Bangun Tidur adalah Kunci Sehatmu!
error: Content is protected !!