Home / Artikel

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:33 WIB

APRESIASI UNTUK SWSI SENIOR BUKAN AKI AKI 

Dedi Asikin - Penulis

Dedi Asikin (Wartawan Senior)

Dedi Asikin (Wartawan Senior)

Koransakti.co.id- Sebagai wartawan tentu saya apresiatif sekali atas lahirnya Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) yang konon baru di cetuskan sejumlah wartawan senior.

Sebenarnya gejala lahirnya SWSI itu sudah nampak sebelumnya di gedung sate Bandung setahun lalu. Sejumlah wartawan tua memprotes sikap dan kebijakan gubernur Jawa Barat KDM ( Kang Dedi Mulyadi).

Katanya gubernur yang mendapat sebutan “Bapak Aing” itu tidak begitu suka mengajak serta wartawan jika berkegiatan. Kegiatan gubernur di cover staf dan hasilnya di posting langsung ke media sosial.

Deklarasi SWSI itu terjadi pada Hari Pers Nasional 9 Februari 2026 di gedung-P3B (Pusat Pemerintahan Provinsi Banten) dan itu kenyataan sejarah.

Saya cuma menyesal tidak bisa ikut ambil bagian dalam menciptakan sejarah itu. Faktor ku ( kesehatan dan usia) sangat menentukan. Sorry sorry to say buat semua teman teman yang ikut memecah kemeriahan di bumi Sultan Tirtayasa itu.

Baca juga :   Kaum Rebahan Merapat! Hobi Baca Novel Bisa Jadi Saldo DANA Gratis Lewat Aplikasi Fizzo Novel. Terbukti Membayar di 2026!

Bagi saya senior Itu bukan karena tua. Senior Itu bukan karena sudah aki aki. Senior itu harus di nilai dari kinerja secara kuantitas dan kualitas dan jam terbang yang panjang tatkala mengarungi dunia jurnalistik, dan telah teruji integritasnya terhadap profesi.

Bagaimana integritasnya terhadap profesi.

Pada masa lalu ada diantaranya yang layak masuk senior semisal Rosihan Anwar. Dia itu wartawan investigasi yang berani mengkritisi pemerintah yang terkenal otoriter. Akibatnya koran mereka di bredel.

Belakangan ada Aristides Katopo, pemimpin redaksi surat kabar Sinar Harapan. Ahmad Taufik wartawan Tempo yang giat investigasi.

Tentu tidak boleh di lupakan Gunawan Muhammad sendiri dan pemimpin redaksi majalah Tempo. Kebenaran menyampaikan hasil investigasi menyebabkan majalah yang bermoto “Enak di baca dan Perlu” itu pernah di larang terbit.

Ada beberapa wartawan yang berhak di sebut senior yang lahir belakangan. Seperti Harmoko mantan Pemred Pos Kota, Atang Ruswita wartawan Pikiran Rakyat yang sering menulis hasil perjalanan ke luar negeri.

Baca juga :   Statemen KDM Bikin Resah Insan Pers, Sebut Tak Perlu Kerja Sama Media

Saya juga ingin menyebut nama Prof. Dr. H Krisna Harahap,SH., MH. Setelah semasa jadi pemimpin redaksi Harian Mandala masuk PNS, Jadi dosen, guru besar dan Hakim agung.

Fenomenal sekali, ia menjabat hakim agung selama 17 tahun. Menurut saya beliau layak masuk kelas wartawan Senior

Kalau saya? Cuma wartawan aki aki saja bukan senior.

Rasanya ngeri-ngeri sedap di panggil wartawan senior mah. Jauh tanah dari matahari, bagai punguk merindukan bulan. Masih banyak tentu wartawan lain yang layak di panggil wartawan senior.

Saya ingin mengusulkan agar organisasi SWSI di lengkapi dengan Dewan Kehormatan. Tugasnya menyeleksi penerimaan anggota dan berhak memberhentikan anggota jika ada yang melanggar azas dan etika termasuk melanggar AD/ART.

Selamat berjuang SWSI

Berita ini 31 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

PAK KANWIL NYARIS MASUK

Artikel

Mengenal Aksara Incung, Aksara Kuno Kerinci yang Hampir Terlupakan

Artikel

Tata Cara Sholat Nisfu Syaban dan Keutamaannya.

Artikel

Padi Abadi Inovasi Revolusioner  Ilmuwan Cina

Artikel

KATA UNESCO MINAT BACA MASYARAKAT INDONESIA SANGAT RENDAH 

Artikel

Terkumpul Hingga Miliaran, Lazisnu Kabupaten Bandung Diarahkan Mencontoh Lazisnu Kabupaten Cilacap

Artikel

Bank Mandiri Apes: Blokir Rekening Nasabah

Artikel

LIMA KUR RUMUS PERSATUAN DAN KESATUAN ALA GUBERNUR AANG KUNAEFI