Home / Artikel

Selasa, 16 Desember 2025 - 08:31 WIB

NASI LIWET DAN TUMIS KANGKUNG

koransakti - Penulis

Oleh: DEDI ASIKIN

Koransakti.co.id- H. Uton Fathoni teman saya sesama anggota Pokja wartawan liputan Kemenag suka menggunakan istilah kastrologi untuk mengibaratkan solidaritas sesama santri

Zaman dahulu santri itu inhren (indentik) dengan kegiatan ngaliwet, masak dengan media/alat kastrol

Maka itulah Uton menyebutnya dengan istilah kastrologi.

Secara umum kegiatan yang me legenda itu nyaris sudah punah. Di beberapa Pondok yang sudah maju dengan santri ribuan sudah diganti dengan catering. Atau beberapa kelompok santri memakai jasa ibu ibu yang tinggal di sekitar pondok.

Waktu acara tour de pasantren kami sekitar tahun 2015, kami masih menemui budaya liwet itu.

Dari 40 Pondok di Jawa Barat yang kami kunjungi itu ada pondok Al falaqiyah desa Cikoneng kabupaten Sumedang, Darus surur kota Cimahi dan Cintapada di kota Tasikmalaya.

Baca juga :   Singkong Kini Tinggal Kenangan

Di Darus surur ada 20 orang santri yang biasa memasak nasi liwet Cuma alatnya sekarang sudah berubah, tidak menggunakan katrol tapi dengan katel. Asep yang sering kebagian tugas ngaliwet menyebut katel itu bisa di pakai untuk 1,5 liter beras dan cukup untuk 8 orang santri. Yang belanja bahannya Rois (santri senior)

Kami makan cuma nasi liwet dan tumis kangkung ujar Asep tersipu-sipu.

Di Cintapada kota Tasikmalaya kebiasaan masak itu terjadi hampir setiap malam Jum’at sekalian tasyakur ucap pimpinan pondok KH Achmad Fauzie.

Baca juga :   Soal Isu Kipas Angin Rp 1,8 Triliun : Penting ada kejelasan ditengah efisiensi anggaran

Secara kebetulan acara makan liwet di Cintapada itu persis ketika kami berada dan memiliki tidur di pasar di Cibeureum (dekat Lanud Wiriadinata kota Tasikmalaya).

Bari liwet plus lauk pauk goreng ayam dan goreng ikan plus tak ketinggalan tumis kangkung, di letakkan di atas daun pisang yang berderet sekitar 10 meter.

Pada waktunya seluruh santri duduk berhadapan di tengah makanan di atas daun pisang itu. Setelah membaca doa bersama , maka mulailah mereka meyerbu makanan itu. Pimpinan pondok beberapa orang ustadz dan kami di ajak serta

Nikmat, kata Eka Purwanto setelah menyikat makanan dengan lahap. Mukanya merah kepedasan.

Berita ini 79 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

Mengupas Tuntas Mitsubishi Xpander Cross: Mobil Keluarga Berjiwa Petualang
Mau Komisi Jutaan? Cara Daftar Shopee Affiliate 2025 Tanpa Minimal Followers

Artikel

Nggak Perlu Stok Barang! Modal Share Link Baju Lebaran & Hampers di WA Bisa Cair Jutaan Rupiah, Begini Cara Main Shopee & TikTok Affiliate 2026!

Artikel

BAHLIL KOK KAYA BAHLUL

Artikel

MIMPI DAN MATI SAMA SAMA MISTERI

Agama

AL-AZHAR DI ISBAT DARI NAMA PUTRI ROSUL

Artikel

KAMI BAWA DUKUNGAN DAN PENTUNGAN, SEBUAH WAWANCARA IMAJINER

Artikel

Panduan Lengkap Update ‘HoK Gokil!’: Hero Baru Umbrosa, Mode Ultimate Awakening, dan Hadiah Gratis

Artikel

Bosan Makan Mie Instan Gitu-gitu Aja? Coba 5 Resep ‘Naik Kelas’ Ini!