Koransakti.co.id- Si Maestro jurnalistik wartawan, sastrawan politikus dan ulama itu lahir di Betawi alias Jakarta tanggal 21 Juli Tahun 1933. Ayahnya Mohammad Djunaidi adalah ulama NU Meles. Pernah jadi anggota DPR pasca pemilu 1955.
Mahbud masuk SMP ketika ikut ayahnya pindah ke Solo. Di sana bakat sastrawan mulai tampak.
Cerpen pertamanya Tanah Mati di muat majalah Kisah pimpinan HB Yasin. Dedengkot Sastra angkatan pujangga baru itu memuji Mahbub punya talenta wartawan dan sastrawan .
Di Jakarta sepulang dari Solo masuk ke SMA Budi Utomo.
Di SMA itulah bakat menulis artikel di kembangkan. Gaya tulisannya itu lain dari yang lain.
Ia menggunakan gaya bahasa sederhana, renyah, dan enak di baca. Selain satir (yang menyindir) juga ada kritis. Tegas tapi humanis.
Kuantitas dalam menulis hingga ia sering di juluki pendekar pena.Keberaniannya mengkritik dalam tulisan, ia juga di juluki dengan adagium si burung parkit di kandang macan.
Ia berani mengkritik bung Karno ketika akan menerapkan sistim demokrasi dan ekonomi terpimpin.
Bung Karno tidak marah bahkan mengagumi tulisan tulisan si Mahbub.
Dia juga mengkritik Suharto karena otoriter. Suharto marah. Akibatnya tahun 1978 si burung parkit di tangkap dan di tahan selama setahun tanpa peradilan. Akibat penahanan dengan bentakan keras para petugas dan antek Suharto berpengaruh besar pada kesehatan jasmani.
Ia mulai di serang hipertensi atau darah tinggi. Tapi tidak dengan semangat menulisnya Ia terus menulis. Harian Kompas memberi tugas mengisi rubrik asal usul selama sembilan tahun.
Terlalu banyak kerja dan Kurang tidur menyebabkan penyakit nya bertambah parah. Ia wafat pada tahun 1995 di Bandung dalam usia 62 tahun. Jenazahnya di makamkan di pemakaman Assalam Caringin kota Bandung.
Saya pernah nyoba ngelmu kepada sang maestro. Salah satu judul bukunya Humor Jurnalistik, saya beli dan baca sampe ujung.
Tulisannya renyah kaya kerupuk Ciamis.
Kritiknya tegas tetapi santun. Yusuf Kalla menyebut kritik Mahbub itu ibarat di pukul rasa di rangkul. Mantan Wakil presiden itu mengaku 40 tahun bersahabat dengan Mahbub. Sering di kritik. Tapi JK cuma nyengir jika mereka membaca kritikannya.
Selain Wartawan mahbub juga organisator politikus dan ulama.
Ia tercatat sebagai pendiri dan ketua umum pertama PMII. Sempat juga memimpin Ansor.
Sebagai wartawan sempat jadi ketua umum PWI ( 1975-1970). Mahbub juga pernah menjadi anggota DPR berkat jabatannya sebagai wakil ketua umum NU.
Saya ini termasuk yang ngelmu teu kataekan.
Tapi Alhamdulillah tidak sampai ODGJ (Orang Di duga Gangguan Jiwa)
Ih, amit amit jabang Tutuka.***
Baca juga: Stakato Gaya Dalam Irama Musik dan Sastra
MAHBUB DJUNAIDI SI BURUNG PARKIT DI KANDANG MACAN MENGKRITIK DENGAN TABIK














