Home / Artikel

Selasa, 19 Mei 2026 - 05:41 WIB

Stakato Gaya Dalam Irama Musik dan Sastra

Dedi Asikin - Penulis

Dedi Asikin (Wartawan Senior)

Dedi Asikin (Wartawan Senior)

Menulis Berawal dari Kebiasaan Membaca

Koransakti.co.id- Saya ini memang senang menulis, Bagi saya, kebiasaan membaca adalah instrumen utama untuk menulis. Orang perlu mengetahui banyak hal sebagai referensi tulisan.

Saya mulai menulis sejak SMP kelas dua di SMP II Tasikmalaya. Saat itu, Saya masuk perkumpulan Ikatan Kunrum Mekar, sebuah ruang sastra dan budaya bagi anak muda di harian Pikiran Rakyat Bandung.

Ruang itu di asuh redaktur PR, Yunus Winoto dan teh Ami Raksanagara, putri bapak Adur Raksanagara yang waktu itu menjabat Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Selain itu, di Tasikmalaya saya juga aktif dalam Ikumtas (Ikatan Kuntum Mekar Tasikmalaya).

Pengalaman Sastra dan Dunia Kreatif

Dalam perjalanan menulis, saya pernah memenangkan lomba cerpen yang di selenggarakan  majalah berbahasa Sunda, Mangle tahun 1958.

Baca juga :   Safwandi Tegaskan: Mendapo Sudah Ada Sebelum Kolonial Belanda, Bukan Produk Penjajahan

Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang kemudian memperkaya cara pandang saya terhadap sastra dan bahasa.

Memahami Stakato dalam Musik dan Sastra

Dalam sastra dan musik dikenal istilah Stakato atau staccato.

Dalam musik,  Staccato yaitu ketukan ketukan pendek dan cepat pada piano, gitar atau biola. Temperamennya cepat seperti irama mars, tuk …tuk …tuk.

Sementara itu, dalam sastra, Stakato di kenal sebagai pembuatan Kalimat pendek. Maksudnya  sederhana dengan kalimat pendek, tulisan menjadi lebih mudah di baca dan di pahami.

Tentang gaya stakato dalam tulisan atau berita, saya mendapat pembelajaran ketika mengikuti KLW (Karya Latihan Wartawan) selama sebulan di wisma Dirga Niaga, Cipayung, Kabupaten Bogor, tahun 1976.

Belajar dari Gaya Mahbub Djunaidi

Dalam dunia menulis, sebenarnya saya mengidolakan sekaligus ingin belajar dari gaya Bang Mahbub Djunaidi.

Baca juga :   Kenduri Sko: Pesta Rakyat dan Jati Diri Masyarakat Adat Kerinci

Walaupun gaya menulis “si burung parkit di kandang macan” itu kadang mengabaikan gaya stakato, tulisannya tetap enak di baca dan mudah di pahami.

Enaknya, bagi saya, seperti menikmati galendo Ciamis, tauco Cianjur, atau ulen Sukaraja.

Namun demikian, saya tidak pernah bisa meniru gaya tokoh NU yang kultural sekaligus struktural itu.

Mitos, Istilah, dan Guyonan Sunda

Di tatar Sunda ada mitos “Mun ngelmu teu kataekan” katanya orang  seperti itu suka ada kelainan. Sekarang  muncul pula istilah ODGJ (Orang Diduga Gangguan Jiwa)

Ih…amit-amit jabang tutuka. ***

Baca juga: Mengenang Donny Fattah: Pilar Kokoh dan Pencipta Roh Musik Rock God Bless

 

Berita ini 17 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

PT Timah Dorong Kemandirian Disabilitas Lewat Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan

Artikel

Sahal Cuma Ingin Jadi Santri Malah Punya Pondok Pesantren 
Review & Cara Dapat Uang dari Fizzo Novel 2025: Baca Cerita, Cair ke DANA (Terbukti Membayar)

Artikel

Kaum Rebahan Merapat! Hobi Baca Novel Bisa Jadi Saldo DANA Gratis Lewat Aplikasi Fizzo Novel. Terbukti Membayar di 2026!

Artikel

Wartawan Harus Punya Strategi Agar Narasumber Mau Bicara 
Garena Free Fire FF

Artikel

Trik Rahasia 2026: Cara Bikin Nama FF Spasi Kosong (Invisible Name), Auto Tampil Beda dan Misterius!
Menguji Nyali Lewat Rumus "Lima AT" Menjadi Wartawan Hebat

Artikel

APRESIASI UNTUK SWSI SENIOR BUKAN AKI AKI 
Kumpulan Piano Sheet Roblox Terbaru Oktober 2025: Sampai Jadi Debu, Wildflower, Glimpse of Us

Artikel

Piano Roblox Sheet Lagu ‘Sampai Jadi Debu’ (dan Lagu Viral Lainnya!)

Artikel

Karhutla Ulah Manusia: 108.000 Hektar Hutan Terbakar