koransakti.co.id – Militer Israel mulai menarik pasukannya dari sebagian wilayah Gaza setelah perjanjian gencatan senjata dengan Hamas resmi berlaku pada Jumat (11/10/2025) pagi. Gencatan senjata ini merupakan fase pertama dari rencana perdamaian yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump dan telah disetujui oleh pemerintah Israel.
Seiring dengan penarikan pasukan, ribuan warga Palestina terekam kamera berjalan kaki kembali ke wilayah utara Gaza yang telah hancur lebur akibat bombardir Israel selama berbulan-bulan.
Detail Gencatan Senjata dan Penarikan Pasukan
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan mereka telah mundur ke posisi yang disepakati, yang disebut sebagai “garis kuning”. Meskipun begitu, mereka masih menguasai sekitar 53% wilayah Jalur Gaza.
Berdasarkan kesepakatan, fase pertama ini mencakup beberapa poin krusial:
- Pembebasan Sandera: Hamas memiliki waktu 72 jam (hingga Senin siang) untuk membebaskan semua sandera Israel yang tersisa, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.
- Pembebasan Tahanan: Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan sekitar 250 tahanan Palestina yang menjalani hukuman seumur hidup, serta 1.700 warga Palestina dari Gaza yang ditahan.
- Bantuan Kemanusiaan: Perjanjian ini juga mengamanatkan agar 600 truk bantuan per hari bisa masuk tanpa hambatan ke Jalur Gaza untuk mengatasi krisis kelaparan yang parah.
Warga Kembali ke Puing-puing Kehancuran
Meskipun gencatan senjata membawa secercah harapan, pemandangan pilu terlihat saat ribuan warga Palestina kembali ke rumah mereka. Banyak dari mereka berjalan kaki lebih dari 20 km sambil membawa sisa-sisa harta benda mereka.
“Jalannya panjang dan sulit, tidak ada makanan atau air,” kata Alaa Saleh, seorang guru yang berjalan kaki kembali ke Kota Gaza.
Banyak dari mereka menemukan rumah mereka telah hancur menjadi puing-puing. “Meskipun rumahnya hancur, meskipun hanya puing-puing, kami akan kembali, mendirikan tenda, dan kembali ke rakyat kami,” ujar Wael Al-Najjar, warga lainnya, kepada seorang pekerja lepas BBC.
Reaksi dari Berbagai Pihak
- Israel: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan ia “memenuhi” janjinya untuk membawa pulang semua sandera. Namun, ia menegaskan bahwa tahap selanjutnya dari rencana Trump adalah “Hamas akan dilucuti senjatanya dan Gaza akan didemiliterisasi”.
- Hamas: Di sisi lain, Hamas menyatakan mereka menolak “perwalian asing” di Gaza dan menegaskan bahwa pemerintahan di wilayah tersebut adalah murni urusan internal Palestina.
- Keluarga Sandera: Di Israel, keluarga para sandera menyambut kabar gencatan senjata dengan suka cita. Namun, kelegaan mereka bercampur dengan kecemasan, terutama setelah Hamas mengakui tidak mengetahui lokasi semua jenazah sandera.
Perang di Gaza dipicu oleh serangan pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel. Sejak saat itu, serangan balasan Israel telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas.
read on bbc Ceasefire comes into force as Israel’s military pulls out of parts of Gaza















