Koransakti.co.id, Jakarta- Pemerintah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas produksi dan harga ayam serta telur menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Komoditas unggas di nilai krusial karena menjadi sumber protein utama masyarakat dan berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan usaha peternak.
Sebagai tindak lanjut arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menggelar koordinasi bersama asosiasi perunggasan dan Satgas Pangan Polri di kantor Ditjen PKH, Kamis (22/1/2026).
Pertemuan tersebut membahas pengamanan pasokan, pengendalian harga, serta komitmen pelaku usaha dari hulu hingga hilir agar tidak terjadi gejolak pasar.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Achmad Dawami mengatakan ketersediaan ayam dan telur dalam kondisi aman.
Produksi anak ayam atau day old chick (DOC) broiler nasional saat ini mencapai sekitar 70 juta ekor per minggu, sementara produksi telur berada di kisaran 14 ribu ton per hari.
“Dari sisi pasokan, baik ayam maupun telur aman untuk menghadapi Ramadan dan Lebaran,” ujarnya.
Meski demikian, Dawami mengingatkan potensi kelebihan produksi pada periode Maret hingga Juli.
Jika produksi DOC meningkat pada Maret, ayam broiler akan di panen pada April atau setelah Lebaran. Kondisi tersebut di nilai berisiko menekan harga di tingkat peternak.
Ia meminta pembibit menyesuaikan produksi dengan permintaan pasar.
“Kalau harga jatuh, yang akan terkena dampaknya peternak dan pemerintah juga yang akhirnya di demo,” kata Dawami.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Kementerian Pertanian Hary Suhada menyampaikan kesepakatan harga DOC untuk menghadapi HBKN.
Pembibit di imbau menjual DOC final stock (FS) layer dengan harga kewajaran maksimal Rp11.000 per ekor, sedangkan DOC FS broiler maksimal Rp7.000 per ekor.
Selain DOC, pemerintah juga mendorong stabilisasi harga di tingkat produksi.
Hary menyebut harga ayam hidup atau livebird di targetkan berada di kisaran Rp21.000–Rp23.000 per kilogram. Adapun harga telur ayam ras di jaga tetap berada di atas Harga Pokok Produksi (HPP) agar keberlanjutan usaha peternak tetap terjaga.
Dari sisi pengawasan, Satgas Pangan Mabes Polri menyatakan akan mengawal rantai pasok unggas mulai dari hulu hingga konsumen.
Kepala Tim Satgas Pangan Mabes Polri Brigjen Pol Djoko Prihadi mengatakan pengawasan di lakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga DOC serta produk unggas.
Ia juga menyebut Satgas Pangan tengah mengawal evaluasi kebijakan harga yang akan di tinjau kembali oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas).**
Anggota Satgas Pangan Polri lainnya, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho, menyoroti pentingnya pengawasan distribusi DOC agar rantai pasok lebih ringkas. Menurut dia, keberadaan distributor yang tidak terkendali berpotensi menaikkan harga sebelum DOC sampai ke peternak.
“Distributor harus di awasi dan berkomitmen tidak menaikkan harga, jangan sampai beban justru jatuh ke peternak, terutama peternak UMKM,” tegasnya.
Pemerintah berharap kesepakatan ini dapat menjaga keseimbangan antara perlindungan peternak dan keterjangkauan harga bagi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.
Pemerintah menegaskan akan memberikan sanksi sesuai kewenangan apabila kesepakatan tersebut tidak di patuhi.**
Baca juga: Menteri Pertanian Pastikan Stok dan Harga Pangan Aman Saat Nataru















