Oleh : DEDI ASIKIN
Koransakti.co.id- Sultan atau pangeran Tenggono raja ke tiga kerajaan Islam Demak. Dia yang bertahta dua kali (1505-1513 dan 1521-1646) berhasil mengusir Portugis dari Sunda kelapa. Sikap politiknya setelah ikut mengakhiri kejayaan kerajaan Hindu Majapahit, sukses pula mengusir tentara Portugis dari Sunda kelapa,(Jakarta).
Waktu itu Portugis mendapat izin dari raja Pajajaran (prabu Siliwangi) untuk menduduki Sunda kelapa. Sikap politik Sultan Tenggono yang anti kolonialisme dan penindasan suatu bangsa atas bangsa lain menyebabkan dia menyerang Portugis ke Batavia (Jakarta).
Sebagai panglima perang, tahun 1527, Fatahillah atau di kenal juga dengan nama Paletehan menyatukan tiga pasukan yaitu Demak, Cirebon dan Banten untuk menyerang Sunda kelapa dan berhasil membuat Portugis hengkang dari sana.
Setelah itu Sunda Kelapa berubah nama menjadi Jayakarta cikal bakal nama Jakarta yang sekarang kita kenal. Trenggono yang juga di kenal dengan nama pangeran Nurullah dan merupakan seorang dari sembilan wali (Wali songo), pergi ke Cirebon, mendirikan pondok pesantren dan kemudian terkenal dengan nama Sunan Gunung Jati.
Penerus Sunan Gunung Jati adalah anak cucu dan murid muridnya yang kemudian menyebar ke berbagai tempat bahkan sampai luar Cirebon. Salah satunya kiyai Mukhoyim.
Kiyai itu sejatinya keluarga dekat Sultan Kanoman. Ketika Belanda menguasai kesultanan dan Mukhoyim tidak suka Politik kiyainya tumbuh di situ. Lalu ia hengkang meninggalkan kesultanan.
Bersama murid muridnya akhirnya sampai ke Buntet sebuah desa di kecamatan Astana kecamatan Astanajapura sebelah timur kabupaten Cirebon dan mendirikan pesantren yang sekarang menjadi pesantren besar dan telah melahirkan banyak kiyai dan pesantren seperti Benda Kerep dll
Salah satu tokoh Nasional yang lahir di sana adalah Prof Agil Siradj yang sempat jadi Ketum PBNU.
Pangeran trenggono wafat ketika sedang memimpin perang melawan kerajaan Pamanukan pada tahun 1546.















