Oleh : DEDI ASIKIN
Koransakti.co.id- Kiyai Politik itu secara umum lahir dari rasa kebangsaan, anti kolonial.
Kiyai ingin agar kebijakan dan keputusan-keputusan negara sejalan dengan aqidah dan syar’i Islam. Kerena itu pasca reformasi banyak kiyai masuk Senayan di Jakarta, beberapa sempat terpilih menjadi anggota legislatif (DPR). Bahkan beberapa menteri kabinet partai sendiri.
Abdurrahman Wahid dengan dukungan Nahdatul ulama mendirikan Partai Keadilan yang kemudian bertransformasi menjadi Partai Keadilan Bangsa (PKB).
Zaenudin MZ mendirikan Partai Bintang Reformasi ((PBR)
Amien Rais membentuk Partai Amanat Nasional (PAN). Nur Mahmudi dan kawan kawan mendirikan Partai Keadilan yang berubah jadi partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Semua partai partai itu mengsjuber azas Islam. Namun kenyataannya harapan mereka ingin mewarnai produk politik sesuai dengan nafas Islam, tak terpenuhi. Kualitas dan kuantitas mereka tak cukup kuat untuk menentukan keputusan parlemen. Kata lawan politiknya biar anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Emang gua pikirin . Demokrasi kita ini tidak menganut prinsip benar atau salah tapi pada menang atau kalah
Lama lama mereka merasa jengah terus duduk disana.
Tidak mau terus terusan mendapat stigma dengan semboyan duduk dengar dan duit akhirnya satu persatu mereka amit mundur. Zaenudin MZ kembali ke bidang dakwah. Gus Dur Kata Yeni Wahid di kudeta keponakannya Muhaimin Iskandar. Nur Mahmudi, malah merasa kepalang basah, ikut Pilkada dan terpilih jadi walikota Depok. Kemudian sempat ditunjuk Gus Dur jadi menteri Kehutanan.
Jadi secara umum Politik kiyai dan kiyai politik layu sebelum berkembang















